In Kolom Opini

Kantong Kiri Kantong Kanan

money
Koh Asan, begitu ia biasa disebut. Jarang yang tahu nama aslinya. Kalau di KTP, namanya sudah di alih-Indonesiakan menjadi Sandiawan Lukito. Sehari-hari, ia berdagang bahan-bahan industri logam. Puluhan tahun ia sudah jadi pemasok di usaha kami.

Bertahun-tahun kami berhubungan dagang, asik-asik saja. Saling undang. Saling traktir. Sampai suatu saat, muncul sedikit friksi. Bukan di antara kami, tapi antar staf kami masing-masing. Tahun 2002, banyak nota masih dibuat dengan tulisan tangan. Penjumlahan juga masih dilakukan secara manual, menggunakan kalkulator ala tukang beras. Wujudnya besar, tapi hanya mampu melakukan operasi hitungan tambah, kurang, kali dan bagi saja.

Seorang staf Koh Asan mengabarkan, bahwa terjadi kesalahan hitung dalam saah satu belanja kami. Jumlahnya tidak besar. Hanya Rp. 42.500,- saja. Mereka ingin menagih kekurangan itu. Repotnya, staf kami sudah membukukan pembelian itu. Pengubahan nilai akan mengubah banyak angka dalam buku. Ribut-ribut pun sampai ke telinga kami, sampai akhirnya kami berdua harus turun tangan. Pada intinya staf Koh Asan ingin menagih kekurangan karena salah hitung. Kami pun tidak keberatan membayarnya, tetapi dengan cara yang tidak merepotkan sistem pembukuan kami.

Akhirnya kami sepakat. Dibuat nota tambahan senilai Rp. 42.500,- kepada kami, dan kami membayar sejumlah itu.  Pertukaran nota tambahan dan uang dilakukan pada pembelian selanjutnya. Beres.

Tak lama setelah peristiwa itu, Koh Asan mengundang saya ke restoran favorit kami, Medan Baru di kawasan Krekot Jakarta Pusat. Makan berempat, Koh Asan harus membayar Rp. 215.000,- Di perjalanan pulang saya bertanya padanya.

‘Koh, tempo hari kita punya selisih belanja Rp. 42.000,- itu ributnya mirip orang berkelahi. Seminggu nggak selesai. Tapi sekarang, enteng sekali ngeluarin uang yang besarnya hampir lima kali lipat?’

‘Nah, soal ini dari kecil owe diajarin Papah. Business is business. Soal uang, nggak ada saudaranya,’ jelasnya dengan logat Tiongkok yang kental.

‘Jadi, uang harus dipisahkan dalam dua kantong. Kantong kiri dan kantong kanan. Kantong kiri untuk uang pribadi, kantong kanan untuk uang bisnis. Boleh dibolak-balik, tapi jangan dicampur. Jadi soal uang Rp. 42.000,- itu uang bisnis. Jadi harus ditagih sampai dapat. Banyak bisnis rugi gara-gara abai dengan uang-uang kecil ini. Roda pergerakan bisnis bisa terganggu jika hal ini tidak terlalu kita perhatikan,’ jelas Koh Asan.

‘Nah, hari ini kita makan menggunakan uang pribadi. Itu uang yang saya dapat dari penyisihan keuntungan bisnis yang saya lakukan. Mau saya apakan saja boleh karena ini tidak akan mengganggu pergerakan bisnis saya. Mau makan enak, mau diberikan pada orang lain atau dibuang pun, terserah saya!’ lanjutnya.

Aha. Saya tertawa kecil waktu itu. Betapa seringnya saya alami kesulitan karena hal-hal kecil yang ternyata pada hari itu saya temukan obatnya. Kantong kiri kantong kanan. Uang bisnis uang pribadi. Tidak boleh dicampur-aduk. Thanks Koh!

Zainal Abidin
Rektor Institut Kemandirian Dompet Dhuafa
Direktur Pengawasan dan Kepatuhan TDa