In TDA TV

CaPeDe: How to Managing Learning From Home to be Meaningful & Less Stressful

Terjadinya pandemi COVID-19 saat ini membuat banyak perubahan pada berbagai aspek kehidupan semua orang. Salah satu aspek yang mengalami perubahan yang signifikan dapat kita lihat dalam aspek pendidikan. Pendidikan yang awalnya diberikan dalam bentuk tatap muka dan bersifat klasikal kini mau tak mau harus berevolusi menjadi pendidikan yang bersifat online dengan memanfaatkan kecanggihan teknologi. Penggunaan teknologi, seperti media internet dan beberapa aplikasi pembelajaran online, pun membuat para peserta didik dan orang tua merubah pendekatan mereka dalam menerima pembelajaran dan juga bagaimana mendampingi anak-anak dalam menerima informasi yang kini dapat didapatkan dengan lebih mudah dan luas. Perubahan dalam metode pembenaran akibat pandemi saat ini pun juga membuat para orang tua di sosial merasa kesusahan dalam mendampingi anak-anak mereka belajar di rumah, bagaimana beradaptasi dengan metode yang baru, adanya kendala dengan fasilitas gadget yang terbatas, dsb.

Beberapa permasalahan di atas pun kemudian dibahas dalam salah satu webinar yang diadakan TDA pada tanggal 29 Juli 2020 yang menampilkan seorang Ririn Yuniasih yang merupakan staff pusat pelatihan & pengembangan pendidik dan tenaga kependidikan dari lulusan Monas University. Dalam webinar ini, beberapa topik pendidikan kemudian dibahas seperti, aspek parenting dalam pendidikan, bagaimana orang tua dalam mendampingi pembelajaran anak-anak di rumah dapat menurunkan tingkat stress dikarenakan aktivitas harian orang tua yang padat dan juga tuntutan anak untuk sekolah secara online di rumah.

Kemudian mengapa perubahan pembelajaran anak-anak yang online di rumah dapat menyebabkan orang tua lebih stres? Ririn Yuniasih pun menjelaskan bahwa umumnya, setiap keluarga memiliki kondisi yang berbeda. Namun, jika membahas topik yang berhubungan dengan kondisi belajar anak-anak yang terjadi saat ini, terdapat 3 penyebab yang berkontribusi atas terjadinya stres pada orang tua yakni, terjadi perubahan yang bersifat ekstreem dan berdampak pada semua aspek, lebih spesifiknya pada aspek aktivitas, rutinitas dan interaksi antara keluarga dan kegiatan belajar anak. Semua itu tentunya diperlukan adanya adaptasi karena semua aktivitas kini berada di satu tempat dan beban di rumah seakan terlihat menjadi satu. Beban dalam konteks ini mengarah kepada adanya perbedaan harapan (expectation) para orang tua antara pembelajaran anak di rumah dan sekolah. Ketika di rumah, maka harapan, dalam hal ini adalah capaian belajar, akan menjadi lebih tinggi karena adanya kehadiran anggota keluarga sehingga anak akan berusaha menampilkan performa belajar yang tinggi dan perfect. Selain itu, aspek lainnya yang berkontribusi dalam meningkatnya rasa stres adalah masih adanya hubungan anak dan orang tua yang single handed (semua ditentukan oleh orang tua). Padahal, anak pun juga memiliki hak untuk kontribusi dalam pemilihan keputusan,

Sehingga perlu kesadaran bagi orang tua dibutuhkan adanya kontribusi anak juga dalam pemilihan keputusan mereka. Hal tersebut sebenarnya menjadi aspek fundamental dalam pendidikan anak dalam konteks apapun. Selain itu, perlu adanya perubahan dalam aktivitas sehari-hari di rumah untuk membantu anak dalam belajar yang dapat meringankan tingkat stres orang tua seperti, mengurai satu persatu permasalahan yang ada di rumah. Salah satu sumber masalah yang terjadi di rumah umumnya terkait dengan kontrol mutlak yang harus dipegang oleh orang tua. Memang benar orang tua memiliki pengalaman lebih dahulu dan memiliki logika yang lebih matang. Namun, orang tua juga perlu untuk melihat bagaimana perspektif dari anak-anak. Biarkan anak berpikir secara kritis untuk menyikapi kondisi belajar yang terjadi saat ini dan juga biarkan mereka mengembangkan aspek saling memahami antar anggota keluarga dengan saling menyampaikan kebutuhan dan tanggung jawab antar anggota keluarga, seperti kebutuhan dan keinginan tiap anggota keluarga seperti apa.

Sudah waktunya bagi para orang tua untuk belajar menghargai pendapat anak. Ririn Yuniasih dalam webinar “Managing Learing From Home to be Meaningful and Less Stressful” menyebutkan istilah relaxing target bagi para orang tua, yakni berarti melonggarkan target capaian pembelajaran anak-anak. Selain itu, perlu bagi orang tua untuk memberi kepercayaan dalam membangun komunikasi dengan anak sehingga anak akan lebih bertanggung jawab dalam setiap keputusan mereka. Ada beberapa kasus orang tua yang kaku, mereka membatasi dan mengatur pembelajaran anak dan akhirnya malah membuat anak menjadi pemberontak.

Di sisi lain, pembelajaran online pun memiliki banyak manfaat seperti, pertama banyaknya konten materi yang lebih spesifik lebih dapat dipelajari, kedua terjadi peningkatan phase (kecepatan) belajar dan mencari informasi, ketiga sifat belajar akan lebih personal (individualis) dalam banyak hal, dan terakhir lebih bersifat borderless. Sedangkan untuk meminimalisisr efek negatif penggunaan gadget dalam pembelajaran daring perlu adanya kesadaran lebih dahulu dari orang tua bahwa mereka tidak bisa 24 jam mengawasi anak-anak. Sehingga orang tua harus mampu membangun kontrol dalam diri anak. Dimulai dari membangun infromasi yang akurat di dalam diri anak, apa saja hal  positif dan negatif dari penggunaan internet yang tidak bertanggung jawab, dan bantu untuk mereka berdaya.

Dalam diskusi bersama Ririn Yuniasih dalam salah satu webinar yang dilaksanakan oleh TDA, beliau menyampaikan kalimat inti mengenai autenthic learning. Dimana dibutuhkan pembelajaran yang sesuai kebutuhan. Kebutuhan disini berarti dalam konteks kebutuhan keluarga. Sehingga akan lebih baik pembelajaran akan lebih bermanfaat jika menekankan di sifat meaningfulness (relevansi di kehidupan) bukan di completeness materi. Sebagai penutup, Ririn Yuniasih menyebutkan bahwa sekali lagi orang tua butuh untuk relaxing ekspektasi dan tuntutan karena anak-anak butuh pengertian dan support dari kita sebagai orang tua. Salah satu caranya  adalah dengan menghargai proses belajar mereka yang berbeda kini berbeda.