In KABAR TDA PUSAT

Liputan Acara Kick off Astra Startup Challenge (ASC)

Kick Off ASCMemulai bisnis tidak selalu harus dari ide luar biasa dan modal besar. Malah banyak pengusaha sukses yang awalnya tidak sengaja memulai bisnis, tapi karena memiliki visi dan tujuan yang jelas, usahanya pun berkembang dan bermanfaat bagi banyak orang.

Hal itu terungkap dari para narasumber yang mengisi acara talkshow Kick Off Astra Start Up Challenge (ASC) di Kamis, 21 Juli 2016. Astra Start-Up Challenge (ASC) sendiri merupakan salah satu rangkaian program pengembangan UMKM yang diselenggarakan oleh Astra untuk membantu generasi muda usia 18-35 tahun guna meningkatkan motivasi dan inovasi dalam berwirausaha secara kreatif.

Setelah dibuka secara resmi oleh Menteri Koperasi dan UMKM Republik Indonesia Drs Anak Agung Gede Ngurah Puspayoga, acara dilanjutkan dengan talkshow dengan moderator Lucy Wiryono yang juga merupakan pengusaha kuliner Holy Cow.

astra startup challenge

Adalah Dea Valencia  (Pebisnis Muda Batik Kultur), Jaya Setiabudi (Founder Young Enterpreneur Academy) dan Faishal Arifin (penerima apresiasi SATU Indonesia Awards 2015 bidang UMKM) yang menjadi tokoh inspiratif pada acara pagi itu di Gedung Smesco. Dea memulai bisnis Batik Kultur ketika masih kuliah. Ibunya meminta tolong Dea untuk menjualkan batik lawas koleksinya di media online. Gadis manis sarjana komputer ini kemudian mempelajari batik lebih lanjut dan tertarik akan keunikan kain tradisional Indonesia tersebut. Ia melihat batik memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai bagian dari fashion modern.

Terinspirasi oleh seorang desainer Belanda yang menggunakan batik sebagai salah satu ornamen busana rancangannya, Dea pun memodifikasi batik menjadi pakaian yang fashionable, dengan bantuan penjahit di dekat rumahnya. Produknya laku keras dijual melalui online. Kini Dea memiliki 80 orang karyawan yang diantaranya merupakan penyandang difabel. Menurutnya, setiap orang layak mendapat kesempatan yang sama. Dea bertujuan mendukung mereka agar bisa hidup lebih mandiri, bisa punya karya, dan bermanfaat buat banyak orang.

Berbekal prinsip “start small, think big, act now”, kini Batik Kultur dengan desain yang unik dan brand kuat telah mampu menarik lebih dari 3000 customer yang tersebar di Indonesia, juga menembus pasar luar negeri seperti Amerika Serikat, Inggris, Jerman, Hongkong, Belanda, Singapura dan Norwegia.

Membawa manfaat bagi banyak orang juga merupakan salah satu misi Jaya Setiabudi dalam berbisnis. Founder Young Entrepreneur Academy ini sudah bercita-cita menjadi pebisnis sejak sang ayah berpesan agar tidak menjadi karyawan seumur hidup seperti dirinya. Sempat bekerja di Astra selama 1 tahun 4 bulan, pria yang akrab dipanggil mas J ini mengaku banyak menimba ilmu di sana. Ia mulai usaha di tahun 1998 dengan modal awal minim pinjaman dari teman kerjanya. Meskipun sempat bangkrut berkali-kali dalam berbisnis, Mas J menganggapnya sebagai “uang sekolah bisnis”.

Kini mas J memiliki beberapa bisnis di bawah payung Momentum Group, yang ditangani para direksinya. Ia sendiri saat ini sibuk berkeliling Indonesia mengembangkan gerakan kewirausahaan dengan komunitas bisnis yang telah dirintisnya sejak 2004. Kini komunitas itu telah menjelma menjadi Young Entrepreneur Academy (YEA) yang memiliki kurikulum jelas, dengan alumni yang telah mencapai 4.000 orang dari seluruh Indonesia, bahkan mencapai luar negeri.

Saat ini YEA telah bekerjasama dengan beberapa institusi untuk meningkatkan kualitas kewirauasahaan Indonesia, diantaranya dengan Universitas Telkom. Mas J menyadari bahwa banyak pengusaha muda Indonesia yang kreatif namun berdaya saing rendah karena tidak fokus dan kurang memiliki branding yang kuat.

