In TDA TV

TDA Club BuSer “New Normal New Property Management” bersama Andi Sangkuru

Pada akhir Juli tahun 2020, TDA telah sukses mengadakan salah satu webinar business sharing yang  bertemakan “Milenial dan Property” dengan mengundang Andi Sangkuru, CEO Rachmat Group, sebagai narasumber. Andik Sangkuru yang merupakan seorang CEO Rachmat Group yang lahir di Balikpapan dan sempat berkuliah di Australia selama 4 tahun. Namun, terjadinya krisis moneter yang menimpa Indonesia di tahun ‘98 mengharuskan beliau kembali ke Indonesia dan melanjutkan kuliahnya di Universitas Binus dengan mengambil jurusan ekonomi bisnis managemen. Setelah lulus, beliau kemudian meneruskan bisnis keluarga yang bergerak pada bidang property di Kota Balikpapan. Terdapat 3 bisnis perumahan yang telah beliau miliki yakni, Sepingan Pratama (luas 21 hektar) dan telah terjual semua unit, Permata Gading (luas 37 hektar) yang selesai 50%, dan Gading Pratama (luas 5 hektar) dengan beberapa unit yang telah terjual.

Sosok Andi Sangkuru pada awalnya memang tidak memiliki background dalam teknik sipil, sehingga bisnis yang dijalaninya saat ini merupakan ilmu baru yang didapatkan beliau dari orang tua. Beliau hanya menggunakan teknik managemen yang telah dipelajarinya dari kampus. Namun, perlu digarisbawahi bahwa dibandingkan dengan orang-orang yang berbisnis di unit kecil (sekitar 20 rumah), beliau cenderung berkecimpung pada kompleks perumahan yang cukup besar. Sehingga beliau merasa memiliki rasa tanggung jawab yang besar atas warganya. Beliau mengungkapkan bahwa wajib untuk beliau dalam memberikan faktor kenyamanan, keamanan, dan menerima keluhan warga jika terjadi sesuatu.

Dalam memulai bisnis properti, beliau menjelaskan bahwa perlu memperhatikan target market, omset awal, dan bagaimana cara marketing. Jika dilihat sebelah mata, bisnis properti ini awalnya terlihat sangat menguntungkan. Contohnya saja, kita dapat membeli tanah yang awalnya hanya 100rb/meter persegi bisa dijual kembali dalam beberapa tahun dengan harga sampai dengan 1jt/meter persegi. Namun, perlu diperhatikan bahwasanya untuk mengoptimalisasikan keuntungan, perlu diperhatikan 3 aspek yang telah disebutkan sebelumnya yakni, budgeting, marketing, dan target market.

Selain meneruskan bisnis property milik keluarga, Andik Sangkuru memiliki bisnis pribadi sendiri. Beliau memiliki kos-kosan dan beberapa café. Kelebihan dari bisnis properti yang dimiliki beliau, terlepas dari lokasi yang strategis dan keamanan yang ketat, juga memiliki fasilitas tambahan seperti sport center, fresh market, dan juga car wash. Namun, hal lain yang perlu diperhatikan dalam bisnis properti adalah tersedianya modal awal yang besar agar cash flow dapat berjalan dengan lancar, karena bisnis properti memerlukan kesabaran dan jangka waktu yang dalam meraih keuntungan. Karena orang-orang membeli rumah tidak secepat orang-orang membeli kendaraan atau barang-barang lainnya. Beliau sebelumnya juga pernah mengalami kasus cash flow pada tahun 2002-2004 yang memaksanya untuk menghentikan usaha sampai modal operasional kembali dan bekerja kembali.

Andik Sangkuru kemudian menjelaskan bahwa krisis yang terjadi saat ini berbeda dengan dahulu. Perbedaannya terjadi pada aspek keterbatasan ruang gerak. Sebagai pengusaha, penting untuk selalu memiliki ide terobosan agar marketing tetap berjalan dengan lancar, baik dengan cara online atau penyebaran brosur ke rumah-rumah.  Terlepas dari itu, selama pandemi ini, Bank Indonesia mem-black list beberapa pekerjaan yang tidak bida mengajukan KPR. Oleh karena itu, sebagai pengusaha properti wajib untuk selalu up to date dengan informasi yang berasal dari Bank Indonesia.

Pada sesi diskusi dengan Andik Sangkuru, terdapat satu pertanyaan yang menarik: pada masa ini bagaimana kita bisa menjaga para milenial untuk tetap menjadi customer sedangkan nilai rumah terus meningkat? Beliau menjawab, para pebisnis perlu melakukan inovasi ide dalam melakukan penjualan rumah seperti halnya dalam budgeting dan merubah desain rumah yang sesuai dengan milenial, seperti bisa menggunakan konsep industrial atau minimalis. Atau mungkin kedepannya dapat menggunakan konsep co-living (membeli hunian dengan orang lain). Pertanyaan selanjutnya yang menarik: bagaimana cara marketing yang baik untuk bisnis properti ini? Kata kuncinya ada pada pembagian tugas yang jelas antara tim marketing dengan tim sales. Tugas tim sales hanya menjual dan menerima pembeli. Sedangkan tim marketing ditujukan untuk meningkatkan pengetahuan dan awareness orang-orang terkait bisnis yang kita miliki dan get involved dengan bisnis kita. Perlu diperhatikan bahwa penjualan properti harus diutamakan dalam menjalin rasa kepercayaan antara customer dan produsen.

Ada 3 cara yang dapat dilakukan untuk sukses dalam menjalankan bisnis properti yakni, menaikkan omset bisnis, menurunkan biaya produksi, dan terakhir lakukan keduanya. Namun, yang perlu diperhatikan dalam bisnis ini adalah bisnis properti tidak akan bisa berjalan lancar tanpa adanya karyawan yang bekerja sama dalam mencapai tujuan perusahaan. Dalam usaha yang dilakukan oleh Andi Sangkuru, beliau berfokus untuk memakmurkan karyawan dengan membagikan profit sebesar 10% dari laba usaha kepada kayawan sebagai sebuah bonus.

Di akhir acara diskusi, Andi Sangkuru menuturkan bahwa melakukan bisnis properti bukanlah perkara yang mudah. Jangan mudah tergoda dengan keuntungan yang berlipat perlu diperhatikan omset atau modal kalian, memiliki target market yang jelas, dan sistem marketing yang aktual. Jika ketiga hal terebut dapat dilakukan, maka bisnis properti yang kita jalankan dapat berjalan dengan lancar. Selain itu, bisnis properti akan terus berubah-ubah mengikuti perkembangan zaman. Sehingga perlu untuk para pebisnis untuk selalu menambah wawasan kalian dengan apa yang terjadi saat ini dan terus melakukan inovasi.