In Inspirasi,Peluang Usaha,Saran Ahli,Tips & Trick,Tips Bisnis

'Local Brand Keren' Harus Dibela – Pesta Wirausaha TDA 2014 (Bagian 1) #PWChangedMyLife

PW TDAPesta Wirausaha (PW) TDA adalah acara tahunan yang digelar oleh komunitas entrepreneur terbesar di Indonesia yaitu komunitas Tangan Di Atas (TDA). Saya sebagai member jadul TDA, tidak pernah absen hadir mulai tahun 2007 yang waktu itu namanya masih Milad (Ulang Tahun) TDA. PW adalah milestone bagi bisnis saya. Dari PW satu ke PW berikutnya banyak manfaat yang saya dapatkan, buat diri pribadi saya, pengetahuan saya, teman teman yang saya punya, networking saya dll. Dari PW satu ke PW berikutnya saya bisa mengukur kemajuan bisnis saya, mengukur pengetahuan, dan mengukur jumlah teman saya. Tentu dong semua makin bertambah.

Saya juga bisa mengukur apa yang bisa saya sumbangkan untuk TDA. Tahun ini di kepemimpinan Presiden TDA @fauzirachmanto saya beruntung bisa memperkuat jajaran Editor & Redaktur web TDA, serta media sosial TDA, yang sayangnya masih belum maksimal *pengakuan.

PW tahun ini bagi saya sangat istimewa, karena merk saya Kane Kane masuk seleksi sebagai produk #ZonaKeren, sesuai dengan tema PW ‘Local Brand Keren’. Supaya cerita tidak melantur ke mana mana, saya batasi pada pembahasan ‘Local Brand Keren’ dan ilmu ilmu Branding yang saya dapatkan di PW kali ini.

‘Local Brand Keren’ digagas oleh Presiden TDA @fauzirachmanto, Founder senior TDA @roniyuzirman dan pegiat ‘creativepreneur’ yang concern dengan misi mengangkat brand brand lokal supaya mendunia, yaitu Arief Budiman @mybothsides, Handoko Hendroyono @Handoko_h, dan @SaktiMakki. Brand lokal harus dibela, dan diangkat untuk bisa sejajar dengan brand internasional. Di TDA banyak pengusaha yang sudah punya brand, punya produk bagus, tapi belum tahu road map-nya untuk menaikkan branding-nya. Itu adalah pekerjaan besar kita bersama.

Karena #ZonaKeren adalah pekerjaan besar yang melibatkan banyak pihak, maka dibentuk ‘task force’ #ZonaKeren, dengan Panglima Koordinator Dee Rahma @HeyDeeRahma. Pihak pihak yg tergabung di dalamnya yaitu, para kurator : Roni Yuzirman, Handoko Hendroyono, Arief Budiman, Sakti Makki, Irvan Noeman, Ayip Budiman. Dewan kurator ini adalah pakar di bidang ilmu yang berbeda beda, ada yang pakar desain, seniman, pakar branding, dan pengusaha.

Project #ZonaKeren juga melibatkan para desainer : Komunitas Do Art, Mahasiswa Binus, Farid Stevy (Desainer, Artist). Dan juga pihak produsen : Benoa Kreati (custom furniture, TDA Bekasi), Omorfa Matia (souvenir dari pelepah pisang, TDA Bandung), Minikinizz (cloth diapers, TDA Jaksel), Furniture Aktif (recycled furniture, TDA Depok), Kane Kane (Fruit Chips, TDA Malang), Dhofaro (kemeja Tenun, TDA Bogor), Sanderm (Wedang Beras Hitam, TDA Jaksel), Bungas Sasirangan (produk dr kain sasirangan, TDA Banjarmasin), Artprint (hiasan printing, TDA Jaksel), Enigami (produk kerajinan kertas, TDA Kampus), Eltaft (sepatu, TDA Bekasi), Rewood (kacamata kayu, TDA Tegal Raya). Keduabelas produsen tsb adalah hasil seleksi dari produk teman teman TDA senusantara yang masuk ke meja dewan kurator.

Saya cerita singkat prosesnya sampai produk produk #ZonaKeren akhirnya bisa nampang di booth ekslusif PW, supaya teman teman TDA yang lain terinspirasi untuk mendaftarkan produknya di #ZonaKeren berikutnya. Setelah proses penyeleksian selesai, produsen diminta komitmennya untuk memproduksi hasil desain ulang produk mereka. Hasil redesign ini adalah karya kolaborasi antara desainer (komunitas Do Art dan mahasiswa Binus) dengan dewan kurator. Ini proses yang amat penting, karena menyatukan ide, seni, sisi bisnis, dan implementasinya dalam suatu produk yang notabene melibatkan banyak pihak dengan bidang ilmu berbeda beda adalah hal yang sulit. Semula saya pesimis, dan memandang project ini adalah ‘mission impossible’ (dari sudut pandang saya sebagai produsen).

