In Inspirasi,Peluang Usaha,Saran Ahli,Tips & Trick,Tips Bisnis

Pada Sebuah 'Kereta' Bernama TDA #PWChangedMyLife

Jay Teroris

Zainal Abidin
Direktur Pengawasan & Kepatuhan TDA

Bank Syariah Mandiri Building, jalan MH Thamrin, 27 Januari 2008. Acara Milad ke 2 Komunitas Tangan Di Atas. Saya duduk di kursi barisan belakang, walau kehadiran saya di situ sebagai undangan resmi. Seperti semut kecil di antara para dragon TDA. Saat itu saya hanya sebagai penonton di antara orang-orang asing yang nyaris belum satu pun saya kenal.

Undangan? Ya. Saya tidak tahu persis mengapa saya diundang. Yang saya tahu, komunitas ini pernah menggunakan salah satu ruang kelas kami di Institut Kemandirian di Jagakarsa. Saya yang memberi izin penggunaan kelas itu, karena sayalah Rektor di sana.

Kehadiran di acara ini saya anggap sebuah kehormatan. Untuk pribadi, dan untuk lembaga. Itu lah kali pertama, lembaga yang saya pimpin diundang di sebuah acara resmi. Masih segar dalam ingatan. Saya hadir di acara itu sejak awal, hingga akhir acara. Hanya keluar sebentar karena ingin cari kopi kesukaan saya di gedung sebelah. Satu mata acara bahkan saya adopsi untuk dilaksanakan di Institut Kemandirian. Wisuda Pengusaha.

Di atas panggung, para pembicara naik dan turun silih berganti. Pikiran saya terus menelaah dan melakukan analisis, berdasarkan apa yang saya lihat dan saya dengar. Dan saya pun sampai pada ketetapan hati. Inilah lembaga yang saya cari.

Pada saat staf saya mengajukan surat permintaan izin penggunaan ruang kelas tempo hari, ia hanya bercerita soal kegiatan yang bisa dilakukan bersama. Ia juga mengaitkannya dengan target-target yang dibebankan di pundaknya. Tapi ketika saya hadir di ruangan bersama para aktivis TDA, saya melihat sebuah visi besar, yang bisa dijalankan bersama. Mengentaskan pengangguran, dan menjadikannya sebagai pengusaha.

Proyek pertama kami adalah pelatihan keterampilan teknisi handphone di Pademangan. Dananya, saweran dari beberapa member. Yang saya ingat, Roni Yuzirman, Iim Rusyamsi dan Dede Syaefudin. Alat dan trainer dari Institiut Kemandirian. Awalnya 30 peserta ikut, tapi hanya 22 peserta yang bertahan sampai akhir. Hasilnya tak mengecewakan. Sebagian dari mereka sekarang sudah jadi teknisi handal, dan menjadi pemilik usaha sendiri. Keterampilan mereka berkembang. Dulu cuma jago stupid phone, kini segala merk smart phone pun mereka kuasai.

Usai melepas jabatan rektor di Institut Kemandirian, proyek ini masih terus kami jalankan. Beberapa teman TDA pun masih ikut saweran. Dana CSR dari sebuah bank mengucur cukup besar, dan seluruhnya kami gunakan untuk pelatihan yang sama, di beberapa wilayah ibukota bahkan sampai ke Bekasi.

Kini, di kepengurusan baru 2013-2015, Board of Director (BoD) komunitas Tangan Di Atas mencanangkan 10.000 pengusaha baru dari 100 cabang TDA. Sebuah visi besar untuk menjadikan bangsa ini bangsa yang besar. Tak sedikit yang meragukan. Tapi kereta api supercepat TDA sudah bergerak dengan mesin penggerak di setiap gerbongnya. Walau hanya menjadi bagian kecil, saya bahagia menjadi bagian dari perjalanan TDA dari masa ke masa.

*Ditulis khusus untuk menyambut Pesta Wirausaha TDA 2014 : #PWChangedMyLife

 

Zainal Abidin
Direktur Pengawasan dan Kepatuhan TDA
Headmaster SekolahMonyet.com
@jayteroris