In Inspirasi,Peluang Usaha,Saran Ahli,Tips & Trick,Tips Bisnis

Cash is Blood!

MR With product

Mustofa Romdloni

Beberapa hari lalu, ada teman yunior yang menelpon saya dan bercerita tentang kondisi usaha dia yang kesulitan cash flow atau aliran dana, karena banyaknya pembayaran dari pelanggan yang ditunda.

Mendapat cerita seperti ini, tentu saya tidak kaget, karena hal yang wajar terjadi dan saya pun sampai sekarang mengalami kejadian dimana beberapa pelanggan juga terlambat melakukan pembayaran.

Akan tetapi perbedaanya dengan yunior saya tersebut adalah, resiko keterlambatan dalam bisnis kami sudah terukur dan di antisipasi, sehingga tidak sampai mengganggu cash flow dan jalannya perusahaan.

Sekitar tujuh tahun lalu, saya juga punya teman yang ketika tengah membangun usahanya di bidang kontraktor, harus berjibaku menghadapi tagihan-tagihan dari pemasok dan lembaga keuangan, karena pembayaran dari pelanggan tak kunjung turun. Saat itu dia awalnya mendapat satu proyek membangun tower dari sebuah perusahaan telekomunikasi, kemudian ketika proyek pertama hampir selesai meski belum jelas pembayarannya, dia menerima tawaran untuk mengerjakan dua proyek berikutnya dari pelanggan yang sama.

Teriming-iming oleh nilai proyek dan keuntungan yang besar, akhirnya dia memaksa diri untuk menggarap proyek-proyek itu, padahal dana untuk mengerjakan proyek kontraktor sebagian besar dia peroleh dengan menjaminkan rumah dan mobil. Setelah pekerjaan selesai, ternyata berbulan-bulan pembayaran tak kunjung masuk, padahal tagihan terus berdatangan. Bahkan karena tidak sanggup menghadapi “teror” dari pemasok dan penagih lembaga keuangan, maka teman saya tersebut sampai mengajak keluarganya pindah tempat tinggal ke pulau lain, dan mencari nafkah di sana.

Teman-teman saya di atas mengalami problem yang sama, yakni cash flow yang tidak lancar. Problem ini banyak dialami oleh pengusaha, bukan hanya pengusaha baru, tetapi juga pengusaha senior sekalipun, apalagi momen mendekati lebaran seperti ini, beberapa pengusaha yang saya kenal juga kelimpungan kekurangan dana cash untuk membayar gaji dan THR karyawan, termasuk perusahaan besar dengan kebutuhan milyaran rupiah.

Cash Flow adalah Aliran Darah Meski pengusaha kecil dan besar bisa mengalami masalah cash flow, pada kenyataannya dampak cash flow yang terhenti bisa sangat fatal terhadap pengusaha kecil atau pemula. Boleh dibilang ini adalah salah satu pembunuh usaha yang paling mematikan.

Karena cash flow adalah seperti aliran darah dalam tubuh. Dokter mengatakan, darah adalah organ terpenting untuk hidup, jika darah yang berfungsi utama mengangkut oksigen berhenti mengalir dalam beberapa waktu yakni sekitar 10 menit saja, maka akan terjadi kegagalan dalam seluruh sistem tubuh.

Ketika tidak ada aliran cash dalam bisnis dalam beberapa waktu, maka bisa dipastikan bisnis juga akan mengalami kegagalan.

Mengapa cash flow yang terhenti bisa menyebabkan bisnis gagal? Karena hampir semua elemen dalam bisnis harus digerakkan dengan dana alias fulus. Entah itu pemasok, karyawan, listrik, sewa tempat, lembaga keuangan, pengiriman barang dsb. Ketika tidak tersedia dana, elemen-elemen dalam bisnis tidak bisa menjalankan fungsinya, maka tidak akan ada produk dan jasa yang dibisniskan, sehingga tidak ada pelanggan untuk dilayani. Dan tentu saja bisnis segera menuju kegagalan dengan cepat.

Pada akhirnya keahlian menghasilkan dan mengelola cash flow adalah keahlian terpenting yang harus dikuasai sang pengusaha. Kita tidak bisa bersembunyi dari tanggung jawab ini, dan berlindung di balik ketidakpahaman soal keuangan atau hanya merasa ahli di bidang produk saja, marketing saja, atau mengorganisir orang, dan keahlian lainnya.

Darimana Datangnya Cash Flow yang Sehat ?

Lantas dari mana datangnya cashflow yang sehat? Saya buat beberapa poin berikut, meski agak teoritis dan membosankan, namun demikianlah jika ngomong soal keuangan, berikut beberapa ide yang ada:

– Bisa dari penjualan produk dengan untung yang mencukupi,
– Bisa dari manajemen tempo pembayaran pelanggan yang lebih cepat dibanding tempo pembayaran tagihan ke pelanggan
– Fokus pada pengeluaran untuk biaya produk dan layanan dibanding penampilan, seperti tidak perlu sewa tempat usaha yang mewah, komputer, kendaraan dan investasi lain melebihi yang dibutuhkan
– Punya cadangan atau persiapan untuk kemungkinan terburuk, kalau kondisi tidak berjalan sesuai rencana
– Cukup tegas memilah uang bisnis dan uang pribadi, bisa mencegah pemakaian uang bisnis untuk keperluan pribadi. Dengan menggaji rutin diri sendiri, maka kita lebih disiplin dalam menggunakan uang untuk kebutuhan sendiri sesuai kemampuan pribadi, sehingga uang bisnis tetap terjaga untuk cash flow usaha.
– Kemampuan menahan diri dari godaan oleh order yang besar, sehingga tidak menjadi “tamak” menerima order tanpa memperhitungkan kemampuan, bahkan yang lebih bahaya yakni tanpa memperhatikan kemampuan dan rekam jejak alias tabiat pelanggan, yang seringkali termasuk tidak bisa dipercaya (seperti yang dialami teman saya diatas).
– Memperoleh dana segar dari pihak diluar perusahaan entah dari teman, saudara, lembaga keuangan, investor dll. Terkadang memang dibutuhkan dana segar, ketika terjadi peningkatan kebutuhan modal kerja untuk melayani peningkatan permintaan pelanggan terpercaya.
– Membuat catatan keuangan dan rencana pengeluaran–pemasukan yang diperbarui secara periodik seperti mingguan, supaya kita memahami kondisi cash flow dan segera mengambil tindakan yang diperlukan
– Dan ide-ide lainnya

Terakhir mari kita ingat lagi, betapa pentingnya aliran uang cash dalam bisnis kita. Bahkan boleh dibilang profit hanyalah ilusi, sedangkan cash itu nyata. Jangan sampai terjadi istilah profit hanya di atas kertas, tetapi kenyataannya uangnya di rekening tidak ada. Cash is like our blood in the body!

Cash adalah seperti darah dalam tubuh kita!

Mustofa Romdloni
MR Corporation
@tofazenith