In Inspirasi,Peluang Usaha,Saran Ahli,Tips & Trick,Tips Bisnis

Barisan Para Mantan

MR6

Mustofa Romdloni

Sebenarnya saya berniat untuk menulis sebuah artikel yang berisi ide mutakhir tentang strategi bisnis atau marketing yang sederhana tapi dahsyat. Tetapi ketertarikan melihat video lagu dari grup musik The Rain dengan judul “Terlatih Patah Hati” membuat saya asyik banget menikmati lagu ini. Selain lagu yang enak dengan lirik lucu, video dengan pemerannya yang lugu tapi kocak juga membuat saya penasaran untuk menonton sampai akhir. Walhasil keinginan menulis dengan ide mutakhir tersebut menjadi buyar.

Tetapi setelah saya pikir-pikir, lagu dari The Rain ini asyik juga kalau kita bahas jadi bahan tulisan kali ini, buat Anda yang belum dengar lagunya, coba deh dicari-cari di YouTube dan dengarkan.

Nah begini isi lirik lagu “Terlatih Patah Hati”:

“Aku sudah mulai lupa. Saat pertama rasakan lara
Oleh harapan yang pupus. Hingga hati cedera serius
Terima kasih kalian. Barisan para mantan
Dan semua yang pergi. Tanpa sempat aku miliki
Tak satupun yang aku sesali. Hanya membuatku semakin terlatih
Begini rasanya terlatih patah hati. Hadapi getirnya terlatih disakiti
Bertepuk sebelah tangan (sudah biasa). Ditinggal tanpa alasan (sudah biasa)
Penuh luka itu pasti tapi aku tetap bernyanyi
Lama tak ku dengar tentangnya. Yang paling dalam tancapkan luka
Satu hal yang aku tahu. Terkadang dia juga rindu
Terima kasih kalian. Barisan para mantan
Dan semua yang pergi. Tanpa sempat aku miliki
Tak satupun yang aku sesali. Hanya membuatku semakin terlatih
Begini rasanya terlatih patah hati. Hadapi getirnya terlatih disakiti
Bertepuk sebelah tangan (sudah biasa). Ditinggal tanpa alasan (sudah biasa)
Penuh luka itu pasti tapi aku tetap bernyanyi”

Lagu ini menjadi menarik untuk dibahas, karena jika kita korelasikan dengan perjalan membangun bisnis, ternyata sangat klop dan relevan. Lagu ringan dan terkesan ceria ini sebenarnya mengajarkan satu aplikasi kecerdasan yang menurut para ahli paling berpengaruh untuk sukses, yakni Adversity Quotient. Menurut Paul G. Stoltz dalam bukunya, pengertian Adversity quotient adalah kecerdasan menghadapi kesulitan atau hambatan dan kemampuan bertahan dalam berbagai kesulitan hidup dan tantangan yang dialami.

Yah tentu saja ini kecerdasan yang bukan hanya sebaiknya dimiliki, tapi harus dimiliki oleh para entrepreneur. Karena apa? Karena ketika kita mengalami lara dan cedera serius karena kegagalan bisnis kita, ya mesti segera berlatih melupakannya. Proyek atau bisnis baru segera dimulai lagi dan rasa getir serta patah hati semestinya membuat kita terlatih dan terus bernyanyi, alias bisa menikmati dan terus beraksi.

Sayapun penasaran, apakah proses membangun bisnis saya jika didaftar sudah membentuk ”barisan para mantan ?” Oke bisnis yang pernah saya jalani, dari les privat, multi level marketing, perdagangan umum untuk industri, jasa ekspedisi barang, warung ayam bakar, dagang sandal, speaker dan jaket kulit, bisnis limbah plastik, online comodity trading, hingga bisnis konsultan dan perdagangan kimia, serta produsen biji plastik untuk bahan baku industri. Dan mungkin masih ada lagi.

Melihat daftar barisan para mantan bisnis di atas, bisa membuat saya tersenyum dan juga berkaca-kaca, karena dibalik daftar itu banyak kisah tersembunyi, dari yang paling lucu dan menyenangkan sampai yang paling sedih dan mengharukan tentunya.

Kita semua tentu pingin punya ide bisnis atau rencana bisnis yang begitu kita jalankan langsung berhasil meledak dan sukses dipasar, sehingga kita bisa menikmati hidup bagai ratu dan raja disepanjang akhir hidup.

Akan tetapi seperti data yang dinyatakan oleh Michael E. Gerber dalam bukunya The E-Myth menyatakan bahwa 40% perusahaan kecil tutup di satu tahun pertama. Dan pada akhirnya lebih dari 80% bisnis akan tutup sebelum ulang tahunnya yang kelima.

Membuat kita menyadari bahwa mengalami fase beberapa kegagalan mungkin akan terjadi, maka kita sudah semestinya tidak usah kaget. Toh data dan fakta disekitar kitapun seperti itu. Banyak bisnis yang sempat beken beberapa tahun lalu, kemudian menghilang ditelan bumi.

Sehingga kita bisa memahami apa yang di ungkapkan Sir Richardson pengusaha minyak tersukses Texas Amerika, ”Saya telah bangkrut berulangkali sampai saya mengira hal tersebut adalah kebiasaan”. Atau yang disampaikan George Johnson, yang pengusaha multi milyarder, ”Jika kesalahan meninggalkan bekas luka, Anda tidak sanggup melihat saya”.

Akhirnya saya mengingatkan diri saya dan Anda, bahwa untuk mengubah kondisi yang ada, satu hal yang mutlak diperlukan adalah bertindak. Karena pelaut tidak akan menemukan pulau baru jika tidak pernah berlayar mengarungi samudera. Dan, kita tahu hukumnya bahwa setiap tindakan memiliki peluang berhasil dan gagal.

Pertanyaannya, apakah pengalaman kesalahan dan kegagalan kita jika dijajarkan sudah cukup di sebut sebagai ”barisan para mantan?” Kalau belum, mungkin kita belum cukup bertindak dan serius dalam membangun bisnis dan masa depan kita.

Suasana semakin malam, dan dengan suara pelan lagu The Rain masih terdengar dari laptop saya….Terima kasih kalian. Barisan para mantan….Dan semua yang pergi. Tanpa sempat aku miliki…Tak satupun yang aku sesali. Hanya membuatku semakin terlatih….

Mustofa Romdloni
MR Corporation
@tofazenith