In Inspirasi,Peluang Usaha,Saran Ahli,Tips & Trick,Tips Bisnis

Kembali ke Lapak

Zainal Abidin

Jay Teroris
Direktur Pengawasan dan Kepatuhan TDA

Tahun 1980an, meledak kasus arisan berantai Yayasan Keluarga Adil Makmur yang diinisiasi oleh Yusuf Ongkowidjojo. Modusnya adalah pengumpulan dana masyarakat, yang kemudian dikembalikan lagi ke masyarakat. Polanya seperti gali lubang tutup lubang. Dana dari peserta baru diberikan kepada peserta yang masuk jadi anggota lebih dahulu. Ujungnya bisa ditebak. Begitu peserta baru tidak ada lagi, terjadi gagal bayar. Dana masyarakat menguap tak tentu rimbanya. Sang inisiator diadili dan masuk penjara.

Mungkin benar. Perjuangan kita adalah perjuangan melawan lupa. Seolah tak belajar dari kasus sebelumnya, sejarah kembali berulang. Kasus Danasonic, Kospin, CV Sukma, Koperasi Langit Biru dan sebagainya, mengulang kasus serupa.  Rakyat kecil kembali jadi korban. Total dana bahkan mencapai jumlah triliunan rupiah. Bukan hanya gunakan dana milik pribadi, ada juga investor yang menggunakan dana pinjaman. Akhirnya tragis. Sejumlah dana tak kembali kepada pemiliknya. Ada keluarga berantakan. Terjerat hutang yang sulit terbayar. Gila. Bunuh diri.

Ada juga pola lain : investasi. Marak sejak tahun 1990an. Masih jelas dalam ingatan, Ramly Arabi yang berhasil mengeruk dana investasi agribisnis sebesar Rp. 467 milyar dari 6.800 investor. Juga Ade Suhidin, bos ADD Farm yang bergerak dalam peternakan itik. Ia berhasil mengumpulkan investasi sebesar Rp. 544 milyar dari 8.500 investor. Dengan dukungan sosial media, kasus investasi bodong semakin berkibar. Mulai dari Pohon Emas, Virgin Gold Mining Corporation, Golden Traders Indonesia Syariah (GTIS) sampai  Raihan Jewellery yang menghimpun dana belasan triliun.

Korban terus berjatuhan. Penghimpunan dana terus bersalin rupa, namun tetap dengan pola yang hampir sama. Mobilisasi dana masyarakat, iming-iming keuntungan besar dalam waktu cepat dan melibatkan tokoh masyarakat, baik skala lokal maupun nasional.  Tokohnya diadili. Ada juga yang lenyap seperti ditelan bumi. Ada juga yang bebas dan membuat cerita baru lagi. Sayangnya, dana masyarakat tetap tidak bisa ditarik kembali.

Kita tidak boleh terus-menerus begini. Masyarakat harus dibangunkan dari nina-bobo bisnis instan. Masyarakat harus disadarkan.  Inilah saatnya kembali ke lapak. Kembali menekuni usaha, jengkal demi jengkal. Terus bertumbuh dan menjadi besar, di atas kaki sendiri. Melupakan iming-iming bisnis yang cenderung abal-abal : untung besar dalam waktu singkat.

Zainal Abidin
@jayteroris
Direktur Pengawasan dan Kepatuhan TDA
Headmaster sekolahmonyet.com