In Inspirasi,Peluang Usaha,Saran Ahli,Tips & Trick,Tips Bisnis

S I G I T

Zainal Abidin

Zainal Abidin
Direktur Pengawasan & Kepatuhan TDA

Dia akrab dipanggil Sigit. Belasan tahun lalu, dengan susah payah ia lulus dari sebuah perguruan tinggi negeri di Jawa Tengah.  Bayangkan saja. Masa kuliah yang normal 4 tahun, ia selesaikan dalam waktu 8 tahun.  Indeks Prestasi, yang menjadi ukuran kelulusannya, maaf cuma 2,1 dari maksimal 4.

Dia akrab dipanggil Sigit. Dia adik kelas saya di Fakultas Peternakan. Dalam bahasa matematika, kami beririsan di satu nama, Joko Santoso.  Ketika itu, beliau adalah Pembantu Dekan I. Kami berdua bisa lulus dari Fakultas Peternakan atas campur tangan beliau. Bedanya, saya relatif cepat, Sigit lulus di injury time.

Dia akrab dipanggil Sigit. Ia memulai aktivitas sebagai pemulia kedelai sejak masih kuliah. Awalnya hanya ikut-ikutan, karena kakaknya adalah peneliti kedelai. Witing tresno jalaran soko kulino, kata pepatah Jawa. Seringnya berinteraksi, membuatnya jatuh cinta pada kedelai. Ia tidak lagi asal kerja. Aktivitasnya mulai diikat oleh satu visi besar. Menemukan bibit kedelai unggul.

Dia akrab dipanggil Sigit. Ia menyeleksi ratusan jenis bibit kedelai di tanah air. Dapat sekitar 70 varietas, yang memiliki keunggulan masing-masing. Mulailah ia melakukan pekerjaan gila!

Gila? Ya.  Pekerjaan yang dilakukan memang pekerjaan gila. Di lapangan, pembuahan kedelai umumnya terjadi secara alami, atas bantuan serangga atau angin. Tapi untuk mendapatkan varietas jenis baru, Sigit harus mengawin-silangkan satu varietas dengan varietas lain secara manual. Mengantarkan serbuk sari dari satu varietas ke putik varietas lain, dengan tangannya sendiri. Tanpa alat bantu!

Dunia pemuliaan (tanaman maupun hewan) bergerak di antara harapan dan ketidak-pastian. Tidak ada satu pun pakar yang berani memastikan, kapan satu bibit unggul didapatkan.  Bisa lima tahun.  Bisa sepuluh tahun.  Bahkan bisa jadi, si peneliti sudah meningggal, si bibit unggul belum ditemukan. Sungguh pekerjaan ’gila’. Tidak semua orang bersedia melakukannya …

Lebih gila lagi, karena untuk melakukan itu, tidak ada seorang pun yang membayarnya. Bahkan ia harus merogoh koceknya sendiri dalam-dalam. Total jenderal, ia sudah menghabiskan dana sekitar 300 juta, untuk mengembangkan satu varietas yang diberinya nama Mulyowillis. Ia temukan varietas ini, dalam waktu lebih dari 5 tahun. Inilah satu-satunya varietas kedelai yang sudah dipatenkan di negeri ini. Dan ia masih menyimpan beberapa varietas kedelai unggul lain di kepalanya.

Mulyowillis adalah bukti bahwa ketekunan bisa mengalahkan ketidakcerdasan. Sigit tahu persis, sulit baginya bersaing di dunia kerja, karena IP yang pas-pasan. Senjata ketekunan, yang jarang dimiliki oleh orang-orang cerdas di negeri ini, digunakannya secara efektif.

Zainal Abidin
Direktur Pengawasan dan Kepatuhan TDA
HeadMaster SekolahMonyet.com
Direktur Social Entrepreneur Academy Dompet Dhuafa