In Inspirasi,Peluang Usaha,Saran Ahli,Tips & Trick,Tips Bisnis

Sudahkah Menggunakan SOP (Standar Operasi Prosedur) dalam Proses Produksi?

SOP.pngWaspada, Jangan percaya kemasan keren-awas masuk jebakan betmen.

Dinas Kesehatan Kota Mojokerto baru baru ini menemukan ikan asin berformalin beredar dipasaran. Ironisnya, itu ditemukan bukan di pasar tradisional melainkan di pasar Modern.  Dari sisi kemasan , sampel ikan asin yang diteliti tidak bermasalah. Kemasan malah mencantumkan secara jelas merknya. Kualitas ikan asin baru diketahui setelah dilakukan uji laboratorium.“Sampel Ikan yang kita ambil dari salahsatu Supermarket yang ada di Kota Mojokerto menunjukan positif mengandung formalin. Makanya kita imbau warga lebih waspada” kata Kusmulyati, Kasi Farmakmin Dinas Kesehatan Kota Mojokerto.  (Radar Mojokerto-Jawa Pos 5 September 2013)

Menarik menyimak pemberitaan Koran Jawa Pos, edisi Radar Mojokerto hari ini yang menyuguhkan berita lolosnya bahan beracun di pasar Modern.  Padahal selama ini kita merasa cukup “aman” berbelanja dan memenuhi kebutuhan sehari-hari dari pasar yang dikenal bersih dan nyaman ini.

Apa itu Formalin?  Secara sederhana Formalin adalah senyawa Kimia yang mengandung unsur formaldehyd (H2CO). Kegunaanya adalah untuk membasmi insektisida dan membunuh bakteri.  Tetapi peruntukanya untuk industri terutama bagi produk kayu maupun plastik.  Tujuanya adalah  sebagai pencegahan terhadap serangan mikroba dan bakteri juga serangga. Bagi dunia medis formalin lazim digunakan untuk mengawetkan mayat, agar tak cepat hancur.

Bagi manusia  senyawa ini tidak boleh dikonsumsi karena efek yang ditimbulkanya bersifat merusak. Sebagaimana yang disampaikan Kusmulyati “ Dalam jangka panjang, formalin dapat menyebabkan kanker dan kerusakan ginjal jika terkonsumsi”. 

Efek samping seketika dapat timbul jika senyawa ini terkonsumsi adalah kulit kemerahan seperti terbakar dan alergi kulit. Memicu iritasi mulai dari mata merah hingga kebutaan.Untuk pernafasan formalin dapat menyebabkan sesak nafas, batuk kronis dan radang tenggorokan. 

Dampak serius, lebih berat dan menakutkan dari formalin adalah dapat menimbulkan kerusakan organ reproduksi, kerusakan hati dan radang paru-paru. Kasus diatas adalah contoh nyata bahwa kita tidak boleh percaya pada merk, kemasan bagus maupun tempat yang nyaman. 

Saya teringat saat membawakan materi Standar Operasi Prosedur (SOP) yang selalu di share dalam kelas Workshop.   Untuk membuka mindset peserta bahwa kita perlu mendefinisikan standar bahan baku tepat, harus tegas dan jelas tanpa kompromi.

Setiap kali ditanyakan tentang standar bahan baku yang digunakan, peserta selalu menjawab tidak spesifik. Seperti saat saya bertanya ke peserta berlatar belakang bisnis kuliner, “ Seperti apa standar bahan baku beras  Bapak/Ibu telah dirumuskan? Jawaban hampir senada, mereka selalu menjawab dengan jenis beras yang telah bertahun dipergunakan. Atau malah ada yang menjawab dengan merk beras XXX yang telah setia dipakai, bukan  detil spesifikasi berasnya.

Untuk menghancurkan mindset yang salah, saya menyampaikan “Jika kita tak mampu mendefinisikan SOP bahan baku, maka produk sampahpun berpeluang kita terima” . Sebagaimana kasus Supermarket di atas  yang menjual produk “limbah” karena kurang jelasnya standarisasi produk yang dapat dijual di konternya.

Peserta akan tersentak dan kaget dengan statemen ini. Tetapi pernyataan ekstrim dan berbeda lebih mudah diterima dan dicerna daripada yang santun tapi segera dilupakan.

Berangsur  segera peserta akan  membuka mata dan telinga, inilah saat tepat menyampaikan pesan inti aksi yang mesti dijalani.

Contoh untuk produk beras, rumuskan dalam standar detail spesifikasi seperti apa yang bisa diterima. Misal : Kering dan berbau wangi, butiran beras utuh dan tidak pecah (90%), bersih dan keras tidak ada benda asing seperti kerikil dan sejenisnya. Sehingga kitapun akan mudah merumuskan beras yang mesti ditolak jika terkirim seperti ; beras basah dan berbau apak, butiran beras hancur diatas 10%, beras bercampur dengan benda asing seperti sekam, gabah atau kerikil.

Tak cukup sekadar  percaya merk, supplier maupun kemasan mentereng. Sudah menjadi rahasia umum mudahnya beredar barang “ASPAL” Asli tapi Palsu, kemasan Asli tapi isinya Palsu!  Bayangkan jika kita menerima material ASPAL sudah pasti produk yang kita hasilkan abal abal ujungnya dapat sebabkan bisnis kita terjungkal di pasar. Yang keren belum tentu paten, awas kesalahan memutuskan dapat sebabkan Anda masuk jebakan betmen.

Bahan baku yang tanpa terseleksi lebih banyak timbulkan kerugian dibanding memberi keuntungan. Tanpa kejelasan dan kefahaman yang benar akan standar, resiko akan sangat fatal.  Bahan dasar produksi,  yang Anda terima akan ditentukan pemasok. Padahal seharusnya  Andalah yang berhak mengendalikan input yang masuk dan digunakan dalam proses berikut.

Setelah memahami risiko fatal yang  mungkin terjadi, masihkah kita tetap bertahan dalam keyakinan yang salah ? Mari mulai berproduksi menggunakan material  sesuai standar dengan menjaga bahan baku yang kita terima.

Bagaimana menurut anda? (LSe)

 

Lukman Setiawan
Penulis Buku Rahasia Membangun SOP Tepat!

Follow @SopPerusahaan
www.SOPPerusahaan.com 
www.LukmanSetiawan.blogspot.com