Sebarkan berita baik ini

Bagi anda para pebisnis di bidang properti mungkin mengalami kelesuan yang sama yang terjadi pada bidang bisnis lainnya di Indonesia akibat adanya pendemi COVID-19 ini. Salah satu webinar yang telah dilaksanakan oleh TDA membahas mengenai perkembangan bisnis di new normal ini mengundang sosok Anton Thedy yang merupakan founder TX Travel. TX Travel ini secara spesifik merupakan sebuah biro travel yang berbeda dengan Traveloka karena mereka tidak menggunakan inverstor dalam pendanaan bisnis, namun berdasarkan self funding dan juga kerabat. Di awal 2004, beliau menutup semua cabang TX travel di seluruh Indonesia dan hanya membuka kantor pusat TX di Jakarta & Bandung dan mengganti semua cabang menjadi 266 franchise. Pada tahun 2012, ketika Traveloka lahir di pasar traveling, terjadilah perang harga TX Travel dengan Traveloka dikarenakan adanya faktor potongan harga dari investor Traveloka pada  harga tiket pesawat. Sehingga TX Travel pun tidak bisa bertarung di pasar traveling pada saat itu. Anton Thedy pun kemudia mengganti penjualan tiket di usaha TX Travelnya menjadi carter pesawat dengan semua tujuan menuju ke China dan konsep bisnis tersebut berjalan hingga awal 2020 sebelum terjadi pandemic COVID-19.

Dalam Webinar “Bisns New Normal” ini, Anton Thedy pun kemudian menjelaskan beberapa saran bagi para businessman di bidang travel untuk lebih diarahkan ke individual traveling atau solo traveling dengan tetap memberikan fasilitas penjemputan bagi customer. Selain itu, para pebisnis dapat mengarahkan para custoumer ke destinasi liburan yang cenderung sepi (hidden jams) seperti pulau cinta Gorontalo dan beberapa pulau kecil yanga ada di Indonesia. Hal ini perlu dipertimbangkan karena sebelum terjadi pandemic, orang-orang cenderung berpergian atau berlibur secara berkelompok. Namun, perlu diperhatikan bahwa para pebisnis travel tetap harus menyediakan dan mengutamakan protokol kesehatan. Sebelum melakukan hal tersebut, perlu diperhatikan dan dirancang bagaimana cara pebisnis untuk bisa membuat orang mau keluar dari rumah dan tidak perlu cemas dengan masalah kesehatan dan juga perlu mengetahui target market. Karena menurut Anton Thedy, market dengan status ekonomi menengah keatas dirasa beliau lebih aware dengan faktor kesehatan.

Pedoman menarik yang disampaikan oleh beliau dalam menjalankan bisnis travel di era new normal ini adalah konsep HSBC. Yakni, H (health) yang berarti berfokus pada protocol kesehatan saat ini, S (security) berkaitan dengan keamanan customer selama traveling, B (budget) yang berarti harus dapat untuk mengefisiensi budget perusahaan, dan C (convenient) berkaitan dengan kenyamanan para customer selama traveling. Saran lainnya Anton Thedy bagi para pebisnis travel adalah untuk menyediakan tes PCR, bukan rapid test. Mengapa? Karena sejatinya rapid test hanya akan melihat anti body orang bukan mendeteksi apakah terdapat virus di dalam diri customer atau tidak. Namun, dikarenakan mahalnya tes tersebut, perlu bagi para pebisnis travel untuk menyebarkan pengetahuan mengenai PCR dan rapid test ke calon customer. Hal lain yang perlu diperhatikan oleh pebisnis saat pandemi adalah bahwa produk yang dijual sama, namun cara eksekusinya saja yang berbeda, seperti aspek order, operasional, dan marketing.

Selain itu, perlu adanya personal branding yang baik dan tepat untuk selalu mengasosiasikan diri dengan barang yang ditawarkan pada para customer. Jangan melepaskan diri dari informasi yang ada di dunia maya, karena disana kita akan mendapatkan informasi yang up to date. Perlu diperhatikan bahwa Indonesia berbeda dengan luar negeri, karena Indonesia memiliki domestic buying power yang kuat. Selain itu, pasar dalam negeri kita merupakan salah satu yang terbaik di dunia sehingga lebih baik untuk memberikan produk-produk dalam negeri atau memberikan wisata-wisata dalam negeri. Contohnya, masih terdapat banyak pulau di Indonesia yang tidak kalah bagus dengan Maldives.

Dalam pembahasannya mengenai bisnis travel, Anton Thedy pun merasakan bahwa masih terdapat budaya yang bersifat copy cat dalam berbagai bisnis. Copy cat dalam hal ini diartikan bahwa banyak perusahaan di Indonesia yang menjiplak perusahaan yang telah berkembang dengan sukses. Seharusnya, para pelaku bisnis perlu untuk melakukan modifikasi lagi yang sesuai dengan market di Indonesia. Perlu diperhatikan juga bahwa selama masa pandemi ini dibutuhkan adanya breakthrough idea (ide yang brilliant) agar bisnis yang kita miliki tetap berjalan meskipun pandemi terus berlangsung. Jika dari bisnis  traveling, perlu diperhatikan bahwa masih banyak detinasi wisata di Indonesia yang masih minim infrastruktur, sehingga butuh kejelian dan kehati-hatian untuk menentukan beberapa tujuan wisata yang ingin dijadikan ide-ide brilian.

Di akhir sesi diskusi, Anton Thedy pun menyampaikan bahwa bagi para pebisnis travel, penting untuk tetap bersabar karena pandemi yang terjadi saat ini tidak akan terjadi selamanya. Masih akan ada banyak orang yang ingin berpergian dan demands untuk hal itu pun masih tinggi karena adanya faktor tingkat stres karena lock down sehingga banyak dari masyarakat yang akan membutuhkan traveling untuk melepaskan penat mereka selama beberapa bulan berada di rumah.


Sebarkan berita baik ini