In Inspirasi,Peluang Usaha,Saran Ahli,Tips & Trick,Tips Bisnis

Keseimbangan

adit 3

Aditya Hayu Wicaksono
Direktur Keuangan TDA

Dalam suatu usaha, ada yang namanya penjualan, dari penjualan akan keluar untuk biaya-biaya seperti pembiayaan supplier, gaji, operasional kantor dan sebagainya. Dan itu biasanya tercatat yang namanya laporan keuangan. Dari laporan keuangan itulah kita bisa tahu kinerja perusahaan kita bagus atau tidak. Biasanya, sekali lagi saya tekankan, biasanya UMKM kuat dalam menjual, tapi tidak cukup kuat dalam hal laporan keuangan. Kadang mereka tidak bisa membaca laporan keuangan itu seperti apa, sehingga pada akhirnya biasanya UMKM akan mengalami kalah cash flow dalam bahasa saya. Dan itulah yang dimainkan oleh perusahaan-perusahaan besar ketika di lapangan mereka berhadapan dengan para UMKM. Para UMKM akan berperang dalam hal harga, mereka bisa menekan harga serendah mungkin, sehingga bisa bersaing. Biasanya para perusahaan besar akan mendiamkan saja, dan karena mereka tahu cara mengalahkan si “kecil” ini dengan cara capital.

Karena si “kecil” ini tidak memiliki modal yang cukup untuk bersaing dengan si “besar” sehingga seringkali mereka kalah di jalan karena kehabisan bensin. Kenapa mereka kehabisan bensin? Karena mereka tidak tahu bagaimana cara membaca atau bahkan tidak memiliki indikator apakah ‘bensinnya’ habis atau tidak.

Di suatu bisnis, kedua sisi, penjualan dan keuangan sangatlah penting. Kalau ditanya mana yang paling penting? Maka saya akan menjawab semuanya penting. Dan ini masih dua faktor, faktor yang lain ada yang namanya sistem. Dan itu adalah seperti sebuah orkestra yang bermain secara harmonis dibawah kepemimpinan seorang konduktor. Agar kita bisa menang dalam persaingan, maka kita harus memperkuat kelemahan kita. Kita tidak perlu menjadi seorang ahli finansial yang handal jika kita ahli di bidang marketing, dan sebaliknya. Yang kita lakukan adalah bisa menggaji orang, atau mungkin berpartner dengan orang yang bisa menutupi kelemahan kita.

Jika kita mendirikan sebuah bisnis, dan kalau kita mau besar, maka kita tidak boleh bertindak semaunya, atau mementingkan ego kita. Tuhan memberikan kita kebebasan sebebebas bebasnya. Kita diberikan pilihan, mau nikah atau tidak, mau minum juice atau miras, mau terjun ke air bersih atau lumpur, mau makan soto atau sate, dan lain sebagainya. Tapi Tuhan tidak memberikan kebebasan itu, maka dari itu Tuhan menurunkan kitab suci, agar manusia bisa berjalan di jalan yang Dia kehendaki, agar dunia ini bisa terjaga. Dan begitulah analogi sebuah perusahaan.

Kita pasti tahu sejarah seorang Steve Jobs yang dipecat oleh perusahaannya sendiri. Sebuah perusaahan besar seperti Apple, Samsung, Walt Disney, Unilever dan lain sebagainya adalah perusaahaan yang dimiliki oleh banyak orang atau pihak, karena itu yang bekerja disitu bahkan seorang CEO sekalipun akan bertanggung jawab terhadap pemegang saham. Jika bagus akan mendapatkan reward, jika tidak punishment pun menanti, bahkan jika CEO itu adalah pendiri perusahaan itu.

Kalau kita berniat ingin menjadi perusaahan sekelas Astra, semisal, maka kita tidak bisa sendiri. Mungkin bisa, namun jika kita analogikan, saat ini mungkin usaha kita seperti sebesar bangku kecil, yang bisa kita angkat dengan sendiri, lalu semisal perusahaan kita menjadi sebuah sofa, apakah kita bisa mengangkatnya sendiri? Mungkin bisa, namun harus dibantu beberapa orang, mungkin mereka adalah pegawai kita. Tapi jika perusahaan itu sebesar sebuah rumah? Gedung? Atau menara?

Bagaimana kita mengangkat beban sebesar itu? Kita tidak bisa sendiri.

Ini adalah teori saya, karena sebagai seorang manusia, dan seorang yang beragama, kita diajarkan untuk saling bersilahturahim, dan juga saling membantu. Kembali ke sisi perusahaan. Jika kita menggambarkan sebuah perusahaan itu ibarat rumah, dimana setiap rumah adalah yang namanya pilar, dan atap. Pilar pilar ini yang membuat rumah kita kuat.

balance1Inilah ilustrasi dimana selain penjualan, kekuatan kita juga ada di operasional, system, HRD, dan financial, serta yang lainnya. Pilar-pilar tersebut akan disinkronisasi oleh para manager. Dan eksekutif perusahaan yang menjadi konduktornya. Saya mendapatkan pelajaran yang berarti dimana saya bertemu dengan seorang CEO muda di sebuah perusahaan besar. Omset tahun kemarin mereka bisa mencapai 100 Milyar. Masih kecil jika dibandingkan perusahaan yang sejenisnya. Namun merupakan prestasi tersendiri buat perusahaan tersebut, karena sebenarnya target mereka 90 Milyard. Kata sang CEO, dia tidak melakukan apa-apa. Yang dia lakukan hanyalah memberikan tempat bermain dan berkreatifitas para managernya.

Para manager serta pegawai lainnya dibayar mahal serta diberikan jaminan kesehatan. Minimal di gaji UMR untuk pegawai sekelas driver. Dan hasilnya luar biasa, dan para professionallah yang bekerja, sedangkan CEO hanya sekedar memutuskan dan juga memberikan sedikit arahan. Jika arahannya salah, maka professional tersebut berhak memiliki pendapat. Itulah yang namanya rumah, dimana perusahaan dianggap sebuah rumah, sehingga mereka bisa bermain dan bekerja secara full professional. Sang punya rumah hanya menjaminkan kalau keluarganya akan aman, dan yang mengisi rumah bisa aman dan tentram.

UMKM harus bisa menjadi seperti ini. jadikan penjualan sebagai gas, dan keuangan sebagai rem. Dan ada kalanya kita nge gas, serta ada kalanya kita ngerem, yang mengatur itu adalah system. Jika perusahaan bisa seperti itu, maka akan terjadi keseimbangan. Saya masih tahap belajar agar perusahaan saya bisa seperti yang saya utarakan di atas.

 

Aditya Hayu Wicaksono
Direktur Keuangan TDA