Produsen 2

Produsen Zona Keren

Ditambah lagi dengan waktu yang sangat mepet, dan komunikasi yang kurang intens antara produsen, kurator, dan desainer, maka lengkaplah sudah keterbatasan project ini. Tapi hey, pengusaha adalah orang yang bisa menciptakan solusi dari masalah dan keterbatasan yang ada. Kalau tidak bisa terwujud, berhenti saja jadi pengusaha. Akhirnya dengan tekad bulat dan saling menyemangati antar produsen, kami produsen bisa mewujudkan desain produk hasil kolaborasi tsb. Seperti yang Anda semua lihat di #ZonaKeren PW.

Zona Keren 1

Local Brand Keren di Zona Keren

Zona Keren 2

Local Brand Keren di Zona Keren

Meski hasil akhir produk masih belum sempurna, tapiii ini adalah langkah awal mewujudkan mimpi ‘Local Brand Keren’. Saatnya brand lokal naik kelas, dan saatnya pula pengusaha tidak mentok hanya jadi ‘tukang jahit’ saja. Kita harus jadi pemilik brand kelas dunia. Seperti yang disimpulkan oleh @SaktiMakki mentor/kurator saya di sesi mentoring kelompok : bisnis itu duitnya ada di BRAND.

Bisnis itu duitnya ada di BRAND….. wooow jleb banget bukan, sedikit menyakitkan atau banyak malah. Kita produsen yang jumpalitan bikin produk, kemudian jual, bikin lagi jual lagi, perbanyak produk jual lagi, dengan pola yang terus sama seperti itu bertahun tahun, tanpa tahu road map untuk menjadikan produk kita menjadi brand kelas dunia. Apa yang kita dapat dari pola tadi, margin banyak? awareness brand kita meningkat? Tidak.

Malah yang sering terjadi, kita terjebak dalam pola pikir, untuk menghasilkan keuntungan lebih banyak…..ya jual produk lebih banyak, bukan dengan jalan menaikkan branding-nya. Itu seperti ‘rat race’-nya Kiyosaki. Itu keresahan saya duluu, harus berapa karung/kontainer fruit chips yang harus saya jual supaya bisnis saya berkembang.

Supaya lebih bisa dipahami, analoginya begini, sepatu Nike diproduksi di pabrikan Tangerang katakan dengan biaya produksi 100rb, dijual di toko seharga 500rb (sudah pada tahu kan Nike tidak memproduksi sendiri). Duit yang masuk ke ‘tukang jahit’ dalam hal ini pabrikan berapa? 100rb. Sedangkan yang masuk ke pemilik brand Nike, berapa? katakan 400rb. Nah, jika sepatu tsb dengan biaya produksi dan pabrikan yang sama tapi dijual katakan dengan merk Neki, adakah orang yang mau beli dengan harga 500rb?

Analogi sederhana di atas menggambarkan, pemilik brand mendapatkan duit lebih banyak daripada pabrikan, dengan ‘hanya’ bermodalkan brand Nike. Tapi untuk menciptakan brand yang seperti Nike adalah tidak mudah, tidak bisa instan. Ada road map yang harus dilalui oleh pengusaha, dan tentu ada ilmunya tersendiri.

Di bagian #2 saya akan menuliskan intisari mentoring kelompok oleh @SaktiMakki seorang konsultan brand yang kliennya adalah brand brand ternama di Indonesia (Garuda Indonesia, Indofood, dll), beliau adalah mentor/kurator saya di #ZonaKeren. Dan saya akan menuliskan juga materi branding (lagi) yang saya dapat dari Teguh Wibawanto (Direktur Kerjasama Eksternal TDA) @teguhhydro, materi yang beliau berikan adalah materi waktu beliau mengikuti workshop branding Hermawan Kertajaya, yang ini lebih ke road map-nya, how to-nya.

Jadi benar PW kali ini, saya ‘mabuk’ BRANDING, semoga saya bisa mengimplementasikannya di bisnis saya sekeren ilmu yang saya dapatkan. Teori doang tanpa praktek adalah sia sia…yes.

 

Dyah Purana
Tim Redaksi Web TDA
kanekane.aremafood.com