Komunitas Yukbisnis.com yang digagas oleh Mas J telah mendongkrak banyak UKM, terutama dalam memperkuat brand dan pemasaran digital. Meskipun sibuk berkegiatan dalam komunitas, mas J mengaku tidak merasa rugi. “Jangan pernah bertanya apa keuntungan yang diperoleh ketika bergabung dalam komunitas, tetapi tanyakan apa yang bisa kita bantu di sana,” tegasnya. Give dulu, perbanyak silaturahmi, lakukan banyak kebaikan untuk orang lain. Nanti rezeki akan datang sendiri.

Hal senada diungkapkan oleh narasumber ketiga, yaitu Faishal Arifin. Pemilik bisnis perhiasan perak dari Malang ini mengaku dirinya kini telah menjadi “sosialpreneur”. Faishal mengawali bisnis 9 tahun lalu, karena tidak kunjung mendapat pekerjaan. Ia bahkan sempat merantau sampai ke Martapura, Kalimantan Selatan untuk melamar pekerjaan. Alih-alih diterima bekerja, ia malah akhirnya belajar membuat perhiasan di sana.

Sepulang dari Martapura, Faishal kemudian mencoba membuat perhiasan berbahan baku perak yang banyak terdapat di Malang. Karena tidak punya modal, ia membuat katalog hanya dari guntingan foto- foto perhiasan dari majalah-majalah bekas. Faishal kemudian berkeliling ke beberapa kantor untuk menawarkan jasa pembuatan perhiasan sesuai gambar katalognya itu. Beruntung ada seorang ibu yang tertarik dan memesan cincin. Faishal meminta DP untuk modal awalnya dan memberikan KTP sebagai jaminan kepada ibu tersebut. Uang DP itu dibelikan bahan baku, lalu ia menyewa alat pembuat perhiasan kepada salah seorang kawan. Setelah jadi, ternyata sang ibu pemesan cincin puas dan merekomendasikan Faishal kepada teman-temannya.

Bisnis Faishal bergulir dari mulut ke mulut. Pesanan semakin banyak sementara ia tak punya alat dan karyawan untuk membuat perhiasan. Akhirnya kawan yang meminjamkan alat di awal usahanya pun ia rekrut menjadi karyawan pertamanya yang setia hingga saat ini. Lambat laun bisnis kerajinan perak Faishal makin berkembang. Ia rajin mengikuti pameran-pameran. Salah satunya Inacraft. Dari sana ia mendapatkan beberapa pembeli yang mengajak kerjasama. Sekarang kerajinan peraknya telah dipasarkan di Brunei, Ethiopia dan Kanada.

Kini pria yang dikenal sebagai “Raja Perak dari Malang” ini mendayagunakan para petani di Malang yang awalnya tidak memiliki pekerjaan seusai kegiatan mereka di pagi hari. Mereka diberi ketrampilan membuat perhiasan dan penghasilan tambahan dari hasil penjualannya. Pria yang tidak pernah bersentuhan dengan kredit bank ini mengatakan, ia tak pernah menargetkan sesuatu yang besar. “Jika orang bercita-cita setinggi langit, seringkali tidak kesampaian. Lebih baik bercita-cita setinggi plafon saja supaya kita bisa menggunakan tangga untuk menggapainya,” ujar Faishal sambil tertawa.

Faishal percaya, jika kita banyak membantu orang lain, maka Tuhan juga tidak akan tega membiarkan kita menderita. Lakukan saja yang terbaik, jangan berharap terlalu tinggi. Falsafah ini terbukti telah membuahkan omzet 350juta per bulan pada bisnis Faishal.

Acara Kick Off ASC berakhir menjelang saat makan siang dan ditutup oleh hiburan dari Jakarta Pad Project, sebuah grup yang memainkan musik apik secara digital dengan gawai.

Semoga acara ini menginspirasi para wirausahawan Indonesia. Dan bagi Anda yang berusia 18-35 tahun, memiliki ide bisnis Start Up dan ingin mendapat dukungan dari Astra untuk mengembangkannya, silakan mendaftarkan diri ke http://satu-indonesia.com/AstraUntukIndonesiaKreatif