Login | Register
Tentang TDA Visi, Misi & Nilai Founder Susunan Manajemen Struktur Organisasi Partner
List Event
Website Blog Garment IT Umum
Statistik Anggota TDA FAQ
.
JEJAK PENDAPAT
Apakah anda optimis bisnis anda akan tumbuh ditengah krisis keuangan global saat ini
Ya
Tidak
Tidak Tahu
  [Hasil]
Arsip Polling
CARI DATA
Kategori:
Kata Kunci:


Kolom TDA
Bookmark and Share
 Print    Kirim Ke Teman
Yusuf Mansur, Ustadz yang Mengajarkan Bermimpi
Oleh : Wahyu
Senin, 07 Desember 2009 07:05 WIB
.

Terus terang, saya jarang menonton acara kuliah Subuh yang banyak ditayangkan televisi di pagi hari.

Entah mengapa, selesai shalat pagi ini saya menghidupkan TV dan kebetulan ada 3 penceramah di 3 saluran berbeda: Ustad Jeffry Albukhory, Mama Dedeh dan Ustadz Yusuf Mansur di TPI. Saya pilih Yusuf Mansur, karena kebetulan adalah teman sendiri.

Saya ikuti tuturannya. Ia bercerita dengan rileks dan gaya bercerita yang sederhana, tapi isinya mendalam. Tentang kekuatan impian yang didukung oleh kekuatan doa dan amalan-amalan sunnah lainnya.

Seorang anak yang tinggal 400 km dari kota, tanpa listrik tanpa telepon dan miskin punya keinginan bersekolah di Amerika.

Amerika?

How come? Jauh sekali dan nyaris tak ada sedikit pun kemungkinannya melihat kondisinya saat itu.

Sang ibu mendukung dengan luar biasa. Ia tidak mampu mendukung impian anaknya itu kecuali dengan doa dan shalat tahajjud.

Dengan petunjuk Allah si anak itu diterima kerja sebagai guide, karena ia tinggal di daerah pantai. Dengan bahasa Inggris yang sangat minim, ia meng-guide seorang profesor dari Amerika yang sedang melakukan penelitian.

Sang profesor kepincut dengan sikap dan keinginannya yang tinggi untuk bersekolah. Singkat cerita, sang profesor membantunya mewujudkan impiannya dengan menjadi penjamin, menjadikannya asisten dan bahkan menyediakan tempat tinggal.

Kuliah S-1 pun dijalaninya di Amerika, S-2 di Jerman, S-3 di Jepang dan sekarang sedang menjalani post doctoralnya alias S-4. Subhanallah. Itulah bukti kekuatan impian.

Ustadz Yusuf pun bertanya kepada jamaah, siapa saja yang punya impian bersekolah ke luar negeri? Cuma satu yang mengacungkan jarinya. Ia ingin sekolah ke Jerman. Mayoritas jamaah duduk diam termangu. Sikap itu adalah sikap mayoritas dari bangsa kita yang tidak berani bermimpi. Itulah, masalah orang Indonesia, kata beliau. Bermimpi saja tidak berani, padahal gratis.

Selain Aa Gym, baru kali inilah ada ustadz lain yang mengangkat tema seperti ini. Saya cukup surprise menonton tayangan ini. Jarang sekali penceramah agama bercerita hal-hal yang seperti ini kecuali soal ibadah, surga neraka.

Yusuf Mansur adalah ustadz yang motivator ulung. Kita butuh banyak orang seperti ini. Indonesia sedang terpuruk. Bangsa ini perlu dibangkitkan, terutama mentalnya. Bangsa Indonesia adalah bangsa garuda yang terjebak di kandang ayam. Mereka tidak berani terbang tinggi karena mengira dirinya adalah ayam karena teman-temannya adalah ayam semua.

Saya pernah menonton acara pagi seperti ini di Malaysia. Bedanya, di Indonesia setiap pagi kita disuguhi berita-berita negatif dan infotainment yang isinya sampah, di sana acara adalah Motivasi Pagi, berisi nasihat-nasihat spiritual plus motivasi positif. Jarang sekali ada tayangan negatif di sana.

Di Amerika ada ribuan orang berprofesi sebagai motivator. Bahkan sudah ada asosiasinya dan punya majalah sendiri. Tak heran, Amerika menjadi bangsa yang maju seperti itu. Di Indonesia dengan penduduk 230 juta, berapa banyak motivator sepert ini? Masih bisa dihitung dengan jari.

Kemarin saya melihat billboard film Sang Pemimpin yang segera tayang pertengahan bulan ini. Novelnya yang ditulis oleh Andrea Hirata sudah saya lahap dalam waktu 1 hari saja! Ini buku masterpiece setelah Laskar Pelangi dan harus dibaca oleh siapa pun. Bagi yang pernah menonton atau membaca The Secret, film Sang Pemimpi ini menggambarkan dengan jelas bagaimana kekuatan impian dan The Law of Attraction itu bekerja pada diri Ikal dan Aral yang membawa mereka sekolah ke Sorbonne, Perancis.

Siapa motivator anak-anak miskin dari Belitung ini? Salah satunya adalah seorang guru bahasa Indonesia yang mengatakan bahwa mereka harus bercita-cita tinggi, harus sekolah ke Perancis. Betapa dahsyatnya kekuatan kata-kata sang guru itu.

