In Kolom Opini

Saya, Orang Samin dan Bob Sadino

Samin SurosentikoIstilah Samin saya dengar ketika seorang dosen memarahi kawan saya. Sebabnya, sang dosen menanyakan progres skripsi yang sedang disusun, dan kawan saya menjawab, ‘Sudah selesai pak.”Mana?”Belum di print pak.”Hey, kalau belum di print, skripsimu belum selesai. Jangan seperti orang Samin. Pemahamannya terbatas hanya mengerjakan sesuai yang diperintahkan. Diminta menyelesaikan skripsi, dipahami hanya sebatas selesai menulis. Tugasmu selesai pada saat draft skripsimu ada di meja saya!’

Sejak itu, yang ada di kepala saya tentang orang Samin adalah perilaku yang seenaknya, cenderung menyebalkan. Orang yang diundang untuk hadir di acara kerja bakti, dan hanya sekedar datang tanpa kerja apa-apa saya sebut orang Samin.Walau kemudian saya belajar lebih banyak soal budaya Samin, dan terbukti bahwa stigma itu tidak sepenuhnya benar, tapi untuk hal-hal tertentu, dalam bentuk olok-olok stigma itu masih saya gunakan.

Seorang teman pernah mengalami peristiwa yang sungguh lucu. Ia membeli sebuah rumah dua lantai. Setelah transaksi terjadi, si penjual tidak mau keluar dari rumah dan menetap di lantai dua rumah itu. Alasannya, ia hanya menjual lantai satu. Dasar Samin!

*     *     *     *     *

Bisa membayangkan perasaan ketika berhadapan dengan orang ‘Samin’ yang menyebalkan itu? Pilihannya tidak banyak. Pertama meninggalkannya. Kedua, mencoba mengerti. Dan ‘sialnya’ saya terjebak menerima orang seperti itu selama hampir dua puluh tahun. Orang itu adalah bapak Bambang Mustari. Beliau lebih sering dipanggil om Bob Sadino.

Pertama kali kenal, satu pertanyaan saya sudah cukup baginya memberi stempel ‘GOBLOK’ pada diri saya.  Waktu kuliah dulu, IP saya nggak jelek-jelek amat. Di antara teman seangkatan, saya lulus paling cepat. Betapa terpukulnya saya.

Dengan segera saya bisa meninggalkannya. Tapi panggilan teleponnya di sore hari menggoda saya untuk bertemu dan bertemu kembali. Dan berulang kali saya temui perilaku seenaknya serta aneka pernyataan yang menyebalkan orang yang mendengarnya.

Dalam sebuah diskusi panel soal kewirausahaan, beliau tandem dengan seorang motivator terkenal. Seorang peserta bertanya soal dream, atau cita-cita. Sang motivator bercerita panjang lebar soal dream. Saat giliran oom menjawab, singkat sekali. Aku nggak punya dream. Aku tidak punya cita-cita. Aku hanya melangkah dan melangkah. Selanjutnya, om bertanya pada sang motivator. Anda ke sini tadi naik taksi kan? Nanti saya antar sampai rumah naik Jaguar …  Skak Mat, pikir saya.

Itu lah om Bob. Seringkali antiteori. Tidak mau ikut mainstream. Saat banyak orang ribut membuat business plan, beliau bilang nggak pernah punya BP.  Pertanyaannya sederhana. Berapa banyak dari rencana yang anda buat, yang benar-benar anda laksanakan? Kalau hanya 10-20 persen, anda sudah membuang waktu dengan bekerja menyusun 80 persen tanpa pelaksanaan. Aku bisa gunakan waktu itu untuk bertindak. Bukan cuma mikir!

Sejak awal kenal, saya tahu persis bahwa om seorang perokok. Untuk kesehatannya, saya sangat berkeinginan agar beliau berhenti merokok. Tapi melarang om merokok hanya akan membuat saya diusir dari hadapannya tanpa kesempatan untuk kembali. Om selalu punya alasan untuk merokok dan merokok lagi. Dari tante, saya tahu kalau mau melarang om melakukan sesuatu, lakukan sebaliknya. Ahaaaa, ini kan juga mirip orang Samin.

Akhirnya, setiap kali saya bertemu om, baik di rumah maupun di Kemchicks Cafe, saya selalu bawa bekal sebungkus rokok. Dan benar. Rokok yang saya bawa tidak pernah dihisapnya. Disentuh pun tidak. Sejak itu, sampai akhir hayat beliau di 19 Januari 2015, saya tidak pernah lagi melihat om merokok. Om, saya suka gaya ‘Samin’ nya.

Tak akan ada lagi perintah om untuk membantunya mengoperasikan powerpoint ketika seminar. Tak akan ada lagi ajakan untuk menikmati Bakmi Gajah Mada di Pondok Indah Mal atau Bakmi Acin di Panglima Polim. Tak akan ada lagi yang memanggil saya dengan sapaan akrab Monyet. Dan tak akan ada lagi kata GOBLOK yang merdu dari mulut om dalam seminar-seminarnya. Semuanya telah menjadi kenangan indah tentang kebersamaan.

Zainal Abidin
Rektor Institut Kemandirian Dompet Dhuafa
Direktur Pengawasan dan Kepatuhan TDA
Headmaster SekolahMonyet.com