In Inspirasi,Peluang Usaha,Saran Ahli,Tips & Trick,Tips Bisnis

Tour De Pantura, Merangkai Mata Rantai

sellingMinggu lalu saya melakukan perjalanan menyusuri pantai utara Jawa (pantura), dari Bekasi menuju Semarang, untuk menyambangi beberapa pelanggan dan calon pelanggan.

Di antara sibuknya dan ketegangan teman-teman panitia Pesta Wirausa TDA Bekasi yang kebetulan saya ketuai, saya mengambil keputusan untuk keluar dari “sarang” di Bekasi dan saya anggap sebagai hiburan, melakukan perjalanan darat keluar kota selama beberapa hari untuk mendatangi pelanggan, sangat membuat saya bersemanagt, meski terbayang kelelahan tapi ini adalah pekerjaan yang menyenangkan untuk saya pribadi. Karena sebagai pengusaha yang punya latar belakang profesi sales, saya selalu menikmati proses aktif mencari dan mendatangi pelangan, daripada menunggu pelanggan datang atau sekedar menunggu hasil dan laporan dari staff dan sales.

Pergeseran industri secara demografi sudah mulai terjadi, tingginya upah buruh, mahalnya lahan dan carut-marutnya sistem transportasi di area Jabodetabek, telah membuat sebagian pengusaha dan investor memindahkan atau mendirikan industrinya semakin menjauh dari Jakarta, seperti ke daerah Sukabumi, Purwakarta, Cirebon, dan bahkan kota kelahiran saya Boyolali, yang masih termasuk Karisedanan Solo, tak pelak telah menjadi area industri baru.

Dan sudah lazimnya adanya industri di suatu area, maka akan membantu menggerakkan ekonomi, menyerap tenaga kerja dan meningkatkan pendapatan, serta memunculkan peluang usaha lainnya untuk menunjang industri dan pekerja yang ada. Sebutlah usaha makanan, pakaian, sampai dengan perumahan, meningkatnya harga jual tanah, dan lain sebagainya. Dan peningkatan dan pemerataan ekonomi yang riil, terbukti memang harus digerakkan oleh para pengusaha.

Kembali ke kisah tour de pantura yang saya lakukan, di Cirebon saya singgah ke sebuah perusahaan investasi asing yang tengah membangun industri furniture berbasis plastik dan kayu atau lebih beken disebut plastic wood composite diatas lahan 5 hektar, dan sudah siap beroperasi. Dengan sang presiden direktur, kami sepakat untuk menjadi pemasok berbagai raw material dan additive dan sudah dilakukan pemesanan awal senilai 100 jutaan rupiah. Di sini perusahaan saya dengan bendera PT. Buana Oasis Chemicals (BOSCHEM) yang akan bekerjasama, perusahaan yang saya dirikan beberapa tahun lalu ini, sekarang saya fokuskan untuk melakukan bisnis perdagangan di bidang basic chemicals atau bahan kimia hulu terutama dalam industri plastik.

Perjalanan kami lanjutkan ke kota Semarang, sekitar 5 jam dari Cirebon, Di Semarang, saya menginap di salah satu hotel bintang lima di kawasan Simpang Lima, hotel ini adalah hotel di mana waktu saya kuliah dulu hanya bisa berangan-angan untuk menginap disana. Aha, ternyata sebuah kepuasan tersendiri untuk mewujudkan angan-angan masa lalu, dan ini adalah hal-hal yang seringkali saya lakukan setelah menjadi pengusaha. Sebelum terlelap di kamar hotel, tentu saya sempatkan muter-muter dan sedikit wisata kuliner untuk bernostalgia di kota tempat saya kuliah ini.

