Sebarkan berita baik ini

entrepreneurSaya mengenalnya cukup dekat. Ia hanya lulusan Sekolah Menengah Atas. Nilai-nilainya pun tidak istimewa, untuk tidak menyebutnya buruk. Beberapa kawannya seringkali meledeknya, bahwa ia diluluskan karena terpaksa. Hampir seluruh nilai berada di angka 6 lebih sedikit, kecuali Bahasa Inggris. Untuk yang ini, nilainya lumayan tinggi. 8.

Bisa dibayangkan, betapa sulitnya ia mendapatkan tempat tempat di Perguruan Tinggi Negeri. Maklum, untuk kuliah di Perguruan Tinggi Swasta, ia tak punya cukup biaya. Terbukti, ia tidak lulus tes masuk PTN. Ia pun menghapus mimpi melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

Pilihan alternatif adalah mencari pekerjaan. Dan mulai lah ia bergerilya, dari satu instansi ke instansi lain. Membaca iklan lowongan pekerjaan di surat kabar, menulis surat lamaran, mengirimkannya melalui kantor pos atau langsung mengantarkan ke TKP sampai menunggu surat panggilan datang.

Sayangnya, setelah berbilang bulan menunggu, pekerjaan yang diinginkan pun belum diperoleh. Jangankan diterima, bahkan panggilan untuk mengikuti tes pun tidak pernah diterimanya. Dan tuntutan hidup membuatnya terpaksa memilih alternatif terakhir. Jadi pengusaha!

Ia memulai dari level paling bawah. Dengan modal terbatas, ia mencoba berbagai usaha. Mulai jadi loper koran, pedagang asongan, tukang cuci mobil sampai calo tiket kereta api. Setelah berkelana dari satu usaha ke usaha lain, jatuh-bangun berulang-ulang, ditipu dengan aneka modus, ia pun berlabuh di bidang usaha yang kini masih ditekuninya. Biro Perjalanan.

Proses bisnis yang semakin berkembang tidak memungkinkannya untuk bekerja sendirian. Seiring dengan membesarnya skala usaha, ia pun membutuhkan orang lain untuk membantunya. Ia pun melakukan perekrutan karyawan.

Ia memilih karyawan dari para kandidat yang memiliki nilai akademis yang cukup cemerlang. Ia seolah bagai kacang lupa kulitnya. Ia lupa, bahwa dirinya adalah orang yang punya nilai akademis yang buruk. Tapi ia punya alasan. Ia tidak punya keberanian untuk berspekulasi, memberi kesempatan kepada orang-orang ‘sejenisnya’, untuk ,mengelola usahanya. Ia butuh orang-orang pintar!

Ironinya ada di sini. Kawan saya ini, bukan lah orang yang cerdas secara akademis di sekolah. Setelah jungkir-balik di dunia usaha, ia pun sampai di posisi yang menurut sebagian orang, sukses. Di titik itu, ia butuh bantuan dari orang-orang yang kemudian antri, mengikuti tes ini itu dan wawancara, untuk bisa bekerja padanya. Dan yang ia pilih adalah orang-orang yang secara akademis lebih cerdas daripadanya. Pertanyaannya, siapa yang bodoh dan siapa yang pintar?

Zainal Abidin
Direktur Pengawasan dan Kepatuhan TDA
Rektor Institut Kemandirian Dompet Dhuafa
Headmaster sekolahmonyet.com


Sebarkan berita baik ini