Saat ini pun saya hampir menamatkan novel Negeri 5 Menara karya A. Fuadi yang berkisah kurang lebih sama, tentang kekuatan impian dan kesungguhan mengejarnya. Lima orang lulusan pesantren Gontor yang sukses “jadi orang” berkat kekuatan impian yang mereka pupuk plus kekuatan kata-kata “man jadda wa jadda”, siapa yang bersungguh-sungguh pasti akan berhasil.

Ustadz Yusuf Mansur, Andrea Hirata, A Fuadi adalah para motivator dengan caranya masing-masing. Orang-orang seperti ini kita butuhkan dalam jumlah yang banyak di negeri yang sedang terpuruk secara mental ini. Lihat saja, betapa malunya bangsa kita melihat kelakuan para petinggi yang merusak mental ini. Inspirasi dan motivasi apa yang kita dapatkan dari menonton tayangan saling mempermalukan diri itu?

Kita realistis saja. Diri sendiri, anak dan keluarga kita yang bisa kita pengaruhi. Kenalkan mereka dengan kekuatan impian. Pancing impian mereka dan jadilah pendukung mereka untuk mewujudkannya. Ciptakan lingkungan yang positif bagi terwujudnya impian mereka. Jangan biarkan mereka kenal sinetron dan mengkonsumsi pulsa dan menyia-nyiakan waktu, ujar Ustadz Yusuf yang beberapa waktu lalu batal berkunjung ke rumah saya karena tertimpa musibah. Insya Allah, lain kali ya Ustadz… Antum adalah motivator ane…

Salam FUUUNtastic! SuksesMulia!
Wassalam,

Roni, Owner Manet Busana Muslim, Founder Komunitas TDA (member of Indonesia Entrepreneur Association, IdEAS),

Follow me on Twitter @roniyuzirman

(whd)





Nama :
Email :
Link URL :
Komentar :
Pin  
   
Input pin diatas
   


1 | (1 page)
Posted By : Iwan
Rabu, 26 Mei 2010 00:14 WIB
wahh tulisan mas Wahyu benar-benar mencerahkan saya, yang bermimpi menjadi pengusaha sukses seperti Bill Gate,,semoga banyak juga Wahyu2 yang lain yang bisa menulis tulisan yang inspiratif..
Posted By : setyo
Kamis, 06 Mei 2010 12:10 WIB
saya juga punya impian ingin memberangkatkan haji alm bapak saya, ibu saya, kedua mertua saya, serta saya dan istri saya.
saat ini saya sedang berusaha mengejar impian tersebut..
semoga dapat terlaksana, amin...!!!
Posted By : Gunawan
Jumat, 16 April 2010 18:11 WIB
Pada awal th 80an, ketika masih bekerja di puskesmas di pedalaman Kalimantan Barat yg tidak punya listrik, saya juga bermimpi sekolah ke Amerika. Dengan banyak sholat tahajud dan puasa sunah, alhamdulillah, impian tersebut terlaksana juga.
Impian selanjutnya adalah bikin rumah bersalin buat dhuafa, setelah jadi impian hampir selama 5 th lebih, insya Allah bulan Mei akan mulai operasional. Impian selanjutnya adalah bikin RS buat dhuafa, sekarang masih jadi impian, tapi alhamdulillah sudah ada yg menawari tanah wakaf seluas 3000 m.
Posted By : Gangan
Jumat, 29 Januari 2010 21:36 WIB
Aim high......., nice
Posted By : djelita ocktavia
Selasa, 29 Desember 2009 13:10 WIB
Bagaimana mau menjadi kenyataan ,,klo mimpi saja tidak pernah,,,,so mimpi itu penting dan harus.Mimpi adalah kunci kata penyanyi top NIDJI..........JANGAN TAKUT UNTUK BERMIMPI.MIMPILAH!!!!!!!!!!!!
Posted By : Surya
Minggu, 13 Desember 2009 11:54 WIB
Kekuatan mimpi...
Mimpi hanya bisa berhasil jika kita punya SEMANGAT MEMBARA untuk mewujudkannya. Sebenarnya orang-orang Indonesia pada punya mimpi, tapi mereka nggak punya semangat untuk mencapainya.
Utungnya saya sedang memupuknya... Semoga impian saya tercapai... Amiiin
Posted By : arief herlangga
Kamis, 10 Desember 2009 19:11 WIB
Subhanallah..sungguh ini cerita yang menggetarkan hati,saya adalah hamba Allah yang sedang berusaha mengejar impian...
semoga menjadi kenyataan..Amin.
Posted By : hera yuliana
Rabu, 09 Desember 2009 22:20 WIB
memang benar... jangan takut bermimpi... wong mimpi itu gratis kok.. karena sesuatu yang besar bisa berawal dari mimpi yang besar ..
Posted By : -adhit-
Rabu, 09 Desember 2009 20:59 WIB
Artikel yang bagus pak :), jarang ada ustadz yang memberikan ceramah tentang hal ini. Memang bangsa ini perlu banyak motivator ulung agar dapat membebaskan diri dari 'rasa takut' untuk bermimpi :).

1 | (1 page)