In Inspirasi

Mahalnya Nilai Keahlian

MR6

Mustofa Romdloni

Beberapa hari lalu, saya ditunjukkan surat perjanjian dari seorang teman. Perjanjian itu berisi kerjasama dirinya dengan sebuah perusahaan besar yang diwakili sang pemilik dan sekaligus presiden direktur. Tak tanggung-tanggung, teman saya ini karena keahlianya, dipercaya untuk membangun sebuah pabrik, dengan total investasi senilai sekitar 25 milyar rupiah. Dia sebagai orang yang dipercaya untuk membangun dan menjalankan perusahaan itu, di berikan saham sebesar 10%, atau sekitar 2,5 milyar rupiah.

Artinya, teman saya ini mampu menjadi salah satu pemilik perusahaan dengan nilai milyaran, tanpa bermodal uang, tetapi hanya bermodal kehahlian yang dia peroleh selama perjalanan karir dan kehidupan dia. Melihat kisah teman saya diatas, membuat saya teringat dengan tulisan bang Zainal Abidin ( Jay Teroris ) beberapa waktu lalu mengenai intangible asset yang dijadikan modal bisnis.

Dan memang faktanya banyak sekali pengusaha sukses yang terinspirasi dari apa yang mereka pelajari di pekerjaan mereka. Bahkan banyak kisah pengusaha yang awalnya sangat berminat pada suatu bidang, kemudian mereka mau berusaha untuk menjadi ahli dengan rela magang atau bekerja di perusahaan tempat mereka ingin belajar.

Soichiro Honda misalnya, saking gandrungnya pada dunia permesinan, awalnya dia rela bekerja sebagai pengasuh anak bos sebuah bengkel besar, hanya untuk belajar mesin di bengkel bosnya tersebut. Dia juga mendaftar kuliah tetapi tidak mendapat ijazah, karena hanya masuk pada mata kuliah yang dianggap membuat dia lebih ahli dalam hal permesinan saja.

Dalam dunia fashion ada kisah menarik tentang para desainer dan pengusaha papan atas dunia yaitu: Jean Paul Gaultier, sebelum sukses meluncurkan desain dan bisnis sendiri dengan label top seperti Jean Paul Gaultier dan Hermes, ternyata sempat bekerja sebagai asisten desainer kenamaan Pierre Cardin selama beberapa tahun.

Pierre Cardin sendiri telah bekerja di beberapa perusahaan fashion, dan terakhir menjadi kepala di studio desain Christian Dior, dan tiga tahun kemudian baru mendirikan rumah mode sendiri. Sedangkan Christian Dior pernah bekerja sebagai desainer mode selama sekitar 6 tahun di rumah mode Robert Piguet dan rumah mode Lucien Lelong. Sampai akhirnya Dior mendirikan rumah mode sendiri dengan didukung oleh Marcell Boussac, seorang pengusaha tekstil.

Saya pernah melakukan proses yang mirip dengan kisah-kisah di atas dalam membangun perusahaan di industri plastik. Dan saat ini saya juga mulai menggandeng orang yang lebih muda dari saya, yang punya keahlian dalam suatu bidang untuk memulai dan membangun sebuah perusahaan. Kerjasama yang ini saya nilai cukup berhasil, meski sebelumnya saya juga pernah mengalami kegagalan dalam membangun usaha dengan menggandeng partner yang saya nilai ahli.

Apakah Anda mau mencoba menjadi milyarder dengan cara-cara yang dikisahkan di atas ? Kalau iya, pertanyaan selanjutnya, apa keahlian Anda yang bernilai tinggi untuk dijadikan bisnis ?

Sudahkah kita membangun kompetensi pada suatu bidang yang kita minati dan membuat kita layak disebut ahli ?

Mustofa Romdloni
MR Corporation
@tofazenith