
Tips Bisnis
Gratiskan Jualan Anda !
Oleh : AA
Rabu, 07 Oktober 2009 17:19 WIB
.
“Cara jualan kamu kuno !” Demikian kata seorang pengusaha senior kepada
saya ketika kami sedang berbuka puasa bersama, bulan Ramadan lalu. Saya
tergagap. Wah, baru kali ini ada yang mengatakan demikian tentang model
bisnis saya. Tapi berhubung beliau jauh … jauh … jauh … lebih
berpengalaman dibanding saya, dengan usaha yang skala nya ratusan kali
lipat usaha saya, saya tidak punya pilihan lain selain mendengar
kritikan beliau. Saya menahan nafas menunggu kalimat beliau berikutnya.
Beliau
menambahkan, “Kalau kamu bisnis IT, nyuruh pelanggan beli produk, itu
bisnis jaman dulu”. Saya mulai paham. Karena beberapa pelanggan saya
ada yang memang menggunakan pola pembayaran bulanan atau sewa. Tidak
mau kalah saya langsung berkomentar: “Kalau sewa atau bayar biaya
bulanan bagaimana Pak?” Beliau menjawab: “Itu lebih baik. Tapi itu
sekarang juga sudah kuno!” Nah ini bikin saya kaget lagi. “Yang gak
kuno gimana dong Pak?”, saya makin penasaran. “Yang gak kuno itu kalau
pelanggan gak usah bayar !.” Nyaris saya lompat dari kursi. Gratis?
Musti bayar gaji karyawan dari mana? Beliau hanya tertawa-tawa, membuat
saya makin penasaran.
Seolah “Law of Attraction” bekerja keras
untuk saya. Dua minggu kemudian tanpa sengaja saya nemu buku baru karya
salah satu penulis favorit saya Chris Anderson, judulnya: “Free: The
future of radical price”. Ya, pengusaha senior tadi ternyata benar!
Masa depan ternyata ada pada harga nol, alias gratis. Pelanggan gak
usah bayar.
Semua Serba Gratis
Tidak
dapat disangkal, virus gratis memang sudah menjalar kemana-mana. Kita
sekarang bisa dengan mudah mengakses internet di mall-mall melalui
infrastruktur hot-spot gratis. Saya menggunakan laptop dengan OS Linux
Ubuntu yang dibagi-bagikan gratis oleh Canonical, mengetik dengan
word-processor OpenOffice yang disediakan gratis oleh Sun Microsystem,
menggunakan browser Firefox yang gratis, menggunakan layanan email
gratis dari Google, chatting gratis melalui Yahoo Messenger dan
mengakses jaringan seperti Facebook secara gratis. Malah kalau online
nya di bandara, kopi yang menemani saya online pun gratis, komplimen
dari lounge yang disponsori penerbit kartu kredit yg saya pakai. Chris
Anderson malah mengetik seluruh isi buku nya melalui aplikasi Google
Docs, word processing gratis yang disediakan online oleh Google.
Tunggu
… kenapa yang gratis hanya layanan-layanan yang terkait dengan
internet? Oh tidak. Diluar itu Anda juga dengan mudah menemukan produk
atau layanan gratis atau sangat murah. Memang tidak semua sudah
tersedia di Negara kita. Beberapa tahun lalu, kalau ingin pasang
antenna parabola di rumah, kita harus membayar cukup mahal. Sekarang
antenna parabola “dipinjamkan” oleh provider layanan siaran TV melalui
satelit. Modem bisa kita peroleh gratis jika kita berlangganan
broadband. Hampir semua penerbit kartu kredit sudah menggratiskan iuran
tahunan-nya. Low cost airlines telah merevolusi dan mempelopori
penjualan tiket pesawat terbang sangat murah atau bahkan gratis. Di
Negara-negara maju, daftar produk gratis ini semakin banyak. Anda dapat
memiliki handphone dengan gratis, tentu dengan kontrak berlangganan
tertentu. Memiliki laptop gratis, dengan berlangganan akses broadband.
Singkat kata semua ada versi gratis nya, bahkan mobil gratis pun ada.
Kalau majalah gratis sudah sangat biasa, Di Tokyo, malah ada toko yang
menyediakan 5 item gratis untuk setiap pengunjungnya, mulai dari lilin,
mie instan, sampai krim wajah.
Makan Siang Gratis Memang (Pernah) Ada
Anda
tentu pernah mendengar ungkapan “tidak ada makan siang gratis”.
Ungkapan ini sebenarnya berasal dari jaman Cowboy di Amerika Serikat.
Pada waktu itu banyak Saloon, tempat nongkrong orang Amerika jaman
dulu, yang menyediakan makan siang gratis untuk menarik pengunjung.
Makan siang nya memang benar-benar gratis. Tapi pengunjung harus bayar
mahal untuk yang lain-lain, seperti minuman, permainan kasino, sewa
kamar, dsb.
