Sebarkan berita baik ini

Dalam sebulan terakhir ini, pimpinan sebuah perusahaan perdagangan yang sahamnya dimiliki oleh tiga perusahaan raksasa Jepang telah membuat serangkaian pertemuan dengan saya dan tim. Pertemuan ini adalah untuk memastikan kemungkinan kerjasama, di mana mereka akan menjadi perusahaan distributor yang akan memasarkan produk-produk biji plastik buatan perusahaan kami, PT. ABC Plastindo ke pelanggan-pelanggan yang terutama adalah perusahaan Jepang baik di Indonesia maupun di belahan negara yang lain.

Yang menarik adalah ketika mereka melakukan kunjungan ke pabrik kami yang sederhana, mereka sangat terkejut dan mengapresiasi akan keberhasilan kami dalam memproduksi beragam produk material untuk aplikasi yang terbilang sulit. Bahkan di negara asal mereka, Jepang, produk-produk tertentu hanya segelintir perusahaan ahli yang mampu membuatnya.

Kemampuan mendevelop produk-produk rumit ini yang membuat mereka semakin yakin untuk bekerjasama dengan kami. Keberanian untuk mengembangkan produk-produk baru adalah salah satu keunggulan layanan yang saya canangkan dari awal sebagai kekuatan bisnis perusahaan kami dibanding pesaing.

Memang ada harga yang harus dibayar, seperti kata pepatah “Pelaut tidak akan menemukan pulau baru jika dia tidak berlayar”. Proses development produk selalu ngeri-ngeri sedap, ngeri-ngeri karena usaha ini seringkali perlu pengorbanan biaya dan energi yang lumayan besar meski kadang harus menelan pil pahit kegagalan. Dan sedapnya adalah saat diperoleh market-market baru yang membuat kami memasuki samudera biru yang minim persaingan dengan margin keuntungan lumayan. Kemampuan development yang terus meningkat juga menjadi aset perusahaan yang bernilai.

Sayapun  teringat dengan kisah Virgin Air, perusahaan penerbangan milik Richard Branson, yang menjadikan pelayanan terbaik, sebagai salah satu kekuatan dalam memenangkan persaingan. Sebuah kisah legendaris tentang pelayanan pelanggan di Virgin adalah, ketika seorang penumpang kelas Executive Club, yang sudah duduk di pesawat jet jumbo Virgin untuk pergi ke New York dari London.

Tiba-tiba sang penumpang menyadari bahwa jas kulit kesayanganya tertinggal di lounge bandara. Ia buru-buru ke bagian depan pesawat dan bertanya apakah masih ada waktu untuk mengambilnya. “Maaf, Sir sudah terlambat,” jawab salah satu awak kabin. “Tetapi jangan khawatir. Saya akan sampaikan ke awak darat dan mereka akan mengirimkannya.” Ia kembali ke tempat duduk dan yakin takkan melihat jas kesayangannya lagi.

Setelah menempuh tujuh setengah jam perjalanan dan sampai di bandara JFK International New York, sang penumpang sangat terkejut ketika seorang petugas Virgin menemuinya di pintu pesawat dan menyerahkan jas kulitnya. Ternyata petugas telah menitipkan jas pada penerbangan Concorde yang menyalip pesawat Virgin 747 di atas Samudera Atlantik. Wow, mereka memilih menitipkan ke Concorde daripada ke penerbangan Virgin berikutnya.

Kisah pelayanan legendaris ini bahkan sering menjadi cerita idola, bahkan oleh para founder maskapai penerbangan baru. Di era ekonomi Indonesia yang penuh tantangan saat ini, sudahkah kita para pebisnis menemukan dan menerapkan jurus jitu untuk memenangkan persaingan? Kalau belum, mari kita ambil inspirasi dari kisah jas kulit dan Virgin Air, untuk memahami arti pelayanan yang sangat mengesankan pelanggan sebagai salah satu jurus andalan.

Mustofa Romdloni
Presiden TDA 4.0
www.abcplastindo.com

kolom/presiden/juni2015


Sebarkan berita baik ini