In Kolom Opini

Following Your ‘Good’ Boss

good bossBagaimana seharusnya bawahan memelihara hubungan kerja dengan atasan. Ada beberapa poin yang menjadi perhatian dalam relasi tersebut di antaranya Compatible Work Style yaitu bawahan harus dapat menyesuaikan gaya dan cara atasan mencapai tujuan organisasi.

Menciptakan hubungan yang compatible berarti saling mengangkat kekuatan dan menutupi kelemahan satu sama lain.

Pendapat itu dikutip dari buku karya John J. Gabarro & John P. Kotter.  Kedua pakar mempunyai gagasan-gagasan yang cukup membantu individu yang terlibat dalam suatu organisasi untuk dapat berinteraksi dengan lancar.

Namun timbul satu pertanyaan terkait dengan gagasan di atas. Apakah setiap person yang merupakan bawahan harus mengikuti style atasannya atau bila dibalik atasan yang seperti apa yang menjadi panutan bawahan ?

Organisasi atau suatu perusahaan yang baik pastilah memiliki tujuan. Tujuan atau sasaran menjadi acuan bagi individu yang terlibat di dalamnya. Sasaran organisasi dapat dirangkum menjadi dua yaitu sasaran normatif dan sasaran kuantitatif. Kedua sasaran tersebut berbeda satu perusahaan/organisasi dengan perusahaan lain, bergantung karakter organisasi yang dijalankan.

Perusahaan yang bergerak di bidang consumers goods memiliki sasaran yang berbeda dengan lembaga pembiayaan. Sebagai contoh, penghasil mi instant memproduksi barang, kemudian memasarkan. Bila standar operasional industri yang telah ditetapkan dan dilaksanakan, kemudian masyarakat menerima produknya maka dapat dikatakan perusahaan tersebut sukses,  dan proses produksi kembali dimulai lagi.

Untuk mencapai sasaran bisnis industri mi tadi, karyawan dan pimpinan relatif tidak mengalami benturan yang berarti. Karyawan bagian produksi misalnya , bekerja sesuai standar operasional produksi dan pimpinan mengawasi. Kalaupun terjadi benturan, terbatas pada cara pimpinan memberi instruksi.

Lembaga pembiayaan atau perbankan memiliki risiko bisnis dan operasional yang cukup besar. Untuk mencapai sasaran kuantitatif seperti pencapaian dana pihak ketiga, pertumbuhan kredit, rasio kredit macet terdapat risiko operasional yang relatif lebih tinggi dibanding perusahaan yang bergerak di bidang consumer goods.

Salah satu sasaran bisnis bank adalah peningkatan yang signifikan atas eksposur kredit. Untuk mencapainya disusun strategi dan taktik yang komprehensif, dari penyempurnaan peraturan internal, penyusunan program analisis, target industri yang dimasuki dan aspek teknis lainnya.

Bagaimana jadinya bila atasan hanya berfokus pada pencapaian target tanpa memperhatikan kualitas dari kredit ? Financial engineering dilakukan, kredit diberikan kepada calon debitur yang bisnisnya baru dirintis, penggunaan dana yang tidak sesuai dengan tujuan pembiayaan. Kalau ini dilaksanakan oleh bawahan, besar kemungkinan akan terjadi kredit macet.

Apakah bawahan harus tetap mengikuti style bos seperti ini ?

Sudah pasti jawabannya tidak. Namun dalam pelaksanaannya siapa yang bisa menghadapi hal ini bila wewenang pemutusan ada pada diri atasan tersebut.

Seharusnya dalam diri seorang atasan melekat kepribadian sebagai seorang Leader.

Siapa leader itu ?

Di sini saya kutip bait-bait yang selalu kami lantunkan pada saat masih menjadi mahasiswa yang menggambarkan kualitas seorang leader :

I’m a Leader
Who is a Leader
The Leader is one who
Knows the way
Shows the way and
Goes the way
He can not loos
Why ?
Because,
He has faith, courage and anthusiasm.

Kalau kualitas atasan seperti tertulis pada bait-bait di atas maka adalah kewajiban bagi setiap bawahan untuk mengikutinya.

Safri Helmi
Direktur Pengawasan & Kepatuhan TDA 4.0
ukhti.co.id