Bagi-bagi produk gratis juga awalnya dilakukan oleh King
Gillette, pencipta silet cukur pertama di dunia. Jaman dahulu pria
bercukur dengan pisau cukur lipat yang tidak praktis, harus sering di
asah, dsb. Ide menggunakan pisau cukur super tipis yang tidak perlu
diasah, tapi dibuang jika sudah tumpul, adalah ide baru yang awalnya
sulit dipahami. Gillette pun membagikan secara gratis sebagai marketing
gimmick produk lain, dengan harapan pengguna baru yang menyukai ide ini
selanjutnya akan membeli. Misalnya bekerjasama dengan bank, pisau baru
Gillette dijadikan bonus bagi pembuka rekening tabungan. Dan Gillette
benar, lambat laun pisau cukur Gillette dikenal dan kemudian mendunia
hingga hari ini.
Jell-O, dessert paling popular di Amerika juga
awalnya sulit untuk dijual. Peter Cooper, penemu makanan dari gelatin
ini kesulitan memperkenalkan produk baru nya. Baru setelah produk ini
dipasarkan oleh genius pemasaran dan orator Francis Woodward, Jell-O
menemukan tempatnya di pasar. Woodward bukan membagikan produk ini
secara gratis. Namun mencetak dan membagikan buku resep gratis untuk
memberi ide kepada calon pelanggan, bahwa Jell-O sangat praktis dan
dapat disajikan dengan berbagai variasi. Woodward yang membeli lisensi
Jell-O hanya seharga $450 sukses besar.
Dari Kelangkaan Menuju Keberlimpahan
Model
gratis a la Saloon, Gillette dan Jell-O adalah model-model gratis abad
lalu, yang hingga sekarang masih sering digunakan. Namun, abad 21 telah
menciptakan model bisnis gratis baru. Model bisnis yang digerakkan oleh
kemudahan dan teknologi.
Plastik pada awalnya dirancang sebagai
produk eksklusif. Riset dan produksinya memerlukan biaya mahal. Plastik
juga lebih kuat dan tahan lama disbanding kayu. Jadi sudah selayaknya
produk dari plastic dijual mahal. Namun, kita lihat hari ini, plastic
demikian berlimpah ada dimana-mana. Plastik pada akhirnya menjadi
komoditas yang berlimpah dan murah.
Barang elektronik modern
tumbuh pesat setelah transistor ditemukan. Pada awalnya transistor
adalah barang langka yang mahal. Tahun 1961 harga 1 buah transistor
adalah $ 10. Kurang dari 10 tahun harga nya sudah tinggal $1 sen. Dan
hari ini, sebuah microchip yang setara dengan 2 milyar transistor hanya
dijual $ 300, atau 0.000015 sen per transistor. Hal yang sama terjadi
juga untuk kapasitas penyimpanan disk dan juga bandwidth, yang semakin
lama semakin murah. Inilah yang kemudian memicu revolusi digital yang
merubah cara pandang pengusaha dalam mencari revenue.
Ketika
sebuah produk telah menjadi komoditi yang “terlalu murah untuk
dihargai”, maka kita tidak lagi bisa mengandalkan harga produk sebagai
sumber revenue kita. Harga sangat terkait dengan kelangkaan, sementara
yang kita hadapi adalah keberlimpahan.
Gratis? Dari Mana Uangnya?
Menjalankan
usaha memang tetap harus berorientasi pada profit, yang sumber nya
adalah revenue dikurangi cost. Model bisnis gratis pada dasarnya
melakukan kreatifitas pada sumber revenue, bukan menghilangkan revenue.
Jika semula revenue semata dari harga jual, maka dengan prinsip
keberlimpahan, kita coba mencari revenue dari sumber lain. Beberapa
model bisnis yang ada adalah:
Subsidi Silang Langsung
Ini
model generasi pertama. Revenue dari sumber lain memberikan subsidi
silang untuk item yang sengaja dibuat lost. Misalnya, gratis handphone,
tapi bayar talktime. Gratis antenna parabola, bayar biaya langganan.
Gratis software, bayar hardware. Dsb. Termasuk model bisnis yang
digunakan Canonical yang membagikan OS Ubuntu Linux secara gratis.
Software nya memang gratis, tapi jika perusahaan kemudian butuh jasa
konsultasi, training dan implementasi Ubuntu resmi dari Canonical,
perusahaan tersebut harus membayar mahal.
Subsidi Pihak Ketiga
Ini
model bisnis yang digunakan Radio, TV dan Majalah Gratis. Pelanggan
gratis, tapi pemasang iklan bayar. Digunakan juga oleh penerbit kartu
kredit yang menggratiskan iuran, tapi memberikan charge yang mahal ke
merchant. Diskotik juga menjadi pelopor model ini melalui program
“ladies night”. Gratis untuk pengunjung wanita, tapi pengunjung pria
membayar.
