In Inspirasi,Peluang Usaha,Saran Ahli,Tips & Trick,Tips Bisnis

Satu Ide untuk Jadi Raja

Mustofa R3

Mustofa Romdloni

Tulisan ini terilhami oleh adanya transakasi bisnis yang termasuk paling bersejarah dan mencengangkan dunia belum lama ini. Di mana bisnis kategori startup, WhatsApp yang dibeli oleh Facebook dengan nilai 19 Milyar dollar Amerika, atau setara lebih dari 220 trilyun rupiah.

Facebook sendiri adalah perusahaan yang fenomenal, perusahaan penyedia situs jejaring sosial yang didirikan Marck Zuckerberg dan teman-temannya ketika masih menjadi mahasiswa Harvard di tahun 2004. Pada saat go public pertengahan tahun 2012, perusahaan meraup uang kaget alias mendapat rezeki durian runtuh yang sangat fantastis, bahkan nilai perusahaan kala itu melonjak menjadi sekitar 104 Milyar dollar Amerika, atau setara dengan 1000 trilyun rupiah. Nilai ini bahkan saya yakin, di luar perkiraan dan angan-angan para pendiri facebook sendiri. Tapi beginilah realitas pasar keuangan menilai facebook.

Oleh karena itu, saya pribadi menyebut Facebook membeli WahtsApp tidaklah mahal, karena Mark Zuckerberg membeli WhatsApp dari Jan Koum, sebenarnya hanyalah dengan sebuah Ide. Alias transaksi Ide yang membeli Ide. Yakni Ide Facebook yang labih dahulu muncul dan telah dihargai mahal, membeli WhatsApp, Ide baru yang kebetulan masih berharga lebih murah.

Saya termasuk orang yang sangat awam alias kurang melek teknologi internet dan dunia digital beserta dunia pemrograman yang ada dibaliknya. Tapi dengan pengamatan sederhana, saya memahami bahwa industri ini telah menjadi industri baru yang mengalami pertumbuhan sangat dahsyat dalam satu dekade terakhir ini. Bisnis dotcom, yang dahulu tidak dilirik oleh mega investor legendaris sekelas Warren Buffet, ternyata kini telah menjelma menjadi bisnis raksasa, dengan pertumbuhan yang sangat cepat.

Tengoklah kisah sukses Yahoo, Google, You Tube, Amazon, Twitter, detikcom, tiket.com dan lain-lain, bisnis berbasis internet dan dunia digital alias dotcom ini, ternyata beberapa mampu menggeser dominasi para jawara bisnis terdahulu, serta membuat prestasi mencengangkan dalam hal percepatan ukuran bisnis dibanding para pebisnis produk yang bahkan sudah berusia puluhan atau ratusan tahun, dan telah menjual produk dan mengisi rak-rak supermarket di seluruh dunia sekalipun.

Satu kesimpulan saya dari fenomena ini adalah, kita berada dalam dunia ide yang akan dibayar mahal bahkan sangat mahal. Yah, dunia akan mampu membayar mahal ide-ide baru yang muncul, karena apa? Akumulasi keuntungan dari dunia properti, pertambangan, manufaktur serta beragam bisnis produk dan jasa yang telah berlangsung puluhan, bahkan ratusan tahun, membuat dana beredar di tengah masyarakat begitu besarnya. Pertumbuhan ekonomi, telah menghasilkan kemakmuran dan dana yang berlimpah. Apalagi ditambah aksi hampir semua bank sentral di seluruh dunia, yang terus mencetak uang dan menggelontorkan uang dalam trilyunan dolar Amerika, yang lazim di sebut ‘memberi stimulus’, untuk menggerakkan ekonomi.

