In Inspirasi,Peluang Usaha,Saran Ahli,Tips & Trick,Tips Bisnis

Memilih Taksi di Stasiun (Kisah Brand dan Rasa Aman)

Hendro Simple Studio Online kecilPagi itu, saya dan istri baru tiba di stasiun Senen setelah melakukan perjalanan yang cukup panjang dari Semarang. Dan ini memang benar-benar pagi, karena jam baru menunjukkan pukul 3.44 WIB. Dan “konflik” yang biasa terjadi kalau keluar stasiun setelah perjalanan jauh (terutama kalau sampainya dini hari seperti ini) adalah masalah memilih kendaraan untuk pulang.

Bukan karena tidak ada atau sedikit pilihan, tetapi karena pilihan itu demikian banyak. Begitu keluar pasti bertebaranlah jasa… “ojek mas”, “taksi mas”, “mobil pribadi mas”, dll. Ya intinya semua menawarkan jasa tumpangan hingga ke rumah. Saya sendiri biasanya “cool down” dulu deh. Istri dan anak diminta menunggu di tempat yang aman, sementara saya berburu angkutan. Tujuan pertama saya adalah “cari taksi ‘branded’”, kalau nggak ada, masuk tujuan dua, “Cari taksi yang mau pakai argo”.

Di tempat dan kondisi seperti itu sudah maklum taksi-taksi (dan tumpangan lainnya) memberlakukan “tarif borongan”, tembak angka sekian untuk tujuan tertentu, dan memang biasanya “terlalu mahal” jika dibandingkan seharusnya. Setelah bertanya ke 1-2 taksi, akhirnya saya temukan juga satu taksi yang mau pakai argo selain itu “brand”nya lumayan deh, satu level dibawah yang saya cari (OOT. saya biasanya prefer Express, Taxiku atau Putra, bukan promosi ya hehehe).

Akhirnya, saya “jemput” istri dan anak saya di tempat tadi dengan membawa taksi ini. Dan saat saya mengangkat tas-tas ke bagasi, terdengar “selentingan” dari supir-supir tembak tersebut, “maunyaaa naik taksi, soalnya kalau taksi pas tabrakan nggak mati”. Usut-punya usut, ternyata mereka sedang menyindir istri saya, yang ketika saya tinggal sejenak beberapa kali ditawari naik mobil pribadi borongan tersebut tetapi ditolaknya.

Mungkin hal inilah yang tidak dipahami oleh para supir tembak tersebut. Bahwa penumpang seperti kami membutuhkan “semacam jaminan rasa aman”. Dan penjaja-penjaja angkutan yang lain itu (termasuk taksi-taksi yang minta tarif borongan) tidak sadar bahwa mereka tidak bisa memberikan hal tersebut. Rasa aman dalam kasus ini sendiri bisa didefinisikan dua : rasa aman atas reputasi brand taksi tersebut dan rasa aman atas “kepastian harga”. Alhamdulillah, sampai rumah, tarif argo taksi yang kami tumpangi relatif normal, standar untuk jarak seperti itu.

Dalam bisnis juga seperti itu, salah satu manfaat branding adalah “memberi rasa aman” kepada calon konsumen. Misalnya, anda yang pernah datang ke Malioboro dan merasakan “pengalaman buruk”, makan di emperan dengan harga selangit dan kualitas rasa yang tidak sepadan. Mungkin ketika kembali ke sana akan lebih memilih restoran cepat saji yang sudah jelas “standar rasa dan harganya”, dan itulah manfaat branding (kasus Malioboro ini sampai masuk bahasan buku Marketing in Venus Hermawan Kertajaya 11 tahun silam). Trend semakin banyaknya konsumen yang berbelanja di minimarket yang branded seperti Alfamart dan Indomaret juga adalah salah satu pengaruh branding. Konsumen “merasa aman” dengan kisaran harga dan produk yang dijual disana.

