In Kolom Opini

Catatan Presiden TDA 6.0 : The Expandables

Catatan Presiden TDA 29 Juli 2019 : The Expandables

Oleh : Donny Kris Puriyono

Meeting Pra Rakernas TDA 2019 minggu lalu di Malang merupakan agenda meeting BOD TDA 6.0 yg pertama. Membahas berbagai program-program TDA selama 2019-2021 kedepan.

Semuanya dalam narasi KolaborAksi.

Agar nantinya pada saat Mukernas di Lombok 28-30 Agustus 2019 bisa lebih fokus dan detil. Bersama ratusan pengurus TDA dari seluruh daerah di Indonesia.

Meeting Pra Rakernas kemarin juga bisa dikatakan sebagai ajang reuni TDA Jadoel. Sebutan grup untuk para member2 TDA yang bergabung sejak awal-awal TDA berdiri.

Di BOD dan pengurus TDA 6.0 ini memang sekitar 50%nya adalah muka-muka lama. Member yg bergabung di TDA di awal berdirinya. Yang sebagian bisnisnya sudah besar. Member lama yang sudah kaya pengalaman dalam bisnis, namun masih siap berkontribusi di TDA.

Tampak dalam foto ada mas Asep Triono, yang sedang menyiapkan perusahaannya menuju IPO. Bergabung membantu Divisi Membership yang dikomandani anak muda dari Makasar : Daeng Faqih.

Mas Asep yang expert di bidang payment gateway akan membantu mengoptimalkan TDA Passport (aplikasi membership TDA) agar lebih powerfull lagi. Apa saja fitur TDA passport kedepan?. Tunggu tulisan seri mendatang ya.

Di sebelahnya, ada mas Ananto Pratikno yg sudah malang melintang di dunia agency digital marketing. Datang ke Malang kemarin sedikit dipaksakan di sela-sela kesibukannya mengurus perusahaannya di Malaysia.

Lalu di kiri saya ada cak Rawi dan mas Teguh Atmajaya yg bisnisnya juga tak kalah menggurita. Ada juga mas Luthfiel Hakim dan mas Andi Sufariyanto (tidak ada dalam foto) juga hadir di meeting Pra Mukernas kemarin. Yang berhalangan hadir ada om Fico Maulana dan mas Eko June yg bergabung di Direktorat Markom.

Member2 TDA Jadoel ini mirip film The Expendables. Yang sudah senior tapi masih setia membersamai dan turun tangan kembali untuk TDA.

Dari semua member2 TDA Expendables ini, eh TDA Jadoel ini – saat ditanya kesediaannya membantu mengurus TDA – sebagian besar rata-rata menjawab bahwa dirinya sebenarnya sudah mau pensiun mengurus TDA karena sudah lama berkontribusi

Atau alasan karena mau fokus mengurus bisnis saja. Atau alasan lainnya bahwa sekarang merasa kikuk karena banyak member TDA baru yang sudah tidak dikenalnya. Satu dekade lebih TDA adalah rentang waktu yang panjang. Alhamdulillah

“Tapi entah kenapa, seperti kapok-kapok lombok” kata beliau-beliau kemudian

Kapok-kapok lombok itu istilah orang Jawa. Yang habis makan cabe pedas, lalu berjanji tidak akan makan cabe lagi. Tapi baru aja lidahnya mulai terasa gak kepedasan, pengen nambah cabe baru lagi

Begitulah budaya di TDA. Tidak ada tokoh sentralnya. Egaliter. Member senior mudah melebur dengan member junior. Tanpa sekat

Begitupun juga jabatan pengurus di TDA. Terasa benar hanya sebagai titipan amanah. Ada loh yg rela ‘turun jabatan’. Seperti Mas Danton TDA Surabaya dan mas Hernawan TDA Bandung

Mas Danton mantan Direktur Edukasi & Peningkatan Kapasitas (EPIK) member TDA 5.1 yg rela ‘turun jabatan’ menjadi chairman Pesta Wirausaha TDA 6.0. Juga mas Hernawan yang mantan Bendahara Umum TDA 5.1 yg rela “turun jabatan” menjadi Direktur Permadani TDA 6.0

Kalau TDA memanggil. Siap tidak siap harus siap. Begitu motonya

Yuk kawan, siap rapatkan barisan.
Sebar sebanyak mungkin manfaat dari TDA. TDA harus bisa berkontribusi lebih besar lagi untuk negeri. KolaborAksi Untuk Negeri.