In Inspirasi,Peluang Usaha,Saran Ahli,Tips & Trick,Tips Bisnis

Konsep Kemitraan Tradisional yang Abadi

Iim Rusyamsi Profile

Iim Rusyamsi
Majelis Wali Amanah TDA

Saat ini banyak peluang kemitraan usaha yang ditawarkan dengan berbagai konsep di media sosial, pameran, media cetak dan lain-lain. Konsep kemitraan modern yang ditawarkan adalah berbagai macam mulai dari waralaba, business opportunity, lisensi, investasi dan sejenisnya.

Pengertian kemitraan jika kita lihat di Peraturan Pemerintah no. 44 tahun 2007 adalah kerjasama usaha disertai pembinaan dan pengembangan dengan memperhatikan prinsip saling memerlukan, saling memperkuat dan saling
menguntungkan.

Banyak pola kemitraan dan waralaba yang ditawarkan namun ada banyak kemitraan dan waralaba tersebut hanya berumur sebentar, mereka tidak berjalan sebagaimana mestinya dan malah pemberi waralaba ada yang gulung tikar. Namun banyak juga pola kemitraan dan waralaba yang sukses.

Belajar dari pengalaman tersebut, kita mencoba melihat konsep kemitraan tradisional yang sebenarnya banyak berlaku di masyarakat usaha mikro dan kecil. Kemitraan tersebut dapat berjalan dengan cukup lama dan saling menguntungkan.

Saya pernah bertanya dengan seorang pedagang nasi goreng gerobakan, apakah ini usaha milik seorang bos atau miliknya sendiri. Ia menyebut bahwa ini miliknya sendiri namun ada seorang yang membantu dengan konsep kemitraan yang mereka anut.

Kemitraannya seperti apa? Para calon penjual nasi goreng gerobakan tersebut mendapatkan tawaran untuk
menjadi pedagang mandiri dari seorang yang menjadi mitra mereka. Mitra ini menawarkan gerobak dan tempat tinggal gratis. Para penjual nasi goreng tidak lagi memusingkan di mana mereka akan tinggal dan bagaimana modal usahanya.

Selain gerobak yang diberikan, untuk bahan baku berjualan nasi goreng yang juga tersedia mie dan kwetiau, disediakan oleh sang mitranya sehari-hari. Biasanya sang mitra ini selain menyediakan tempat tinggal juga memiliki warung sembako/kelontong.

Bahan baku untuk berjualan nasi goreng seperti nasi, mie, kwetiau, minyak goreng, kecap, krupuk, ayam, telur, sayuran, bumbu dan lainnya, disediakan oleh sang mitranya dengan konsep menjual. Mitra menjual kebutuhan berdagang nasi goreng tersebut, sang penjual nasi goreng tinggal membayar apa yang dibeli dari warung
mitranya. Sehingga tidak ada setoran, komisi ataupun bagi hasil kepada pemilik warung.

Bagi penjual nasi goreng yang baru berjualan, mereka akan dibimbing bagaimana memasak. Dan jika penjual nasi goreng tersebut belum mempunyai modal, mereka bisa membayar tempo sepulang dari mereka berjualan nasi goreng.

Konsep ini memiliki prinsip saling memerlukan, saling memperkuat dan saling menguntungkan. Si pemilik warung seperti mempunyai pelanggan tetap yang sudah pasti pembelinya dan penjual nasi goreng pun merasa tidak repot lagi harus pergi ke pasar dan tidak harus memikirkan tempat tinggal. Penjual nasi goreng pun mendapatkan bimbingan dan pengembangan dari mitranya juga dari rekan – rekannya sesama penjual nasi goreng.

Konsep kemitraan tradisional ini tidak hanya berlaku pada penjual nasi goreng, saya pun menemukan beberapa penjual seperti penjual bakso, mie ayam, penjual es doger, ketoprak, burger keliling, asinan dan lain-lain.

Terbayangkah kemitraan apa yang ingin dibangun dengan konsep tersebut pada tahun 2014 esok? Semoga menemukan ide tersebut sehingga dapat memberikan manfaat untuk orang lain dengan prinsip saling memerlukan, saling memperkuat dan saling menguntungkan.

 

Iim Rusyamsi
Majelis Wali Amanah TDA
Pemilik http://dokterkomputer.com
Follow http://twitter.com/iimrusyamsi