In Kolom Opini

I Did it My Way

i-did-it-my-wayBertahun-tahun yang lalu, saya pernah berdiskusi dengan Pakde yang punya bisnis percetakan. Dia berkeluh kesah tentang betapa dia kecewa dengan mereka yang dijadikan staf di usahanya, dan diberi tanggung jawab untuk menyelesaikan tugas tetapi hasilnya kurang sempurna. Walhasil Pakde saya ini mengambil alih lagi pekerjaan yang sudah dia coba delegasikan. Ini lebih baik, daripada hasil kurang bagus dan saya suka naik darah, karena sering memarahi mereka, jelas Pakde.

Kejadian yang sama, bahkan terjadi juga ketika Pakde saya ini beberapa kali mengangkat saudara menjadi staf di usahanya. Walhasil daripada nggondok, karena tidak puas dengan pekerjaan yang telah dipercayakan orang lain, maka banyak pekerjaan yang diambil alih lagi sama beliau, dan lagi…dan lagi.

Akhirnya Pakde saya ini merasa kecewa, tidak percaya pada orang lain untuk membantunya, dan masuk jebakan superman, alias jadi orang yang merasa paling jago untuk mengurusi beragam pekerjaan pada bisnisnya. Pemikirannya adalah, cuma saya dan dengan cara saya yang bisa melakukan ini yang terbaik.

Dia terjebak dengan sibuknya mengurusi operasi harian dari usaha percetakanya, sehingga tidak punya waktu lagi untuk berpikir dan bertindak, bagaimana untuk memperbesar usahanya. Memang secara pendapatan untuk pribadinya sudah lumayan, tapi dari ukuran bisnis mengalami stagnasi. Hanya menggantungkan order pada pelanggan yang itu-itu saja, dan tidak berani menerima order-order baru, karena dia takut kuwalahan untuk mengurusinya. Karena pola pikirnya “hanya saya dan dilakukan dengan cara saya” maka pekerjaan dalam bisnisnya bisa di selesaikan dengan baik. Layaknya bait lagu legendaris dari Frank Sinatra “ I did it my way…”.

Ketika Pakde saya semakin berumur, dan kemampuan fisiknya semakin melemah, dengan pola kerja yang seperti di atas, tentu kita bisa memperkirakan, bahwa seiring bertambahnya waktu bisnisnya juga semakin melemah.

Saya ingat, ketika awal-awal membangun bisnis perdagangan, yang harus mendatangkan barang dari luar negeri dan menghadapi rumitnya urusan kepabeanan. Maka saya angkat karyawan seorang yang cukup senior dan punya banyak pengalaman urusan ekspor impor dan logistik. Akhirnya dia yang digaji lebih besar dari saya dan membereskan banyak pekerjaan yang memang kurang saya mengerti.

Saya hanya membantu ketika harus ditanya ketika ada keputusan penting yang harus tahu, memonitor sambil belajar, serta mengerjakan pekerjaan yang lebih sederhana, seperti menyapu dan membersihkan kamar mandi. Selain itu, saya memilih mengerjakan pekerjaan yang saya suka, seperti makan siang sambil ngobrol-ngobrol dengan pelanggan atau calon pelanggan.

“Let he did with his way….” itu gaya saya sehingga Alhamdulillah, bisa membangun beberapa perusahaan, berbeda dengan gaya pakde yang mengikuti lagu Frank Sinatra “I did it my way….”, bagaimana dengan Anda ?

 

Mustofa Romdloni
Presiden TDA 4.0
CEO MR CORP
www.mrcorp.co.id