In Inspirasi,Peluang Usaha,Saran Ahli,Tips & Trick,Tips Bisnis

G O N G

Zainal Abidin

Zainal Abidin
Direktur Pengawasan & Kepatuhan TDA

Pekan ini, berkaitan dengan kegiatan Social Entrepreneur Academy, saya sempatkan menemui seorang kawan penulis, yang namanya sudah saya kenal ketika masih duduk di SMA. Cerita-cerita petualangannya, yang secara rutin terbit di sebuah majalah remaja, sering kali mengilhami perjalanan saya ke berbagai tempat di tanah air. Namanya Heri Hendrayana Harris. Ia lebih dikenal dengan nama pena Gola Gong.

Bertemu dengan mas Gong, begitu saya memanggilnya, di pendopo Rumah Dunia yang sederhana, penuh tumpukan buku dan koran bekas di kawasan Serang, selalu saja semakin menebalkan semangat untuk terus berkarya. Di kawasan Rumah Dunia yang nyaris tak pernah sepi itu, ia banyak menghabiskan hari-harinya untuk terus menebar manfaat. Itulah sebuah rumah buat semua manusia yang haus belajar untuk menambah ilmu dan keterampilan, melalui aktivitas membaca (perpustakaan), seni panggung (puisi dan drama), seminar maupun pelatihan keterampilan. Beberapa kali saya sempat diminta berbagi ilmu di panggung itu.

Di usia yang sudah tidak muda lagi (usianya sudah hampir menyentuh setengah abad), wajahnya belum menunjukkan kelelahan untuk terus berkreasi. Hanya dengan satu tangan (tangan kirinya putus ketika masih kecil), ditambah dengan deraan penyakit yang semakin lama semakin menggerogoti daya tahan tubuhnya, ia masih terus berkarya. Buku-buku lamanya masih terus dicetak ulang. Buku-buku baru terus muncul. Sebagian besar royalti yang ia terima dari buku-bukunya, tersalur untuk Rumah Dunia. Ia dan keluarganya, hidup sangat-sangat sederhana.

Berkomunikasi dengan mas Gong, selalu saja memunculkan optimisme tentang masa depan. Dua tahun lalu, dengan kondisi tubuh yang sudah jauh menurun, ia masih bersemangat bercerita tentang mimpi-mimpinya. Ia ingin membebaskan tanah di sekitar tempat tinggalnya, untuk memperluas Rumah Dunia. Dibantu oleh istri dan beberapa sukarelawan, ia menyuarakan Rumah Dunia ke seantero negeri, lewat berbagai media.

Kadang-kadang, saya menganggapnya tidak bisa mengukur diri. Ia berusaha, bekerja, seolah-olah ia orang yang kelewat percaya diri. Ia seolah tidak memperhitungkan, bahwa ia bekerja hanya dengan satu tangan. Ia seolah juga tidak memperhitungkan, bahwa beberapa penyakit sudah mulai menghambat aktivitasnya.

Senin pekan ini, saya melihat dengan mata kepala sendiri, apa yang diidamkannya dua tahun lalu, terwujud. Ada sebuah gedung teater tertutup dengan kapasitas 100an penonton. Ada teater terbuka juga. Sebuah mobil perpustakaan keliling melengkapi aktivitas Rumah Dunia. Semuanya berdiri kokoh di atas tanah yang dua tahun lalu masih jadi milik orang lain.

Di akhir pertemuan, saya berpesan untuk menjaga kesehatannya. Mengingatkannya, untuk tidak terlalu memforsir kekuatan jauh di luar batas kemampuannya. Tetapi justru di ujung jumpa itu, ia seolah menampar saya.

“Jay. Tanganku sudah buntung puluhan tahun yang lalu. Dan itu tidak membuatku menyerah. Buntung, itu kenyataan. Tapi menyerah begitu saja, itu kebangetan …!”

Terima kasih, mas Gong. Saya suka tamparannya …

Zainal Abidin
Direktur Pengawasan dan Kepatuhan TDA
HeadMaster SekolahMonyet.com
Direktur Social Entrepreneur Academy Dompet Dhuafa