In Inspirasi,Peluang Usaha,Saran Ahli,Tips & Trick,Tips Bisnis

'Local Brand Keren' Harus Dibela – Pesta Wirausaha TDA 2014 (Bagian 2) #PWChangedMyLife

PW TDASaya lanjutkan lagi tentang oleh oleh ilmu branding yang saya dapat dari PW TDA 13-15 Mei kemarin. Ilmu pertama saya dapatkan dari @SaktiMakki mentor/kurator saya di #ZonaKeren PW.  Pak Sakti memberikan waktunya sekitar 2 jam lebih untuk mentoring kelompok (privat) produsen #ZonaKeren di sela sela waktu PW. Permasalahan klasik UKM dan startup adalah kesulitan mengakses ilmu advanced, karena mahal dan gak ada network ke sana.

Di bagian #1 sudah saya sebut intisari dari bisnis : Bisnis itu duitnya di BRAND.

Apakah startup juga harus melakukan branding dulu daripada aktivitas menjual? Yup, betul sekali. Saya berusaha keras mencerna pemikiran ala ‘corporate’ dalam jawaban ini. Karena dogma UKM dan startup yaitu di awal awal usaha pasti banyak nih yang milih rute : bikin produk kemudian jual, branding menyusul atau malah belum terpikir. Karena prioritas kita adalah cash flow. Sakti menegaskan bahwa sebaiknya prioritas startup adalah BRANDING dengan langkah awal image building dulu. Beliau menjelaskan dengan istilah push dan pull. Aktivitas selling adalah push, sedangkan branding adalah pull. Gak mungkin pebisnis push terus, harus ada aktivitas supaya konsumen pull produk kita. Pebisnis harus membangun ketertarikan konsumen untuk pull produk kita.

Forget about the product, focus on the brand. Gunakan produk untuk membawa message ke konsumen, jadi produk hanyalah kendaraan. Setelah branding dimulai pebisnis bisa membangun economic scale-nya.

Sakti memberikan tips pada produsen Zona Keren tahapan launching produk baru atau desain produk baru. Branding dimulai dengan image building, di sini packaging memegang peranan penting.

Packaging harus didesain mengambil sudut pandang konsumen. Yang harus ditekankan adalah benefit apa yang akan didapat oleh konsumen, bukan apa yang dipikirkan/diasumsikan oleh produsen. Package harus bisa deliver message yang ingin disampaikan ke konsumen. Packaging kelas A, ekspektasi konsumen juga kelas A, nah delivery juga harus kelas A. Ada baiknya sebelum mendesain packaging, melihat dulu kompetisi yang ada, bagaimana desain produk kompetitor, produk kita harus dibikin beda.

Produsen jangan terjebak dengan asumsi sendiri. Saya ambil contoh supaya lebih mudah dipahami. Teman saya pernah me-launch produk baru yaitu camilan sejenis kerupuk. Dia membuat beda produknya, kalau produk lain bentuknya bulat biasa, produknya dia bikin unik dengan bentuk lain misalnya bintang. Dia berasumsi dengan bentuk yang unik pasar akan tertarik dengan produknya. Asumsi tsb bisa benar bisa juga kurang tepat. Kurang tepat kalau dia tidak membangun kompetensi lain, misal rasa yang enak, kemasan yang bagus, dan hanya berpijak pada 1 kompetensi saja (bentuk) apalagi kompetensi itu berdasar asumsi saja. Ada kemungkinan produk kurang diterima pasar.

benefitMelanjutkan tentang benefit tadi, benefit yang akan dijadikan message di kemasan dipilih berdasarkan prioritas apa yang ingin ditonjolkan. Ibaratnya anak panah, apa yang akan ditaruh di mata anak panah, batang anak panah, dan ekor anak panah. Nah di mata anak panah itulah letak prioritas message yang ingin kita sampaikan ke konsumen. Message jangan terlalu banyak, karena akan membingungkan konsumen, alih alih malah gak terbaca.

Sakti mencontohkan, di corporate, untuk launch produk baru harus melalui beberapa tahap. Tahap awal adalah membawa desain produk baru minimal ada 5 opsi ke Focus Group. Focus Group ini biasanya adalah pihak lain yang di-hire untuk memberi masukan, saran dan informasi terkait produk. Mereka adalah para profesional di bidangnya, 1 grup biasanya ada 8-10 orang dan ada moderatornya. Moderator bertugas untuk menggali informasi dan data data dari anggota. Dari 5 opsi desain tadi dipilih mana yang paling menonjol, dan akan dipakai sebagai basic.

Hasil dari Focus Group tadi bersifat kualitatif, tahap selanjutnya adalah membawa calon produk baru untuk tes kuantitatif, dibuatlah kuisioner. Dipilih tempat penyebaran kuisioner, misalnya Jabar, di kota mana harus spesifik. Tujuan kuisioner ini adalah untuk mendapatkan informasi yang akurat dari konsumen yang sebenarnya, apakah mereka menyukai calon produk yang akan di-launch tsb. Tidak boleh ada bias. Bias seperti apa ? Contoh nih kalau konsumen (pengisi kuisioner) diberi insentif, maka input yang kita dapatkan bisa beda dari apa yang sebenarnya ingin diucapkan oleh konsumen. Sakti menjelaskan kalau orang Indonesia itu sopan, jika konsumen tahu bahwa produsennya adalah teman sendiri, pasti mereka bilang produk kita enak.

diskonTips lain tentang konsistensi harga juga saya dapatkan dari sesi mentoring ini, Sakti menjelaskan kalau kita sudah mematok target grup untuk produk kita, konsistenlah di sana. Kalau produk kita untuk kelas A, semua branding effort, iklan, promosi harus konsisten untuk target Kelas A. Contoh yang sederhana yaitu tentang harga. Jangan pernah ada diskon, sekali kita keluarkan diskon, konsumen pasti akan menunggu diskon untuk membeli. Kalau bisa harga produk itu naik terus, jangan pernah diturunkan. Promosi bisa dilakukan dengan bundling product daripada diskon, meski mungkin HPP-nya sama, tapi image di benak konsumen bisa beda.

Dalam bisnis Sakti menyimpulkan bahwa tidak ada rumusan yang baku, ada banyak subjektivitas di situ, tapi kita bisa berpegang pada disiplin ilmu yang ada.

Semoga memberi manfaat, meski tulisan saya meloncat loncat. Ternyata sulit bagi saya merangkum obrolan (mentoring) selama 2 jam lebih kemarin menjadi tulisan yang runtut he he.

Tulisan bagian #1 silakan klik :

http://tangandiatas.com/2014/05/18/local-brand-keren-harus-dibela-pesta-wirausaha-tda-2014-bagian-1-pwchangedmylife/

 

Dyah Purana
Tim Redaksi Web TDA
kanekane.aremafood.com