In Uncategorized

Strategi Produk Fashion Tetap Laris Saat Pandemi

Sosok Irsan Widyawan merupakan seorang businessman  yang mempunyai bisnis jaket kulit dan telah berdiri dari tahun 2010. Namun, pada saat itu masih bergabung vendor dengan orang lain dan pada tahun 2016 sudah mulai memproduksi sendiri. Sampai sekarang beliau sudah mempunyai karyawan sampai 17 orang dan sudah melakukan export ke berbagai negara, seperti Amerika. Namun, pasar domestik masih mendominasi. Narasumber lainnya yang bergabung dalam webinar kalini adalah Mutiara Adi P. yang memiliki bisnis fasion dimana beliau terinspirasi dari keinginannya untuk membuka bisnis khimar yang berbeda dari pada yang ada di pasar.

Berbagai macam market place telah mereka berdua masuki dan mereka menjual di berbagai sosial media. Irsan sendiri telah berjualan jaket kulit dari tahun 2010 melalui kaskus dan di lanjutkan dengan berbagai macam sosial media sampai sekarang. Bagi Mutiara sendiri, dalam penjualan khimarnya Ia melakukan teknik gathering yang di lakukan untuk tujuan memasarkan produk kepada masyarakat sehingga terjadi kedekatan antara brand dengan costumer. Sedangkan dari sosial media sendiri, Ia sudah menjalankan bisnisnya melalui Instagram dan Shopee. Sebelum pandemik, kedua narasumber telah memiliki market yang telah terbentuk. Selama pandemic ini terjadi ada beberapa hal yang dapat di lakukan untuk teknik marketing bisnis. Memang penjualan bisnis akan berkurang, namun sebenarnya kita bisa melakukan pemasaran melalui sosial media. Kita akan lebih bisa melakukan pemasaran secara organik yakni broadcast message melalui Whatsapp atau Facebook Messenger. Hal tersebut bisa terus dijalankan asalkan kita telah mempunyai market yang jelas sehingga penjulan akan masih bisa berjalan meskipun belum optimal. Dalam penjulan khimar yang dilakukan oleh Mutiara pun selama pandemic ini masih banyak penjulan, masih banyak produk yang sold out meskipun ada beberapa produk yang tidak seberapa terjual namun perlahan pun terjual.

Di sisi lain, data organik yang dapat di ambil melalui data base sangatlah berguna pada masa pendemi seperti ini karena kita dapat menjalin relasi yang baik dengan pelanggan kita dan dapat menawarkan produk kepada mereka. Selama pandemi, kita tentunya tidak bisa melakukan pemasaran offline. Kita dapat menggunakan strategi dari costumer relation dari data base untuk silahturahmi kepada pelanggan dan meningkatkan costumer service sehingga pelanggan lama dan calon pelanggan akan nyaman. Selain dari itu, kita juga  perlu untuk meningkatkan value produk, baik dari segi jahitan, bahan maupun design.

Bgi Irsan sendiri, penjualan jaket kulit melalui market place yang di lakukan nya bertujuan untuk engage potensi pelanggan baru. Dimana nantinya akan terjadi percakapan yang lebih dalam yang dapat di lakukan melalui Whatsapp atau aplikasi media sosial yang lain. Sedangkan bagi Mutiara dalam menjualan khimar, Ia merubah design untuk memangkas HPP namun masih menarik untuk para calon pembeli untuk membeli. Dalam menjual jaket kulit memang Ia tidak merubah design secara signifikan, tapi Ia memiliki pedoman bahwa design yang dibuat adalah timeless jadi sampai kapan pun masih tetap keren untuk di pakai dan dari bahan membuat produk memang dapat bertahan secara lama sehingga dengan harga yang dipatok, pelanggan tidak perlu untuk membeli di tahun depan atau dua tahun.

Penjualan khimar yang dilakukan leh Mutiara sendiri dilakukannya sesuai dengan signaturenya. Selama pandemi terjadi dan bersamaan dengan lebaran, Ia kemudian melihat itu sebagai kesempatan untuk penjualan produknya. Selama pandemi ini mereka berdua pun tidak sampai melakukan pengurangan pegawai. Bisnis memang berkurang, namun masih cukup untuk pembayaran pegawai. Hanya yang perlu diperhatikan yakni harus di pangkas biaya-biaya operasionalnya. Selain itu, mereka berdua pun dalam menangani permasalahan penjualan selama pandemi ini mereka akhirnya merubah cara bisnis mereka dengan cara Pre Order.