Sebarkan berita baik ini

lccSemenjak hari Minggu (28 Desember 2014) lalu masyarakat di Indonesia bahkan di dunia seolah-olah diaduk-aduk perasaannya antara khawatir, penasaran dan sedih atas hilangnya pesawat Air Asia QZ8501. Dan akhirnya kesedihan itu mencapai puncaknya saat kepingan pesawat dan beberapa jenazah ditemukan oleh Tim SAR Indonesia pada Selasa sore (30 Desember 2014).

Peristiwa ini melengkapi catatan buruk dunia penerbangan Indonesia setelah sebelumnya pesawat Adam Air, 2007 dan Sukhoi, 2012 yang juga mengalami kecelakaan. Semoga Air Asia QZ8501 adalah kecelakaan terakhir dan tidak akan terulang lagi. Aamiin

Meski demikian ke depan layanan penerbangan murah akan tetap berkembang dan diminati oleh konsumen. Hal tersebut diungkapkan pengamat penerbangan Dudi Sudibyo kepada Kontan.co.id seperti dikutip dari Kompas.com (30/12/2014).

Dudi mengatakan, “LCC (Low Cost Carrier) masih menjadi favorit masyarakat menengah ke bawah. Kalau kelas atas mereka pilih medium atau full service”.

Masih menurut Dudi, masyarakat Indonesia paham meskipun maskapai berbiaya murah pasti tidak mengabaikan keselamatan dan keamanan dalam operasionalnya. Karena sejatinya perbedaan maskapai berbiaya murah dengan maskapai full service hanya terletak pada layanan dan fasilitas yang ditawarkan penumpang.

Hal senada juga diungkapkan oleh Albert Burhan, Plt Direktur Utama PT Citilink Indonesia yang merupakan maskapai berbiaya murah yang dimiliki oleh Garuda Indonesia, yang juga meyakini insiden AirAsia QZ 8051 tidak akan menurunkan animo masyarakat terbang dengan maskapai berbiaya murah. Menurutnya, konsumen Indonesia cukup paham dan mengerti penyebab kecelakaan yang menimpa pesawat AirAsia.

Albert Burhan mengatakan, “Kalau melihat kejadiannya, mungkin akan berdampak sehari sampai dua hari saja, tapi ini tak banyak, karena sekarang musim liburan”.

Terutama pada saat musim liburan, maskapai berbiaya murah menjadi maskapai yang paling ramai menerima pesanan tiket. Bahkan, pemesanan tiket untuk maskapai berbiaya murah ini sudah terjadi sejak jauh-jauh hari sebelumnya.

Masih menurut Albert Burhan, “Saat ini, tingkat keterisian penumpang Citilink Indonesia melonjak hingga 85 persen – 90 persen”.

Untuk meningkatkan standar keselamatan dan rasa aman, Citilink berusaha mendapatkan standar keselamatan internasional seperti IATA Operational Safety Audit (IOSA). Perseroan ini juga berharap, dengan standar internasional, pihaknya bisa meyakinkan penumpang bahwa Citilink adalah maskapai yang selalu mengutamakan keselamatan penumpang.

Seperti diketahui saat ini PT Garuda Indonesia Tbk adalah satu-satunya maskapai Indonesia yang mengantongi izin IOSA.

Bisnis penerbangan berbiaya murah mulai berkembang di Indonesia sejak tahun 2000. Lion Group tercatat sebagai pioneer dalam bisnis ini menyusul kemudian Indonesia AirAsia dan Citilink Indonesia merangsek masuk.


Sebarkan berita baik ini