Tengoklah, bagaimana pasar finansial diciptakan, dan telah melakukan transaksi yang bisa jadi lebih besar dari transaksi dunia riil. Pasar finansial, seperti bursa saham, indeks, komoditi berjangka, valas, dan berbagai turunannya. Melakukan transaksi perdagangan yang menurut saya ‘absurd’, karena tidak ada barang atau jasa riil yang diperdagangkan. Mereka hanya bertransaksi kontrak-kontrak, yang sama sekali tidak diikuti dengan pengiriman jasa, ataupun perpindahan barang dari gudang ke gudang, dan tidak ada keperluan konsumsi riil barang apapun.

Pergerakan harga, dipengaruhi oleh isu kebijakan, atau rumor-rumor, dan jauh dari hukum permintaan dan suplai yang di bahas dalam buku teks mata pelajaran ekonomi. Ekeskutif perusahaan terjebak dengan kesibukan melakukan intrik-intrik untuk memberi angin segar ke bursa, supaya harga sahamnya naik dan meraup untung, sementara pertumbuhan bisnis riil nya nol.

Hasil penelusuran saya, bahkan di Bursa Efek Indonesia ( BEI ) saja tahun 2013, dilakukan rata-rata transaksi sekitar Rp. 7 triliun per hari, untuk jual beli saham saja. Kalau satu bulan ada 20 hari transaksi, maka nilai jual beli saham di BEI bisa lebih dari 1600 trilyun rupiah dalam setahun, wow. Ini baru di Indonesia yang tergolong belum terlalu familiar dengan dunia saham, bagaimana dengan negara lain ?.

Artinya apa ? Ini adalah peluang untuk kita semua para pengusaha pemula maupun senior sekalipun. Bahwa sesungguhnya diluar sana banyak sekali dana yang siap untuk membayar mahal ataupun membiayai ide-ide bisnis terbaik dari kita. Tidak ada lagi alasan tidak ada modal uang untuk membangun bisnis. Selama kita terus mencoba menemukan ide-ide baru untuk diwujudkan, mau belajar dan praktek untuk menjadi ahli dalam bidang terntentu. Lalu, kita komunikasikan keahlian dan ide kita kepada orang yang tepat. Maka kita akan takjub, dengan mahalnya nilai yang orang lain mau berikan terhadap ide dan keahlian kita.

Sebagai gambaran, cobalah pergi ke jalan raya atau komplek-komplek ruko, dapat kita saksikan, bahwa ada beribu-ribu orang yang bersedia merogoh kocek hingga milyaran, hanya untuk memiliki (membeli ide) gerai minimarket, meski dengan lokasi yang kian berhimpitan dan memberikan imbal hasil yang ala kadarnya saja.

Produk bisnis dan investasi abal-abal juga mampu meraup dana dalam jumlah besar, dan menyisakan kepedihan para investor yang selalu mencari ide-ide bisnis untuk mereka beli. Bahkan yang terakhir ini kita lihat beredar di media sosial, para pengurus masjid besar saja bisa keblinger dan berlebihan dalam ‘membeli ide’ seminar dari penulis sebuah buku yang katanya mega best seller di Indonesia.

Dalam prosesnya, bisa jadi banyak ide kita yang akan terdepak ke jurang kegagalan dan terkubur, tapi saya yakin tidak ada yang sia-sia, dan tidak semestinya kita berhenti mencari ide baru untuk di wujudkan, karena sesungguhnya tidak diperlukan banyak ide untuk membawa kita sukses, seperti yang dikatakan seorang pengusaha milyarder Amerika, Ross Perot “Hanya dibutuhkan satu ide untuk hidup bagaikan seorang raja selama sisa hidup Anda.”

Saya pribadi bersyukur pernah mengalami ‘Menemukan ide yang berharga mahal’ menurut ukuran saya. Dan akan terus berusaha untuk menambahnya. Menemukan ide baru sebenarnya tidak terlalu sulit, sebab kebanyakan ide baru yang cemerlang, didapat hanya dengan mengkombinasikan beberapa ide lama yang telah ada.

Adalah layak dan mengasyikkan untuk terus berjuang menemukan satu ide yang membawa kita menjadi raja selama sisa hidup kita.

 

Mustofa Romdloni
@tofazenith
MR Corporation