In Inspirasi,Peluang Usaha,Saran Ahli,Tips & Trick,Tips Bisnis

Perjalanan Mengubah Jiwa #PWChangedMyLife

See u at the Top_edit_edit

Mustofa Romdloni

Awal-awal belajar bisnis dahulu, saya cukup takut mengeluarkan dana untuk modal ataupun sekedar investasi untuk pengembangan pribadi sendiri. Bagaimana tidak takut, karena dana yang saya miliki memang pas-pasan, sebagai orang yang baru 1-2 tahun bekerja, dengan penghasilan pas-pasan, tentu saja setiap pengeluaran duit yang ngawur bisa berdampak merana di hari-hari berikutnya.

Seiring berjalannya waktu, karena semakin banyak pengetahuan yang saya dapat, seperti dari buku dan bertemu para pelaku bisnis dikombinasi dengan praktek, maka sayapun semakin bertekad bulat dan berani untuk bergerak, bukan hanya bekerja secara fisik saja, tapi juga mengerahkan segala sumber yang ada termasuk untuk menemukan sumber dana dalam membiayai usaha. Meminjam teman, memakai dana dari 5 kartu kredit lebih dan juga menjaminkan ijazah untuk memperoleh pinjaman belasan juta rupiah, pernah saya lakukan.

Sayapun masih teringat, betapa bahagianya ketika pertama kali memperoleh pendapatan dari bisnis pemasaran jaringan yang sudah saya bangun sekitar dua bulan, akhirnya memiliki beberapa orang distributor serta menghasilkan penjualan dan memperoleh keuntungan meski hanya beberapa ribu rupiah saja.

Lambat laun saya bukan hanya tidak pelit, tapi malah seperti ketagihan untuk belajar bisnis, rutin membeli dan membaca buku, mendengar kaset bisnis, datang ke seminar-seminar, dan mengikuti beberapa milist untuk terhubung dengan sesama pelaku usaha, atau mereka yang baru belajar usaha.

“Sukses meninggalkan jejak, untuk di ikuti”, demikian nasehat yang cukup menancap di benak saya, sehingga mendorong saya untuk terus belajar dari mereka yang telah melakukan perjalanan sukses.

Selain belajar dan praktik bisnis serta pengembangan diri, saya yang seorang sarjana teknik, terus mendalami dan mempraktekkan keahlian menjual. Saya seringkali tidak melewatkan peluang untuk berdagang barang-barang yang saya peroleh dari sumber yang “bagus”.

Kombinasi belajar dan praktek ini telah mengantarkan saya terus bertahan melewati perjalanan panjang, bak lari marathon, sehingga tak terasa sudah lebih dari 12 tahun saya melakukan entrepreneur journey. Menempuh lari marathon 42 km, yang butuh stamina jangka panjang ini, tentu berbeda dengan lari sprint yang dilakukan dengan secepat-cepatnya, karena jarak tempuh yang pendek, yakni 100 m saja.

Ini sama sekali bukan proses cepat kaya ! Meskipun kemajuan jaman bisa membantu membuatnya berjalan lebih cepat, tetapi prosesnya tetaplah panjang. Mengapa perjalanan seringkali perlu waktu lama? Ternyata proses tersulitnya bukanlah membangun bisnisnya itu sendiri, tetapi lebih kepada mengubah pola pikir sang pengusaha ini yang perlu waktu.

Membongkar pola pikir lama yang sudah sejak kecil ditanamkan, yakni mencari keamanan dengan bekerja pada perusahaan bagus atau menjadi pegawai dengan gaji besar, atau memilih profesi yang di bayar mahal. Menjadi pola pikir baru, yakni menjadi pengusaha yang mencari kebebasan dengan membangun aset bisnis.

Proses ini lebih merupakan proses mengubah jiwa, sehingga pola pikir, tindakan dan kata-kata kita pun berubah jauh dari jiwa seorang pegawai dan orang kebanyakan. Sebagai contoh: ketika pegawai berpikir untuk menerima gaji, maka pengusaha berpikir untuk memberi gaji.

Ketika pegawai harus bekerja benar mengikuti sistem, maka pengusaha bekerja untuk membuat sistem. Ketika pegawai merasa aman dengan jaminan penghasilan, maka pengusaha harus nyaman dengan ketidakpastian penghasilan. Ketika orang lain bekerja untuk uang, pengusaha bekerja untuk membangun aset bisnis, dan kemudian asetlah yang menghasilkan uang.

Ketika banyak pegawai puas mengikuti apa yang diminta pimpinan, maka pengusaha harus menjadi pemimpin tertinggi dalam usahanya.

Ketika pegawai umumnya menghindari bertindak yang beresiko salah dan menyebabkan kerugian, pengusaha harus berani bertindak dan menanggung risiko jika salah, dan harus terus bertindak lagi.

Ketika banyak orang terbiasa untuk segera menikmati kesenangan, maka pengusaha harus lebih banyak menunda kesenangan serta hidup dan bekerja sambil “menikmati mimpi” nya.

