Sebarkan berita baik ini

Dalam era ekonomi sekarang tantangannya cukup besar, kita dituntut untuk melakukan penghematan di seluruh lini. Salah satu penghematan itu adalah, melakukan pekerjaan-pekerjaan tepat sasaran yang berfokus terhadap solusi.

Nah ngomong-ngomong tentang solusi, kadang ketika kita dihadapkan suatu masalah atau tantangan, kita memilih suatu solusi dan melaksanakannya.Namun kadang hasilnya tidak menyelesaikan masalah tersebut, bahkan malah menambah masalah yang baru.

Saya jadi teringat, waktu saya periksa ke dokter mata pertama kali di Bandung, saya mendatangi sebuah rumah sakit mata. Ketika tiba di rumah sakit itu, saya melihat daftar list dokter-dokter mata yang praktek di rumah sakit tersebut di sebuah kertas yang diletakkan di meja pendaftaran pasien.

Staf bagian pendaftaran meminta saya untuk memilih dokter mana yang memeriksa saya, sebelum saya memilih, saya bertanya kepadanya, dokter mana yang antrianya paling panjang? staf tersebut menunjuk salah satu dokter, dan dia menyampaikan bahwa kalau mau dengan dokter tersebut harus antri mulai dari siang hari, untuk diperiksa sorenya. Kebetulan saya datang siang, akhirnya saya memilih dokter yang panjang antriannya itu.

Setelah saya diperiksa, dia memberikan resep obat dan kacamata. Sebelum pulang saya mampir ke apotik dan optik kacamata untuk membeli apa yang ada di resep. Setelah beberapa hari menggunakan resep tersebut, penglihatan mata saya semakin terang. Dulunya biasanya sebelum saya ke dokter, ketika melihat sebuah benda yang jaraknya jauh, saya menutup sebagian mata saya dengan kelopak mata, agar sinar yang masuk ke mata tidak terlalu banyak sehingga benda tersebut bisa terlihat dengan jelas.

Setelah menggunakan obat dan kacamata, saya tidak perlu lagi menutup sebagian mata, saya melihat dengan pandangan normal, dan bahkan lebih terang. Selama 7 tahunan saya menjadi pasien tetapnya, namun di akhir tahun ke 7 dokter tersebut meninggal dunia, akhirnya saya memutuskan untuk mencoba dokter lainnya, di saat itu pilihan yang ada adalah dokter yang baru lulus dari kuliahnya.

Akhirnya saya diperiksa oleh dokter baru itu, ketika selesai memeriksa dia memberikan saya resep kacamata dan obat. Selang beberapa hari hasilnya penglihatan saya kembali seperti dulu kala, seperti sebelum 7 tahun lalu yang ketika melihat benda kurang jelas, jadi mata harus ditutup setengah dulu dengan kelopak mata agar benda yang saya lihat jelas.

Rekan, kedua dokter ini, sama-sama memberikan solusi kepada pasiennya, bedanya dokter yang pertama menyelesaikan masalah pasien dan yang dokter terakhir tidak menyelesaikan masalah pasien. Yang membedakan kedua dokter tersebut adalah kemampuan mendiagnosisnya. Mendiagnosis penyakit apa yang dialami oleh pasien. Apabila hasil diagnosisnya salah, pemberian solusi apapun hasilnya akan percuma.

Begitu juga dengan di dunia kerja, kita dituntut untuk mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang berfokus solusi. Agar solusi ini bisa tercapai, sama seperti dokter diatas, kemampuan analisis kita terhadap suatu masalah harus bagus. Apabila tidak bagus, bukannya memberikan solusi suatu masalah bahkan malah menambah masalah tersebut semakin besar, yang akhirnya biaya dan tenaga membengkak.

Rekan, agar hal tersebut tidak terjadi, kita perlu melatih kemampuan menganalisis suatu permasalahan, ada salah satu metode yang bagus yaitu “5 why?”, dengan metode ‘5 why?’ ini kita bisa memberikan solusi terhadap masalah sampai ke akar-akarnya,

contohnya:
Disebuah restoran, ada konsumen yang komplain bahwa makanan yang dihidangkan dagingnya bau tidak sedap. Sebelum menentukan solusinya, kita pakai metode ‘5 why?’

why? – “daging nya basi”
why? – “freezer penyimpanan, temperatur kurang dingin”
why? – “suction (sparepart) kulkas rusak”
why? – “Bahan baku yang disimpan di kulkas terlalu penuh, melebihi kuota maksimal”
why? – “Prosedur penyimpanan bahan baku tidak ada”

Apabila kita hanya memberikan solusi mengganti dengan daging baru, maka tidak lama masalah daging basi akan timbul kembali. Namun, apabila kita memperbaiki dengan membuat prosedur penyimpanan bahan baku dan mengatur jadwal pembelanjaannya, maka masalah-masalah di atas tidak timbul lagi.

Dengan kemampuan kita menganalisis sebuah permasalahan benar, kita mampu bekerja tepat sasaran yang berfokus pada solusi, yang akhirnya kita bisa melewati kondisi ekonomi ini dengan gemilang.

Mari kita asah kemampuan menganalisis kita, karena menjalankan solusi itu mudah, namun bagian yang paling sulit adalah menganalisis permasalahannya.

Salam bertumbuh

Ibrahim Mochamad
Ketua TDA Bandung 4.0
bippo.co.id | tuneeca.com

kolom/member/juni2015


Sebarkan berita baik ini