Freemium
Ini model yang sering digunakan perusahaan
konsultan dan teknologi informasi. Gratis untuk versi yang generic,
tapi membayar untuk versi premium. Bisa juga divariasikan dengan modul.
Untuk modul terbatas gratis, modul yang lebih lengkap bayar. Gratis
untuk konsultasi awal, bayar untuk jasa konsultasi yang lebih lengkap.
Gratis untuk overview seminar, bayar untuk training yang lebih lengkap.
Nonmonetary
Ini
yang 100% gratis. Jasa yang diberikan sama sekali gratis. Imbalan yang
diterima penyedia jasa adalah perhatian dan reputasi. Dan dengan
reputasi yang semakin meningkat, dikenal dimana-mana, banyak hal yang
bisa dilakukan untuk mendatangkan revenue. Musisi yang memberikan karya
nya secara gratis dan memperoleh reputasi dan perhatian, dapat
menghasilkan revenue dari konser-konser ataupun penjualan merchandise
nya.
Sebelum Menggratiskan Jualan Anda
Oke
… oke, mungkin kedengarannya masih menakutkan untuk menggratiskan
begitu saja jualan Anda. Memang ada beberapa hal yang harus
diperhatikan sebelum Anda menggratiskan jualan Anda:
Pertama,
Sesuaikan dengan model bisnis yg ada sekarang. Anda harus analisa
baik-baik dari mana sumber revenue Anda. Secara umum menggratiskan
jualan Anda dimaksudkan untuk memperbesar revenue, bukan mengurangi
revenue. Kalau Anda jualan baju dan membagi-bagikan begitu saja produk
terbaru Anda, sulit dibayangkan untuk mendapat revenue yang lebih
besar. Tapi jika Anda member subsidi pada asesoris dan membagikan
gratis sebagai gimmick untuk memperoleh pelanggan yang lebih banyak,
jauh lebih masuk akal. Atau mungkin yang bisa digratiskan adalah
catalog, newsletter atau buku kecil tentang bagaimana memanfaatkan
produk Anda secara maksimal.
Kedua, gratis akan efektif jika
sifatnya masal, melibatkan crowd yang besar. Karena dengan biaya yang
sudah ditetapkan, maka semakin besar pelanggan terlibat, biaya per
pelanggan akan semakin kecil hingga nyaris nol. Membagikan software
gratis kepada 100 orang atau 1 juta orang akan sangat berbeda. Maka
Canonical dengan Ubuntu nya rajin mengirim CD gratis. Dalam ekonomi
digital eksistensi produk kita di pasar akan sangat tergantung pada
atensi dan reputasi. Gratis adalah senjata untuk mencapai dua hal
tersebut.
Saya menutup buka bersama dengan pengusaha senior yang
saya ceritakan di depan dengan perasaan puas. Beliau menceritakan
dengan detil “resep rahasia” menggratiskan layanan IT beliau, dan tetap
memperoleh revenue dari tempat lain. Sebelum kami berpisah, beliau
mengucapkan kalimat: “Oh ya, kalau semua sudah gratis, gratis pun jadi
kuno. Harusnya pelanggan gak usah bayar, malah dibayar!” Waduh …. (FR)
Sumber : http://fauzirachmanto.blogspot.com/2009/10/gratiskan-jualan-anda.html
Selasa, 22 Juni 2010 22:10 WIB
oks bgt tipsnya n infonya.aku suka pemikiran yg gokil tp efeknya dahsyat n positif.
19 Juni 2010 19:46 WIB
ilmu baru untuk saya....
^_^ trima kasih....
Rabu, 02 Juni 2010 14:28 WIB
mantappp
Selasa, 01 Juni 2010 19:25 WIB
teorinya sangat masuk akal menurut saya, dan bisa diterapkan untuk bisnis kami nantinya di http://refanet.blogspot.com
Senin, 24 Mei 2010 09:58 WIB
Wah menarik sekali isi blog Anda yang satu ini! :D Nanti kalau ada info yang menarik lagi bagi-bagi lagi ya!
Senin, 17 Mei 2010 08:49 WIB
wah bagus tuch artikelnya,sangat membantu saya tuk terus mengembangkan bisnis baju,....
Jumat, 14 Mei 2010 15:01 WIB
good
Rabu, 12 Mei 2010 23:09 WIB
ide yang bagus jualan gratis tapi yang beli dibayar contohnya kalau artis pakai baju merek/logo perusahaan kita saat show kan kita yang bayar..........he.......he..........salam dahsyat.