Saya masih ingat, ketika membangun bisnis, dan harus tinggal di sebuah rumah kontrakan kecil, sahabat saya sejak kuliah kasihan, bahkan sampai menyuruh mencari pinjaman Jamsostek untuk uang muka membeli rumah, karena katanya bunganya kecil. Saya tersenyum dan bilang, “Nggak apa-apa, biar gini aja dulu, ntar kalau sudah waktunya pasti kebeli rumahnya”.

Ketika kebanyakan orang kehilangan uang untuk membeli barang-barang atau hiburan, pengusaha bisa jadi kehilangan uang untuk membangun bisnis yang akhirnya gagal dan tidak dinikmati hasilnya, sebelum akhirnya berhasil.

Ketika banyak pegawai memiliki gengsi tinggi dan mulai MEMBELI barang mewah, serta menikmati hiburan dan jalan-jalan liburan. Pengusaha bertahun-tahun harus melepas gengsi dan MENJUAL produknya, hari libur akan terus bekerja atau ke seminar, bahkan bisa jadi mengajak anak untuk bermain sembari mengikuti aktivitas orang tuanya membangun bisnis.

Ketika teman-teman pegawai berkantor di ruang mewah dan gedung tinggi, pengusaha pemula seringkali berkantor di ruang sempit dan sederhana, bahkan mungkin hanya di pojok ruangan di rumah kecil, berbaur dengan barang dagangan atau pekerja.

Ketika kebanyakan orang memilih membeli mobil bagus jenis sedan atau mobil keluarga, pengusaha mungkin memilih membeli mobil pick up, untuk mengangkut produknya…. dan seterusnya. Ketika fokus membangun bisnis, saya bahkan dulu seringkali menghilang dari pergaulan teman-teman lama saya.

Perubahan jiwa inilah yang perlu waktu, dan semakin cepat kita merasa nyaman dan benar-benar masuk kedalam pola pikir dan memiliki jiwa pengusaha, maka semakin dekat kesuksesan menghampiri kita.

Maka tidak heran, ketika kita bertemu para pengusaha sukses, yang benar-benar sudah besar bisnisnya, seringkali terus menikmati hidup khidmat alias hidup sederhana. Karena sebegitu menyatunya pola pikir sebagai pengusaha yang membangun usahanya dari nol, sehingga mereka merasa tidak nyaman untuk melepas kesederhanaan itu sendiri. Akan tetapi kalau kita sudah sukses, aset bisnis telah menghasilkan income besar, ini tentu menjadi pilihan masing-masing apakah tetap hidup dalam kesederhanaan, atau menikmati kebebasan kita, Anda setuju ?.

Mari kita tengok contoh kisah perjalanan yang mengubah jiwa dan membuat seseorang menjadi semakin terbang tinggi, langit adalah batasnya. Tahun 1981-1984 ( 3 thn ) Chairul Tanjung ( CT ) memulai usaha informal foto kopi, dagang dll sambil kuliah, berada di sekala mikro-kecil. Tahun 1984-1987 ( 3 thn ), berada diusaha semi formal jasa dan perdagangan, seperti alat kesehatan, mobil bekas, kontraktor dll, sekala bisnis kecil-sedang.

Tahun 1987-1996 ( 9 thn ), CT berbisnis manufaktur sepatu, atap bangunan dan keuangan dengan sekala bisnis menengah. Tahun 1996 CT masuk kategori bisnis besar hingga tahun 2000 ( 4 thn) dan sejak tahun 2000 binsisnya telah membentuk grup, yang mendersifikasi ke beragam bisnis, hingga menjadi puluhan perusahaan. Artinya CT butuh waktu antara 1981-1996 atau 15 tahun untuk menjadi bisnis besar dan sesudah itu bisnis nya tak terbendung untuk semakin membesar.

Membaca definisi usaha dari pemerintah, yakni Usaha Mikro: omset kurang dari 300 juta/th dengan aset kurang dari 50 juta. Usaha Kecil: omset 300 juta – 2,5 milyar/th dengan aset 50 – 500 juta. Usaha Menengah: omset 2,5 – 50 milyar/th dengan aset 500 juta – 10 milyar.  Sedangkan Usaha Besar: omset lebih dari 50 milyar/th dengan aset lebih dari 10 milyar.

Sewaktu pertama kali membaca definisi ukuran bisnis diatas, dan segera melihat laporan keuangan, dada saya sempat bergemuruh dan mata berkaca-kaca. Yes… Alhamdulillah tanpa saya sadari ternyata sejak beberapa tahun lalu, yakni sekitar 10 tahun melakukan entrepreneur journey, bisnis yang kami bangun sudah bisa dikategorikan masuk bisnis sekala besar. Konon usaha dengan ukuran ini termasuk kelompok elit, yang baru ada sekitar 5000 an usaha saja di Indonesia.

Pesta Wirausaha bulan Mei nanti adalah sarana untuk mengubah jiwa, sehingga kita benar-benar memiliki jiwa pengusaha. Perubahan jiwa ini akan membawa perubahan hidup kita semua tentunya.

Selamat menikmati entrepreneur journey dan melakukan perubahan jiwa untuk mengubah hidup kita.

Mustofa Romdloni
MR Corporation
@tofazenith