In ARTIKEL,Inspirasi

Prospek Sales Marketing

Sedang bersantai menunggu penerbangan berikutnya, lagu yang sedang saya nikmati terpotong panggilan telepon masuk.

+ sore Pak, saya dari XX Group, mohon waktunya, disini saya tidak sedang menawarkan produk, tapi hanya menginformasikan bahwa bapak mendapat produk YY dari kami gratis …
– Ok, nanti saya dibayar berapa?
+ maksud Bapak?
– saya dibayar berapa kalau mau pake produk YY?
+ Oh, maksudnya gini Pak, kan harusnya bapak yang bayar, nah kali ini kami berikan untuk bapak, gratis ..
– saya gak mau gratis, saya mau pakai kalau saya dibayar.
+ ya gak bisa gitu pak …
– Ok, kalau gak bisa gak usah tidak apa2.
tuut tuut tuut …

***

Saya paham bahwa Telemarketer menghubungi berdasarkan script. Bahkan mungkin sudah berlatih. Namun Saya juga ingin pastikan bahwa saya sedang berbicara dengan manusia.

Dari kalimat pembuka Telemarketer berusaha memainkan persepsi bahwa ini “gratis” sehingga calon pelanggan gak ada rugi apa2 jika mengatakan YA.

Diluar skenario, si Calon Pelanggan justru menaikkan posisi awal dengan mendeklarasikan ekspektasi yang beyond FREE.

Akibatnya Telemarketer kesulitan mengunci pelanggan di posisi “tinggal bilang ya, beres, gak ada rugi nya”.

Bahkan Telemarketer terjebak mengatakan NO duluan. Yang disambut NO dari Pelanggan.

Tentu idealnya percakapan sales berkembang menjadi sebuah percakapan yang YES bagi kedua belah pihak.

Mungkin jawaban saya belum ada di script, sehingga buru2 Telemarketer menutup telepon.

Tapi ya begitulah berbicara dengan manusia. Tidak selalu mudah ditebak.

Kalau hanya bercakap2 sesuai pola, urutan sesuai “jika X maka Y” kecerdasan buatan sudah dapat menggantikan kita.

Bahkan Super Komputer saat ini sudah mampu belajar untuk mengantisipasi berbagai variasi langkah permainan catur, dan mengalahkan seorang Grand Master.

Kalau mengingat, membuat keputusan, analisa, dan berpikir sesuai logika, sudah dapat ditiru mesin, apa yang tersisa bagi kita sebagai manusia?

Imajinasi, kreatifitas, hari ini masih menjadi milik manusia. Namun dengan percepatan teknologi Artificial Intelligence, saya kok menduga sebentar lagi akan lahir mesin2 yang mampu mencipta gagasan dan bentuk yg sama sekali baru.

Dalam serial Star Trek : Next Generation, sosok kecerdasan buatan diwakili oleh Lt. Commander Data. Humandroid cerdas yang bahkan mampu berkarir di Starfleet.

Satu hal yang Data selalu ingin rasakan karena tidak dia miliki adalah : Sense of Humor.

Mengapa sebuah ucapan ataupun tindakan bisa membuat manusia tertawa terbahak2. Sama sekali tidak logis bagi Data.

Telemarketer yang menghubungi saya sebetulnya bisa saja lebih santuy, dan mungkin kita akan ketawa bareng.

Lalu bisa saja ditengah tawa, saya menyetujui menggunakan produknya.

Jangan pernah meremehkan tawa bersama. Karena untuk manusia, komunikasi adalah RASA.

Ayo ngguyu …

Fauzi Rachmanto