In Inspirasi,Peluang Usaha,Saran Ahli,Tips & Trick,Tips Bisnis

Prinsip Antrian

Zainal Abidin

Zainal Abidin (Jay Teroris)
Direktur Pengawasan dan Kepatuhan TDA

Ini mungkin pengalaman keseharian yang sering dijumpai. Untuk setor atau ambil tunai, kita harus antri. Mau naik atau turun pesawat terbang, kita harus antri. Bahkan di luar negeri, untuk naik taksi atau bus umum pun kita harus antri.

Pada hari itu, saya harus antri di bank. Seperti biasa, sudah ada antrian. Kali ini cukup panjang. Kalau dihitung, saya berada pada antrian ke tiga puluh. Suka atau tidak suka, saya harus terus berada dalam antrian, agar saya bisa sampai di depan. Memang ada pilihan untuk pindah ke cabang lain, tetapi cara ini pun tidak menjamin bahwa antriannya tidak sepanjang di sini.

Antrian terus bergerak. Masih ada sebelas orang di depan. 5 sampai 10 menit lagi, saya akan dilayani teller. Tiba-tiba, seorang ibu yang berpakaian agak menor, masuk ke dalam antrian di depan saya. Sambil tersenyum pula. Padahal, masih ada sekitar dua puluh orang di belakang saya. Saya mencoba untuk menegur dan memintanya untuk antri di belakang. Beberapa orang yang antri di belakang saya juga mencoba menegur. Awalnya dengan suara yang lemah lembut. Karena tidak digubris, suara sudah mulai keras, bahkan cenderung kasar.

Hujan sindiran itu tidak berlangsung lama. Seorang satpam datang, dan memberikan sedikit penjelasan kepada sang ibu. Entah terpaksa atau sukarela, sang ibu itu akhirnya pindah ke antrian paling belakang. Mungkin karena malu atau ia sudah tidak punya banyak waktu, saya tidak melihatnya berada dalam antrian ketika saya hendak keluar dari bank itu.

Di kantor, saya mencoba merenungkan kejadian di bank tadi. Hidup ini, hampir serupa dengan prinsip antrian. Untuk bisa sampai di urutan paling depan dan dilayani petugas (baca : sukses), kita harus tetap berada di dalam antrian, apapun yang terjadi. Jangan pernah sekali-sekali berpikir untuk melakukan jalan pintas (memotong antrian), apalagi meninggalkan antrian.

Saya jadi ingat sekitar enam belas tahun yang lalu, ketika saya memutuskan untuk keluar dari tempat saya bekerja dan memulai kehidupan sebagai wirausaha. Usaha pertama yang saya geluti adalah bengkel sepeda motor. Ketika itu, tabungan saya masih cukup banyak. Jadi, saya mulai bengkel itu dengan modal cukup besar, yaitu sekitar Rp. 70 juta. Hasilnya? Bengkel itu tutup dalam 7 bulan.

Sebabnya boleh jadi cukup banyak. Saya tidak tahu banyak soal bisnis ini. Relasi di bidang inipun boleh disebut tidak ada. Pengetahuan, keterampilan dan pengalaman mengelola bengkel juga belum saya punya. Ujung-ujungnya, uang tabungan sebesar Rp. 70 juta pun bablas. Jadi, inilah pelajaran pertama prinsip antrian : mulailah karir anda dari bawah. Jangan gunakan jalan pintas. Uang memang penting untuk memulai usaha, tetapi tanpa pengetahuan, keterampilan dan pengalaman di bidang tersebut, uang sebanyak apapun, bisa hilang tanpa bekas.

Setelah gagal di dunia perbengkelan, saya pindah usaha. Kalau dihitung, ada sekitar 8 bidang usaha lain yang saya tekuni, dan semuanya gagal total. Saya pernah menekuni bisnis agribisnis cabai, warung soto, fotografi, furniture, handicraft, perdagangan suku cadang kendaraan bermotor, dekorasi panggung dan juga ekspor furniture. Gagal satu, ganti usaha lain. Hal ini paralel dengan berpindah-pindah antrian. Ujung-ujungnya, saya tidak pernah sampai di antrian terdepan. Saya belum pernah sukses dalam berbagai usaha saya. Inilah pelajaran kedua dari prinsip antrian : jangan keluar dari antrian.

Sebuah pelajaran hidup yang pahit. Sejumlah dana dalam jumlah yang cukup besar, habis tak tentu rimbanya, hanya karena dua sebab. Jalan pintas dan terlalu cepat keluar antrian. Syukurlah, saya bisa belajar dari berbagai pengalaman pahit itu. Tahun 1998, saya mulai mengembangkan kemampuan saya menulis. Selama 3 tahun menulis, belum ada satu pun tulisan saya yang diterbitkan. Setelah 3 tahun yang pahit itu, buku pertama saya bisa terbit. Setelah itu, menyusul naskah-naskah lainnya. Dan sampai hari ini, tak kurang dari 95 buku sudah diterbitkan. 9 judul di antaranya sudah diterbitkan di negeri jiran, Malaysia.

Antrian memberi saya dua pelajaran hidup terpenting. Tidak ada jalan pintas, dan tetaplah pada antrian. Jika sudah demikian, sukses hanya soal waktu saja.

 

Zainal Abidin
Direktur Pengawasan dan Kepatuhan TDA
Headmaster SekolahMonyet.com