In Inspirasi,Peluang Usaha,Saran Ahli,Tips & Trick,Tips Bisnis

Emas di Tempat Sampah

MR4

Mustofa Romdloni bersama Top Leader dari USA

Setelah mengisi materi di panggung Pesta Wirausaha di Sasana Kriya beberapa waktu lalu, seorang ibu mendatangi saya, dan mengajak diskusi cukup lama tentang beberapa tantangan yang di hadapinya dalam mengelola bisnis. Padahal ibu ini telah memiliki bisnis yang luar biasa, dengan 60 an karyawan dan 16 buah toko untuk produk interior rumah.

Salah satu masalah yang dia hadapi adalah susahnya menemukan karyawan yang bagus, dan membuat karyawan betah bekerja. Beberapa peserta Kelompok Mentoring Bisnis ( KMB ) yang saya mentori pun mengalami masalah yang sama.

Saya tidak kaget dengan masalah seperti ini, karena hal ini bukan hanya dihadapi pelaku UKM, tetapi perusahaan besar pun bisa mengalami hal yang sama. Dan untuk UKM, masalah ini tentu lebih banyak muncul, karena minimnya sumber daya untuk membuat daya pikat yang kuat supaya orang-orang berkualitas baik mau bekerja dan menjadi betah di usaha kita.

Dari workshop atau kantor yang terlalu sederhana, penghasilan yang tidak besar, belum lagi benefit-benefit lain di bidang kesehatan, fasilitas, hiburan dan lain-lain, yang seringkali di dapat di perusahaan besar, adalah kemewahan yang susah di dapat di usaha UKM.

Banyak hal tentu saja yang bisa menjadi jurang perbedaan bekerja di usaha kecil dibanding bekerja di usaha besar. Tapi apakah kita sebagai pengusaha lantas menyerah dan tidak berdaya? Hanya bisa mendapat karyawan ala kadarnya dan tidak bisa memperoleh kesetiaan dari karyawan hebat.

Tentu tidak, dengan banyaknya tenaga kerja yang tidak terserap di perusahaan-perusahaan besar, karena terbatasnya kebutuhan. Serta kemandekan karir untuk mereka yang sudah berpengalamanpun, sangat membuka peluang kita untuk memiliki karyawan-karyawan hebat.

Soal mencari karyawan bagus ini, meski agak lupa detilnya, saya mengingatkan diri dengan suatu kisah di buku lama karangan Emha Ainun Nadjib, dia bercerita tentang anak muda pekerja keras tetapi, karena nasib terdampar bekerja di tempat yang boleh dibilang buruk, yakni sebagai petugas pembantu umum di sebuah lokalisasi di kota Surabaya.

Di lokalisasi ini, anak muda tersebut tetaplah bekerja keras dan sepenuh hati, menjadi orang yang disukai dan dipercaya di sana. Kurang lebih kisah berikutnya adalah, kemudian ada orang yang mengetahui tentang kualitas anak muda ini, dan menawarkan pekerjaan  yang lebih layak kepadanya. Selanjutnya semakin terbukti anak muda ini memang layak diberi tanggung jawab yang lebih besar. Berkemauan kuat belajar dan bekerja keras, membuatnya mampu menjadi pemimpin tinggi di perusahaan itu.

Emha mengibaratkan anak muda tadi sebagai emas, bahwa emas ketika berada di tempat sampah sekalipun, ketika ditemukan orang, tetaplah barang yang berharga mahal. Manusia berkualitas emas, tetaplah menjadi emas ketika bekerja di tempat sederhana, dan akan semakin mengkilap jika berada di tempat yang semakin layak dan diberi kesempatan untuk menunjukkanya.

Saya berusaha memakai prinsip menjadi emas tersebut ketika mulai bekerja di perusahaan orang lain, dan meski pernah dalam setahun 3 kali pindah perusahaan karena menganggap perusahaan lama kurang pas, alhamdulillah semua perusahaan yang saya tinggalkan, meski saya bekerja hanya beberapa bulan, mereka memberi penilaian bagus, dan memberi kepercayaan yang lebih besar ketika saya di sana.

Bahkan ketika perusahaan saya tinggalkan, senantiasa terucap kata perpisahan, dengan tambahan doa, ucapan terima kasih dan mengingatkan, bahwa jika di pekerjaan baru ada masalah, dan ingin kembali, maka perusahaan lama mempersilakan kepada saya jika ingin melakukannya.

Ketika saya mencari anggota tim di usaha saya sendiri pun, kurang lebih seperti itu. Saya berusaha menemukan manusia-manusia emas itu, meski saya tidak mampu menghargai dengan uang yang banyak, maka saya tawarkan visi, kepercayaan, dan harapan masa depan. Mereka percaya, dan bersedia berjuang bersama saya untuk mewujudkannya. Dengan pelan namun pasti, kami terus mendekati visi dan harapan masa depan. Dan ketika visi sedikit-demi sedikit semakin dekat, maka manusia-manusia emas ini juga semakin bersinar dan semakin tinggi nilainya.

Ketika kami menerima anggota tim yang ternyata bukan kategori emas, dalam masa percobaan tiga bulan anggota tim berisi para emas ini sudah bisa merasakan dan memutuskan, bahwa lebih baik menggantinya dengan mencari  anggota tim yang baru.

Manusia emas memang harus dicari dan ditemukan. Dan seringkali kita menemukan batu atau besi, yang susah sekali dipaksakan untuk membentuknya menjadi emas. Karena emas adalah sikap, emas adalah karakter, dan sudah sewajarnya membentuk karakter adalah pekerjaan panjang dan lama. Jika kita belum bisa, ada baiknya lebih berfokus menemukan emas daripada membentuk emas.

Membangun sikap atau karakter, tidak semudah membangun kemampuan teknis yang lebih cepat untuk dipelajari. Akan tetapi masalahnya adalah, sesuai survey para ahli, kesuksesan seseorang 85 % nya ditentukan oleh sikap atau karakternya, dan hanya 15 % ditentukan oleh keahlian teknisnya.

Akan tetapi bukan hanya berusaha mencari dan menemukan manusia emas di tim kita. Sudah sepatutnya kita sebagai pemimpin usaha, mengintropeksi diri, apakah kita sudah berusaha menjadi manusia emas itu sendiri ? Karena menjadi emas bukan bicara passion atau kesukaan, tetapi berbicara tentang keharusan. Bahwa setiap orang harus berusaha layak dipercaya dan mampu melaksanakan tanggung jawab dengan sebaik-baiknya, suka atau tidak suka dengan pekerjaanya.

Karena hanya manusia emas yang bisa memimpin manusia-manusia emas yang lain. Sehingga emas yang berada di tempat sederhana sekalipun, dapat bertahan di sana, tetap bersinar dan berharga mahal. Sehingga mereka akan mengubah tempat yang sederhana itu menjadi semakin layak untuk para emas meletakkan diri sembari terus memancarkan kilaunya yang semakin cemerlang.

Mustofa Romdloni
MR Corporation
@tofazenith