In Inspirasi,Peluang Usaha,Saran Ahli,Tips & Trick,Tips Bisnis

Pembawa Pesan

Fauzi Rachmanto

Fauzi Rachmanto
Presiden TDA

Banyak orang yang mendambakan untuk dipimpin oleh pemimpin yang berpengetahuan tinggi. Sebagian orang mungkin lebih menginginkan pemimpin yang bermoral. Dan, ada juga orang yang senang jika bisa memiliki pemimpin yang memiliki fisik yang baik. Namun segala kelebihan tadi akan menjadi sia-sia, apabila sang pemimpin tidak dapat menyampaikan pesan yang jelas kepada yang dipimpin.

Tahun-tahun menjelang 1939 adalah masa yang sulit bagi Kerajaan Inggris Raya. Kemungkinan perang melawan Jerman sudah di depan mata. Dan pada saat krisis seperti itu, rakyat Inggris memerlukan figur kepemimpinan yang dapat membangkitkan optimisme mereka.

Pada tahun 1936, Raja George V yang dikenal piawai berpidato  mangkat, dan Tahta harus beralih ke Raja George VI. Ketegangan dengan Jerman semakin memuncak pada masa kepemimpinan Raja George VI, dan membawa kepada langkah yang tidak terelakan: Menyatakan perang.

Adalah tugas Raja George VI untuk mengumumkan pernyataan perang. Pada masa itu, pernyataan perang dilakukan melalui Radio, dan hanya bisa dilaksanakan secara langsung. Persoalannya adalah: sang Raja menderita kesulitan berpidato di Radio, karena gagap.

Bayangkan kesan seperti apa yang akan diterima oleh pihak Jerman, dan oleh Rakyat Inggris, jika mendengar Raja menyatakan perang dengan gagap. Dengan pantang menyerah Raja George VI berlatih khusus untuk melawan kegagapannya. Sebuah pidato pernyataan perang yang lancar dan sangat bertenaga pun berhasil disampaikan “Live” pada bulan September 2013.

Apa yang bisa kita pelajari dari hal ini? Mungkin sebagai pemimpin saat ini kita sudah merasa memiliki kemampuan, pengalaman, maupun pengetahuan yang lebih dari cukup? Atau merasa sudah menjadi pemimpin yang bisa menjadi panutan secara moral. Kesemuanya tadi akan percuma, manakala Anda tidak mampu menyampaikan pesan dengan jernih kepada “rakyat” Anda.

Di dalam perusahaan yang kita kelola, kita menjadi Pembawa Pesan. Nilai-nilai, visi, strategi, langkah taktis perusahaan, adalah berbagai pesan yang harus kita sampaikan sebagai pemimpin, secara terus menerus.

Berbeda dengan jaman Raja George VI yang hanya bisa menggunakan radio, kita beruntung bisa membawakan pesan dengan lebih banyak cara. Namun, bisa jadi kita masing-masing sebenarnya punya titik lemah, titik “gagap” kita sendiri dalam menyampaikan pesan. Apapun bentuknya.

Kejujuran dalam mengakui “titik gagap”, menyadari kekurangan dalam menyampaikan pesan. Justru akan menjadi titik awal yang baik untuk memperbaiki kemampuan kita sebagai Pemimpin. Pemimpin yang sadar perannya adalah menjadi Pembawa Pesan.

Fauzi Rachmanto
Presiden TDA
@fauzirachmanto