Esok harinya saya berkunjung ke sebuah pabrik kabel transformer di sebuah kawasan industri di Semarang, perusahaan ini adalah perusahaan investasi asing juga dan produknya di ekspor, saya bertemu dengan sang direktur bersama tim lengkap mereka. Di sini saya mengajukan diri untuk menjadi pemasok bahan baku PVC untuk pembungkus kawat tembaga dalam produk kabel mereka. Dalam kerjasama bisnis ini saya gunakan bendera PT. ABC Plastindo, ini adalah perusahaan produsen bahan baku yang saya dirikan bersama teman. Perusahaan yang memproduksi PVC Compound yang biasa dipakai sebagai bahan baku dalam industri alat rumah tangga seperti selang gas elpiji, alat elektronik, kabel, komponen otomotif, furnitur, sepatu, mainan, dll.

Setelah adanya kesediaan untuk mencoba sekitar 100 kg produk kami, dan siap untuk melakukan pembelian massal kalau hasil sudah pas, saya pun diberi harapan oleh sang direktur yang ekspatriat ini, bahwa jika mereka puas, dia akan merekomendasikan kepada beberapa perusahaan yang para pengelolanya dia kenal baik, untuk membeli dari perusahaan saya.

Kemudian pertemuan saya lanjutkan dengan teman SMA yang sekarang menjabat posisi strategis di sebuah anak perusahaan BUMN, diantara nostalgia dan ngobrol ngalor-ngidul, akhirnya silaturahmi ini menghasilkan peluang kerjasama, untuk mensuplai kebutuhan pipa-pipa dan kabel-kabel untuk pengadaan infrastruktur dari perusahaan tempat dia bekerja.

Untuk bisnis end product alias industri hilir plastik, saya sodorkan PT. Zenith Material Solution, ini adalah perusahaan konsultan dan pemasok bahan baku di industri plastik, bahkan juga mesin. Seiring peluang dan permintaan belakangan ini, Zenith justru berkembang sebagai perusahaan yang memperdagangkan produk akhir yang dihasilkan oleh para pabrikan yang sebagian bahan bakunya mereka beli dari PT. ABC Plastindo. Dengan cara ini, maka saya mencarikan pelanggan untuk para pelanggan ABC Plastindo, sehingga pembelian bahan baku mereka juga meningkat.

Nah untuk ke depan selain terus mengembangkan bisnis bahan baku dasar dengan PT. Boschem, bahan baku intermediate  dengan PT. ABC Plastindo dan perdagangan produk plastik akhir dengan PT. Zenith, insyaAllah dalam beberapa tahun kedepan kami akan memproduksi produk akhir sendiri, akan tetapi kami akan berusaha masuk ke industri yang tidak banyak bersaing dengan pemain yang sudah ada.

Ups, ada yang kelewat, kadang-kadang para pelanggan yang memiliki produk limbah plastik dari product reject, potongan-potongan tak terpakai, dsb. Saya juga memiliki sebuah CV, yang sejak tahun 2006 sudah menangani pengolahan dan penjualan produk-produk limbah plastik industri tersebut, meski sudah tidak fokus saya tekuni, usaha ini masih seringkali menghasilkan income.

Setelah pertemuan bisnis, perjalanan saya lanjutkan untuk dua malam sungkem dengan orang tua di kampung di Boyolali, sebelum akhirnya bertolak kembali ke Jakarta.

Nah ini dia sekelumit kisah perjalanan tour de pantura yang setelah saya cermati, memuat kisah bagaimana ternyata kita bisa mengembangkan bisnis dengan tetap inline di industri yang sama. Merangkai jalinan bisnis layaknya merangkai mata rantai, yang dalam fase bisnis saya saat ini termasuk yang paling mudah untuk dilakukan untuk mengembangkan bisnis. Karena jalinan industri yang sudah terjadi dan saling terkait, membuat kami tidak perlu banyak mengeluarkan modal dan menyiapkan sumber daya. Hubungan dan kepercayaan yang sudah terbina dengan para pemasok dan pelanggan semakin membuat bisnis saling kait mengait dan membentuk rangkaian yang lebih kuat, layakanya mata rantai.

 

Mustofa Romdloni
@tofazenith
Penulis Buku “Sederhana tapi Dahsyat”