In Inspirasi,Peluang Usaha,Saran Ahli,Tips & Trick,Tips Bisnis

Pelajaran Bertahan di Bisnis dari Life of Pi

Roni Yuzirman

Roni Yuzirman
Founder TDA

Ada yang sudah nonton film Life of Pi?

Bagi yang belum, cerita film ini tentang seorang remaja India bernama Pi yang hidup terombang-ambing di lautan dengan perahu darurat bersama seekor harimau Bengal. Kapalnya karam terhantam badai ganas, menewaskan kakak dan kedua orang tuanya dalam perjalanan mereka dari India menuju Kanada.

Ayahnya adalah pengusaha kebun binatang yang ingin merelokasi usahanya yang nyaris bangkrut ke Kanada. Richard Parker, harimau Bengal yang buas termasuk yang selamat bersama perahu sekoci itu.

Bisa dibayangkan bagaimana ketakutannya Pi di tengah lautan bersama binatang buas itu sambil menahan lapar dan haus. Terpaksa ia harus belajar keterampilan hidup agar bisa tetap hidup walau terapung di lautan bersama Richard Parker. Ia seperti orang yang paranoid. Tidur tak pernah nyenyak karena selalu harus waspada agar tidak diterkam oleh Richard Parker dengan tiba-tiba.

Richard Parker telah membuatnya selalu waspada dan terjaga agar terus dapat bertahan hidup. Keadaan yang selalu terancam membuatnya terus berupaya supaya agar selamat. Ia terpaksa terus bergerak mencari akal supaya dapat memperpanjang hidupnya. Mulai dari dengan mencari cara menangkap ikan, membuat senjata untuk melawan Richard Parker, membuat rakit cadangan untuk meloncat jika tiba-tiba Richard Parker menyerangnya dan sebagainya.

Setelah terlunta-lunta selama berbulan-bulan ia akhirnya terdampar di sebuah pantai dalam keadaan lemah tak berdaya, kulit hitam terbakar matahari. Begitu pula Richard Parker, nyaris hanya tulang membungkus tubuhnya.

Akhir cerita ia berkesimpulan bahwa Tuhan telah menjaganya agar tetap hidup dengan mengirimkan seekor Richard Parker. Tanpa harimau itu mungkin saja ia telah mati kelaparan di tengah lautan.

Dari kisah nyata ini banyak pelajaran hidup termasuk bisnis yang didapat. Kondisi nyaman atau comfort zone justru melenakan dan berbahaya. Perusahaan yang sadar bahwa comfort zone itu berbahaya dengan membuat suasana tidak nyaman, misalnya dengan menciptakan ‘musuh bersama’ dalam bentuk pesaing dan sebagainya. Samsung dan Intel adalah contoh perusahaan yang selalu bergerak dan berinovasi agar tidak mati diterkam pesaing.

 

Roni Yuzirman
Founder TDA
@roniyuzirman