In Inspirasi,Peluang Usaha,Saran Ahli,Tips & Trick,Tips Bisnis

Kenangan Masa

Jay Teroris

Zainal Abidin
Direktur Pengawasan & Kepatuhan TDA

Saya mulai tulisan ini dengan pertanyaan : tahukah kita nama orang tua kita? Dengan keyakinan penuh, saya yakin bahwa 99 persen dari kita tahu persis nama bapak dan ibu kita masing-masing.Pertanyaan berikutnya : tahukah kita nama kakek dan nenek kita? Biasanya, angkanya menurun sampai 70 – 80 persen. Memang ada bias. Ada yang tahu nama kakek, tapi nggak tahu nama neneknya. Atau sebaliknya. Atau bisa juga, tahu persis nama kakek nenek dari pihak bapak, tapi sama sekali tidak tahu nama kakek nenek dari pihak ibu. Atau sebaliknya.

Pada pertanyaan ketiga, tahukah kita siapa kaken-nenek buyut kita?  Biasanya jawaban sudah menurun ke arah nol persen. Hampir semua dari kita, sama sekali tidak tahu, siapa nama kakek nenek buyut kita. Makin jauh kita telusuri siapa leluhur kita, ternyata bukan makin terang, tapi justru semakin gelap.

Pertanyaan lanjutannya adalah, mengapa demikian?

Tentu saja banyak jawaban, yang seringkali berujung pada satu hal. Menyalahkan. Misalnya, orang tua tidak bercerita banyak soal leluhur. atau bisa jadi, orang tua juga tidak tahu siapa-siapa leluhur kita. Dan alasan klasiknya adalah, ketika kita lahir, para leluhur itu sudah tiada, dan makamnya pun entah di mana?

Mengapa kita tidak berinisiatif untuk ‘mengorek’ informasi, siapa para leluhur kita? Sumber informasi utama memang orang tua, tetapi toh itu tidak menutup kemungkinan bagi kita untuk menelusuri informasi itu dari pihak lain. Bukan sekedar menunggu orang tua bercerita soal para leluhur.

Atau ada alasan lain yang lebih kuat tapi tidak ternyatakan. Misalnya, para leluhur kita, -maaf, tidak meninggalkan sesuatu untuk kita, para pelanjut generasinya. Sesuatu itu bukan sekedar harta yang tidak habis dimakan tujuh turunan, tapi bisa juga cerita kepahlawanan atau karya besar yang dikenang sepanjang masa.

Pertanyaan pamungkasnya, apakah kita ingin bernasib seperti para leluhur kita, atau kita ingin berbeda?

Jika kita ingin bernasib sama, tiru saja apa yang sudah terjadi. Jangan tinggalkan apapun yang bisa jadi alasan bagi anak-cucu kita untuk mengenang kita. Dan dalam satu dua generasi, jasad dan nama kita akan hilang ditelan bumi dan zaman.

Kalau kita ingin dikenang anak-cucu-cicit serta keturunan selanjutnya, tinggalkan sejumlah harta yang tidak habis dimakan tujuh turunan. Untuk skala yang lebih besar, bukan sekedar tercatat dalam silsilah keluarga, tinggalkan karya. Bisa jadi keberadaan kita akan dikenang oleh sebuah bangsa, bahkan jadi legenda dunia.

Do better, leave legacy …

Zainal Abidin
Direktur Pengawasan dan Kepatuhan TDA
HeadMaster SekolahMonyet.com
Direktur Social Entrepreneur Academy Dompet Dhuafa