Sebarkan berita baik ini

Masa pandemi sepertinya tidak akan selesai dalam waktu dekat. Kasus yang semakin hari semakin bertambah tinggi dan juga tidak adanya penanganan serius dari pihak pemerintah merupakan beberapa alasan lain mengapa pandemi seperti tidak akan selesai pada waktu yang singkat. Masa pandemi seperti ini pastinya membuat kondisi ekonomi di Indonesia yang semakin lama semakin menurun. Dimulai dari penjualan produk yang tidak lancar dikarenakan kekuatan beli masyarakat yang semakin lama dan berujung pada potensi resesi yang sudah mengancam di depan mata. Sebagai pelaku usaha wajib untuk beradaptasi terhadap situasi ini, banyak cara yang dilakukan seperti halnya penjualan lewat online, marketing yang dilakukan lewat online, dan pemberlakuan work from home untuk para pekerja. Hal ini semua dilakukan agar dapat menyesuaikan diri dengan situasi. Pada salah satu episode Insight From Expert by TDA TV, akan dibahas bagaimana cara terbaik untuk dapat selamat pada masa krisis seperti ini dan bagaimana menghadapi situasi seperti ini sehingga usaha dapat berkembang bukan merosot. Dipandu oleh host kawan TDA Yusuf Erlangga selaku Wakdir TDA Markom 5.0 & TDA Bekasi dan akan diisi oleh narasumber yang kaya akan pengalaman Yuswhohandy yang menjabat sebagai Managing Partner di perusahaan Inventure.

Pada masa pandemi ini, usaha yang akan disasar pasti adalah sektor bisnis UMKM. Hal ini dikarenakan UMKM tidak memiliki omset besar yang bisa di bertahan hingga beberapa bulan. Berbeda dengan industri besar seperti Indomie, Toyota, sampoerna dll mereka memiliki cadangan omset yang besar sehingga mereka dapat bertahan untuk waktu yang lama jika terjadi sebuah bencana. Tetapi UMKM mempunyai keuntungan atau kelebihan dibandingkan bisnis industri, kelebihan UMKM terletak pada agility atau kata lainya adalah kemampuan untuk berpindah pindah usaha. Contoh, bisnis UMKM yang bergerak dalam kuliner mereka tidak bisa survive jika mereka tidak dapat mengganti usaha mereka menjadi yang lain. Mengapa UMKM dapat melakukan perpindahan usaha yang lebih flexible? hal ini didukung oleh faktor pekerja yang lebih sedikit dan cakupan bisnis mereka yang lebih kecil dibandingkan bisnis Industri. Sedangkan jika bisnis Industri mencoba untuk mengganti meskipun hanya model bisnisnya saja maka itu akan berimbas besar terhadap karyawan dan struktur bisnis mereka. Sehingga bisa dikatakan bahwa bisnis industri lebih firm dan kaku dibandingkan dengan bisnis UMKM.

Pada tahun ini, Kita harus bisa kembali dan melakukan comeback dalam usaha kita, jika kita tidak bisa comeback pada tahun 2021 maka kita kemungkinan akan terjun bebas. Kita harus memiliki mental bagaimana caranya mengubah krisis menjadi peluang. Corona ini membuat berbagai usaha untuk shifting model bisnis atau di bilang mega shift. Sebagai contoh, dulu orang-orang makan secara dine in, namun pada saat corona ini masyarakat memilih untuk order secara delivery dan makan dirumah. Selain itu frozen food menjadi tenar dan masyarakat memilih meningkatkan stok makanan di rumah dibanding membeli bahan makanan. Sebelum pandemi orang orang mementingkan kebutuhan sekunder namun setelah pandemi orang orang kembali untuk mementingkan kebutuhan primer seperti makanan, kesehatan, dan keselamatan bisnis. Faktor yang berkembang selama masa pandemi ini adalah asuransi karena semua orang jadi takut dengan penyakit dan virus sehingga mereka mengutamakan keselamatan dirinya dengan membeli asuransi jiwa. Selanjutnya yang mengalami perubahan adalah pola bisnis yang berbasis virtual. Sebelum corona menyerang perlu adanya kontak fisik guna menjalankan bisnis namun corona memaksa orang orang untuk dapat bisa menjalankan bisnis tanpa melakukan kontak fisik sehingga terciptakan lingkungan bisnis yang berbasis digital mulai dari meeting digital, sampai penjualan dan pembelian melalui dunia digital. Perubahan yang terakhir adalah tren yang mengarah ke perilaku empati, hal ini di tunjang oleh perilaku bangsa kita yang berbasis gotong royong sehingga pada masa pandemi ini mendorong orang orang untuk berbagi dan membantu sesama.

Beberapa bisnis dan produk yang dibunuh oleh corona seperti bioskop, olahraga yang berkontak fisik, taxi atau ojol, departemen store dan lainya. Dasarnya, corona membunuh bisnis dan produk yang membutuhkan kontak fisik antara penjual dan pembeli. Di akhir diskusi, masa pandemi ini membuat Kita sebagai pengusaha harus dapat menganalisis mengenai pergerakan model usaha yang akan dilakukan dan dapat beradaptasi dengan baik sehingga bisnis yang kita jalankan akan tetap berjalan dan tidak pailit.


Sebarkan berita baik ini