Kami sendiri di www.SimpleStudioOnline.com sudah bertahun-tahun mencoba membangun brand, dan alhamdulillah berbuah “kepercayaan” dari berbagai konsumen. Mulai dari konsumen online yang belum pernah bertemu kami sama sekali namun percaya dengan mentransfer uangnya, hingga perusahaan besar yang berani bayar di depan (bukan cuma DP tapi sudah pelunasan) padahal pekerjaan memang belum dieksekusi. Sebab branding itu identik dengan rasa aman dan rasa aman itu diperoleh dari kepercayaan. Kepercayaan sendiri diperoleh ketika kita konsisten atas janji. Janji apa? Janji apa saja, janji kualitas, janji layanan, janji kepuasan, dst.

Bagi perusahaan yang bergerak di bidang jasa, kepercayaan ini sangat penting, dan karenanya branding wajib dijalankan. Sebab dengan brand yang kuat adalah pintu untuk memperoleh klien berikutnya. Bagi perusahaan yang menjual “produk”, branding juga wajib dilakukan, sebab produk kita bertarung dengan produk-produk lainnya di lapangan.

Kalau bagi produk, “rasa aman” itu misalnya bisa didapat pada standar kualitas, standar rasa, standar bahan baku, sampai dengan standar kehalalan. Misalnya, ada 2 merk air mineral dalam kemasan yang anda temui dalam kemasan 250mL. Keduanya harganya sama Rp. 500,-, mana yang anda pilih, yang brand-nya sudah jelas anda tahu kualitasnya, atau yang anda benar-benar baru lihat pertama kali. Sudah begitu, merk lain itu desain kemasan-nya juga “keterlaluan jeleknya” lagi, lengkap sudah.

Dari sisi rasa aman, saya sendiri kalau beli HP sekarang sudah “mengurangi” (lebih tepatnya berhenti) membeli produk-produk yang biasa disebut “HP murah” (pengen sebut merk takut dituntut). Bukan apa-apa, sudah berkali-kali dikecewakan. Memang fasilitasnya banyak dengan “harga segitu”, tetapi kualitasnya… ya ampuuun… suara telepon nggak jelas, koneksi internet masalah sampai dengan beberapa fitur “cuma pajangan”.

Dengan harga X, untuk HP Nokia misalnya, kita cuma dapat fungsi telepon dan SMS. Tetapi dengan harga yang sama, di HP “murah”, kita dapat fasilitas internet, FB, twitter, browsing, kamera sekian megapixels, sampai dengan radio dan bahkan sebagian TV! Tapi apa? semua kualitasnya “pertengahan”, bahkan cenderung ya ujung-ujungnya kurang bermanfaat. Belum lagi usia HP-nya yang biasanya tak berumur panjang (malah boros pada akhirnya).

Branding itu memang pekerjaan gampang-gampang mudah (lho?). Maksudnya gampang-gampang susah. Apa gampangnya? Ya buat saja value dan janji sebanyak-banyaknya kepada calon konsumen. Susahnya adalah “konsisten” dengan janji tersebut. Sebab konsistensi inilah nanti yang akan dinilai konsumen dan menjadi hakikat branding tersebut, sehingga orang “mempersepsikan value tertentu” kepada produk/jasa anda. Karena butuh proses, sebagian pakar branding menyebutkan, dibutuhkan minimal 5 tahun untuk sebuah produk/jasa melakukan branding. Jika berhasil, ia akan berbuah rasa aman dan kepercayaan dari konsumen. Disaat itulah, produk/jasa kita sudah “nge-brand”.

Jadi para pebisnis, mulailah melakukan branding. Dengan menetapkan sebuah value atas produk/jasa kita, memberi simbol-simbol visual (logo, tipografi, kemasan produk), mengkomunikasikan janji-janji atas value tersebut dan terakhir konsisten melaksanakan janji-janji value produk/jasa anda. Semoga dengan itu semua, ekuitas brand produk/jasa anda semakin baik, sehingga anda tidak hanya mendapatkan pelanggan yang loyal, tetapi mereka yang juga ikut mempromosikan brand anda.

Hendro Tri Rachmadi
Solusi Komunikasi Visual Bisnis Anda