Rabu, 12 Mei 2010 08:05 WIB
salut ide gratisnya, semoga bermanfaat bagi yang mulai usaha
Selasa, 11 Mei 2010 13:14 WIB
Hi TDA,
Saya kagum dengan artikel TIPS diatas dan semoga dapat saya aplikasikan untuk usaha saya....
Jumat, 07 Mei 2010 14:39 WIB
saya suka tulisan terakhir dan kayanya perlu dicetak tebal tuh.. Kalau semua sudah gratis, gratis pun jadi kuno. Harusnya pelanggan gak usah bayar, malah dibayar.. ckckckck :D
Kamis, 06 Mei 2010 17:14 WIB
Amazing!
Kamis, 06 Mei 2010 09:56 WIB
cukup inspiratif, dan patut dicoba...!!
Minggu, 25 April 2010 14:30 WIB
wah ini benar-benar membuka area otak bisnis saya, saya selama ini merasa kesulitan melakukan promosi jualan saya, saya jualan ayam tulang lunak di Cirebon, yg 3 bln ini pmzet turun terus bahkan sampai nombok....saya bingung mau gimana lg agar bs survive...dg ini saya mulai terbuka kembali apa yg hrs sy lakukan utk bangkit....mksh bayak pak fauzi.. mhn support sy trs pa ke email : enjokjun@gmail.com ato HP. 0818232869
sy juga py CV yg bergerak bidang IT di Cirebon : Sistem Informasi Puskesmas (SIMPUS), Sistem Informasi keperawatan (SIMKEP), Sistem Informasi Akademik (SIAK) pembuatan lab bahasa... trs kalo produk cv sy seperti itu gmn cara mengratiskannya ya pa....mksh
Rabu, 21 April 2010 16:01 WIB
dear all,
Ban bocor atau kempes selalu menimbulakan berbagai akibat negatif dari yang kecil seperti, kecapaian menuntun motor, terlambat kerja, dimarah atasan, dimarah konsumen, sampai yang lebih parah seperti kecelakaan dimana taruhannya adalah nyawa (lihat gambar diatas). ...Bagaimana mengatasinya?? TIRE-TECH satu-satunya jawaban yang tepat. !!! TIRE TECH® adalah sebuah formula yang didesain secara khusus untuk melindungi ban kendaraan agar tidak kempis jika tertusuk paku atau benda tajam lainnya pada saat ban sedang berputar, baik dalam kecepatan rendah maupun tinggi. TIRE TECH® menjaga ban tidak kempis dalam waktu yang lama* tanpa perlu menambal bagian yang tertusuk, dan dapat diaplikasikan baik pada ban dalam maupun ban tubeles. TIRE TECH® dengan aman melindungi ban walaupun tertusuk beberapa kali* tanpa harus mengganti atau menambalnya, kecuali ban tersebut sobek / meletus. BISNIS DAHSYAT. Produk teruji dan gampang dijual. Pangsa pasar luas dan repeated order sangat tinggi. Dicari Agen di seluruh Indonesia untuk pemasaran produk kami ini. Untuk lebih lengkapnya silahkan hubungi kami
info lanjut klik facebook : rudi atmodikorohadiningrat... Lihat Selengkapnya
MUHAMAD CHOERUDIN
tire tech consultant
081328111127 mobile
Selasa, 20 April 2010 08:20 WIB
wah ide bagus..nih!
sebagai strategi awal bukan hal yang Mustahil.
Senin, 19 April 2010 18:08 WIB
wow!!, luar biasa!!
ternyata selama ini saya telah terlalu jadul
makasih atas inspirasi nya
hidup gratis
Senin, 19 April 2010 11:13 WIB
woooww mantab, betul-betul inspiratif sekali.. kami dari alitpin.com sudah mulai mencoba mengGRATISkan ongkos kiriman Jabodetabek dan gratis air oxy 1botol untuk cod, ud mulai kerasa sekali peningkatan revenue nya, dahsyat
mampir ke facebook kami http://fb.alitpin.com
Minggu, 18 April 2010 11:20 WIB
topik yang sangat menarik ... mungkin suatu saat nanti saya ingin mengratiskan hotspot yang saya akan bangun dengan keuntungan membeli produk IT di toko saya ....
Semoga ini bisa menjadi inspirasi bagi yang lainnya
http://http://brohenk.wordpress.com
Jumat, 16 April 2010 01:27 WIB
Sangat menarik, tantangan ini, seperti yang ingin untuk istri saya kerjakan. Membagikan NASGOR KANTONG (nasi Goreng Ikan Tongkol) pada lingkungan 1 RW diperumahan kami, sebelum kami bersiap2 untuk menjualnya.
Thanks Tipsnya, semakin meyakinkan saya, BAGIKAN GRATIS, BUKA WARUNGNYA, BARU JUALAN.
(Tapi mau jual mobil dulu, yg udah nggak sanggup bayar cicilannya, sisanya, buat modal NASGOR KANTONG).