In Kolom Opini

Hutang

HutangSiang itu mang Yana, tukang kredit asal Tasikmalaya kembali menggelar dagangannya. Seperti biasa, ia menjadi idola para ibu di tempat ia menjajakan aneka barang kebutuhan rumah tangga sehari-hari, yang dibayar dengan cara mencicil. Bisa harian, mingguan atau bulanan. Ember, panci, penggorengan, kompor dan aneka barang pecah-belah, tersedia di dua wadah besar yang dibawa dengan cara dipikul. Barang yang dibutuhkan para ibu tapi tak tersedia, bisa pesan dengan jaminan satu minggu ada, asal harga disepakati.

Bu Isal, salah satu ibu rumah tangga yang baru menjadi pelanggan mang Yana. Ia membeli sebuah ember yang cukup besar, yang akan digunakannya untuk mencuci pakaian. Harga tidak terlalu mahal, cara bayarnya ringan karena bisa dicicil, begitu pikirnya. Dan, ember pun kini berpindah tempat. Dari pikulan mang Yana ke kamar mandi bu Isal.

Sore hari, sang suami pulang.  Melihat ada ember baru di kamar mandi, ia bertanya.
‘Ember baru, beli dimana?’
‘Mang Yana.  Bayarnya dicicil,’ jawab sang isteri.
‘Berapa harganya?’ tanya sang suami lagi.
Sang isteri menyebut satu angka, harga dari ember itu.
‘Ini ada uang. Besok bayar lunas saja. Lain kali, kalau memang belum mampu beli, nggak usah berhutang.  Kita bukan pegawai yang tahu persis penghasilan atau gajinya.  Kita nikmati yang bisa kita beli tanpa berhutang.’

Ember itu, sampai suatu saat sudah tak bisa dipakai lagi, adalah satu-satunya barang yang dibeli dengan akad kredit/berhutang, walau kemudian dibayar lunas. Dan sampai saat ini, tidak ada satu barang pun di rumah keluarga itu, yang dibeli dengan cara berhutang.

Kalau boleh membuka rahasia, dialog dan cerita di atas adalah cerita tentang kedua orang tua saya. Ayah, memang orang yang teguh pendirian akan sesuatu yang diyakininya. Ibu, boleh dibilang tidak pernah membantah. Ayah, membesarkan usahanya tidak dengan cara berhutang. Beliau hanya menggunakan kelebihan dan sisa laba untuk dikembalikan menjadi tambahan modal usaha. Dan, keyakinan itu ‘menurun’ kepada saya.

Walau saya tidak sekeras pendirian ayah tentunya. Di awal memulai usaha, saya pernah mengajukan permohonan kredit di sebuah bank. Dan, sudah bisa diduga.  Permohonan itu ditolak karena usahanya memang belum ada. Sampai hari ini, saya menghindari berhutang untuk membesarkan usaha. Dan saya enjoy-enjoy saja.  Terima kasih, ayah.

Zainal Abidin
Rektor Institut Kemandirian Dompet Dhuafa
Headmaster Sekolah Monyet
Presiden Pengangguran Indonesia

kolom/member/juni2015