In Inspirasi,Peluang Usaha,Saran Ahli,Tips & Trick,Tips Bisnis

Entry Barrier

Jay Teroris

Zainal Abidin
Direktur Pengawasan dan Kepatuhan TDA

Tahukah anda?

Tahun 90-an, seorang peneliti bule pernah menemukan satu potong celana buntung bertuliskan Made in Indonesia di sebuah supermarket di London, Inggris. Harganya setelah dikurs rupiah adalah Rp. 112.000,- Di Jakarta, ia mendatangi pabrik yang memproduksi celana olahraga tersebut, dan ia bertanya kepada salah satu buruhnya. Berapa upah membuat satu potong celana ?

Fantastis. Sang buruh menjawab, hanya Rp. 500,-  Angka itu bukan salah ketik. Lima ratus perak. Lebih murah daripada biaya sewa toilet di Stasiun Gambir waktu itu.

Di tempat yang sama, peneliti itu juga menemukan sepasang sepatu merk terkenal, yang harganya mencapai Rp. 1,4 juta. Di Jakarta, ia kembali terkesima karena buruh pembuat sepatu itu hanya diberi upah tidak lebih dari Rp. 5.000,-  Lima ribu rupiah. Tidak lebih mahal daripada seporsi gado-gado.

Di beberapa media olahraga, ia pun akhirnya mengetahui, bahwa nilai kontrak tahunan seorang Tiger Woods dengan salah satu produsen sepatu olahraga, jumlahnya lebih besar dari total upah buruh dari pabrik sepatu tersebut di Indonesia selama satu tahun.

Saya tidak berkehendak untuk menjadi provokator bagi para buruh di pabrik sepatu atau garmen di atas. Masih banyak pelajaran yang lebih penting daripada sekedar mogok beramai-ramai, membuat  jalan tol macet, kendaraan umum lumpuh atau membakar pabrik yang justru berakibat kontra produktif.

Tiger Woods, seperti kita ketahui, adalah seorang pemain golf yang luar biasa. Ia menekuni olahraga golf dari umur di bawah sepuluh tahun. Dan ia memilih sebuah bidang yang entry barrier (tingkat hambatannya) tinggi. Bukan karena tidak setiap orang bisa main golf, tetapi karena hanya sedikit orang yang bersedia bersusah-payah berlatih, untuk menjadi pegolf handal. Dan bayaran yang lebih tinggi daripada jumlah upah buruh sebuah pabrik sepatu, adalah konsekuensi logis dari kerja kerasnya sejak kecil.

Apa yang salah dengan kita ? Kalaupun harus mencarinya, kesalahan kita mungkin karena kita lebih senang memilih bidang-bidang pekerjaan yang entry barrier (tingkat hambatannya) rendah.  Mohon maaf. Setiap orang bisa jadi buruh pabrik sepatu atau garmen, karena keterampilannya sangat mudah dikuasai.

Dan ketika para buruh ramai beraksi mogok kerja, pabrik pun tidak terlalu peduli karena masih banyak calon buruh yang antri mau bekerja. Apalagi di negeri ini, yang stok penganggurannya banyak sekali. Berbeda dengan Tiger Woods. Saat ini, sangat sulit mencari penggantinya. Walau popularitas menurun karena kasus perselingkuhan, keterampilannya memainkan stik golf sulit ditandingi. Dan sampai hari ini, ia masih terus berlatih dan berlatih. Dan nilai kontraknya tiap tahun naik terus.

Tidak bijak jika kita hanya bisa mencari masalah dan kesalahan. Solusi dari masalah itu, adalah memilih bidang-bidang pekerjaan atau usaha dengan entry barrier yang tinggi, serta kemauan untuk terus belajar dan belajar, untuk meningkatkan kemampuan diri. Konsekuensinya, hal itu membutuhkan perjuangan berat. Kerja keras. Dan kitalah yang harus melakukannya sendiri.  Bukan orang lain. Kita tidak bisa menyuruh orang lain berolahraga untuk menjadikan diri kita kurus.

Be yourself …
Zainal Abidin
@jayteroris
Direktur Pengawasan dan Kepatuhan TDA
Headmaster SekolahMonyet.com