In ARTIKEL,Kolom Opini

Powerpoint Atau Manual.? Apa Kata Coach Fauzi

Gunakan “Powerpoint” Kalau Kamu Gak Punya Point.

Begitu kata salah satu kawan saya. Dan dia ada benarnya. Apakah karena slides yang ditampilkan melalui Powerpoint itu tidak bermanfaat?

Tentu bukan begitu maksudnya.

Saya termasuk penggemar tools buatan Microsoft ini. Dari sejak awal bekerja, saat diminta menyampaikan laporan, ataupun mengajukan usulan, aplikasi ini yang selalu saya gunakan.

Client coaching saya saat ini juga kebanyakan pengguna Powepoint kelas berat. Saat memaparkan progres dan hasil pengukuran project yang kami kawal melalui program coaching, slides nya bisa berlembar2. Plus disajikan indah dan mengesankan tampilannya.

Tapi tentu ujungnya yang diharapkan bukan hanya kesan, namun bagaimana kita dapat “mendaratkan” pesan dan membangkitkan proses kreatif di benak audience.

Disini kita akan menemui keterbatasan jika hanya mengandalkan Powerpoint. Karena manusia sulit untuk terpicu pemikiran kreatifnya kalau hanya melihat penggalan2 informasi sekilas pada slides.

Jeff Bezos bahkan ekstrim tidak mau lagi ada presentasi Powerpoint di meetingnya. Dia lebih suka Memo yang Naratif dengan kalimat2 lengkap.

Mungkin bukan salah alatnya, tapi bagaimana proses dan faktor manusianya.

Karena bagaimanapun kita sedang berkomunikasi dengan manusia. Punya rasa punya hati, jangan samakan dengan pisau belati … uwooo.

Slides adalah salah satu alat saja, seperti halnya Samurai dengan pedangnya.

Maka yg menentukan kemenangan tentu bukan hanya pedang. Tapi kelihaian Samurai menggunakan pedang, dan juga menggunakan seluruh sumberdaya disekitarnya untuk digunakan sebagai “senjata”.

Jadi saya setuju dengan Jeff Bezos. Saat Slides tak lagi menggugah maka saya akan manfaatkan segala sumberdaya yang ada, baik itu ruangan, cahaya, suara, dinding, gambar, dan tentu kekuatan Narasi.

Oh ya. Meski sama2 plontos gambar di bawah bukanlah Jeff Bezos, namun Wong Bejo yang Joss.

FR