In ARTIKEL,Inspirasi

Jangan Menyerah – #2

Kedua: Memberi Kewenangan Memutuskan “Menyerah” Pada Orang Lain.

Nah ini yang paling seru. Setelah saya pikir dan hitung, ternyata yang sering mengatakan “sudahlaah… menyerah saja” itu kebanyakan adalah orang lain. Bukan diri kita sendiri.

Tentu dengan bahasa, kata-kata, dan cara mengucapkan yang berbeda-beda.

Kadang-kadang terbungkus rapi dalam kalimat-kalimat manis menghibur yang memuat pesan yang sama: menyerahlah.

Contohnya disaat awal membangun usaha dan belum langsung bisa berjalan lancar, banyak teman yang datang menghibur.

“Wajarlah belum pernah punya pengalaman bisnis, yaa kalau mau tutup ya tutup aja, wajar kok”.

“Biasalah itu cash-flow amburadul, itu tanda nya belum siap punya usaha”.

“Gak apa-apa menyerah hari ini, nanti bangkit kemudiaaan”.

Terdengar akrab di telinga?

Pesan dari kalimat-kalimat menghibur tadi cuma satu: Menyerahlah!

Lha kok keputusan menyerah datangnya dari orang lain? Ini yang sulit diterima.

Apalagi kita sampai hanyut dengan pernyataan-pernyataan tersebut, dan benar-benar menyerah.

Sebelum menerima “keputusan orang lain” tadi, coba kita tanyakan lebih dahulu kepada diri kita: Benarkah kita ingin menyerah sekarang?

Apa dampak keputusan menyerah hari ini terhadap pencapaian cita-cita kita?

Bagaimana kita akan menceritakan keputusan menyerah ini kepada orang-orang yang kita cintai?

Waah kalau sudah ditanya begitu biasanya kita akan katakan: eeits… tunggu dulu …

Saya belum mau menyerah.

(Bersambung ke part 2)

Fauzi Rachmanto