Sebarkan berita baik ini

Menjadi Narasumber di Kemenperin

Mustofa Romdloni
Senior TDA Bekasi

Beberapa bulan lalu saya punya kisah yang kurang mengenakkan, yakni ketika dengan nada kesal saya menelpon seseorang (kita sebut si A), untuk membatalkan kontrak pemakaian jasa dari usaha dia padahal nilainya lumayan besar. Saya juga membatalkan sebuah rencana kerjasama dengannya yang sudah saya anggap sebagai teman, karena setelah berinteraksi beberapa bulan, saya nilai dia cukup baik dan bisa dipercaya, bahkan kemungkinan besar bisa dijadikan partner bisnis.

Mengapa saya batalkan dengan nada cukup kesal ? Karena belakangan saya tahu dia masih berfokus mengumpulkan uang (untung) yang sebanyak mungkin untuk dirinya, bahkan untuk sebuah proyek yang kliennya adalah saya sendiri, padahal saya memakai jasa dia, karena sudah saya anggap teman yang bisa dipercaya dan akan memberikan yang terbaik dari sisi harga dan kualitas. Sistem pengerjaan proyek yang dia rencanakan saya pun juga meragukan. Jadi pendeknya saya merasa diakal-akali. Saya relakan uang tanda jadi hangus, untuk menghindari kerugian yang lebih besar.

Dan semakin saya gali, semakin mendapat informasi bahwa orang-orang yang sudah menjadi klien dia, ternyata banyak kecewa oleh buruknya pelayanan dan janji-janji yang tidak sesuai, serta hasil yang tidak sebanding dengan biaya yang dikeluarkan. Yah, semua kekecewaan ini bertumpu dari keinginan si A untuk mendapatkan ‘untung uang’ yang besar dan cepat dalam proyek-proyeknya. Selain itu dengan kemampuan terbatas, tapi terlalu berambisi mengejar aset-aset baru yang lebih besar, sehingga pembayaran termin yang dia peroleh dari pelanggan, bukan digunakan untuk menyelesaikan pekerjaan untuk pelanggan itu dengan baik, tapi digunakan untuk mengejar aset baru, dan berakibat proyek-proyek sebelumnya jadi terbengkalai.

Sementara itu, seorang teman saya yang lain, yang kita sebut si B, bergerak dibidang yang tidak jauh berbeda dengan teman pertama di atas, punya prinsip dalam mengerjakan suatu proyek, adalah seperti membuat sebuah karya yang terbaik, sehingga bukan hanya para klien puas, dia selaku yang memperoleh pekerjaanpun memperoleh kepuasan.

Memang si B ini memperoleh marjin yang tidak terlalu besar dari setiap proyek yang dia kerjakan. Tetapi dia mampu membuat pelanggan merasa memperoleh hasil yang sebanding dan tidak di akal-akali, bahkan melebihi dari harapan, membuat mereka puas dan merekomendasikan supaya teman-temannya memakai jasa si B ini. Dan sampai sekarang teman saya ini selalu mendapat order yang terus mengalir. Dari usaha kecil non formal, akhirnya telah membentuk perusahaan, berkantor di ruko yang lebih layak, dan selain dari klien-klien perorangan, dia juga berhasil memperoleh order dari perusahaan-perusahaan besar.

Dalam jangka pendek, memang si A terlihat menghasilkan keuntungan yang besar, akan tetapi dalam jangka panjang, jika dipertahankan dengan sikap mental yang sama, maka bukan hanya bisnisnya tidak berkembang, tetapi juga akan masuk jurang kehancuran. Sedangkan teman pengusaha yang kedua, yakni si B, insyaAllah dalam jangka panjang akan terus berkembang.

Melihat cara bisnis si A, saya teringat satu kalimat bagus “Jika Anda menjadikan uang satu-satunya tujuan, Anda tidak akan mendapatkannya”. Ini adalah sebaris kalimat yang menjadi salah satu judul bab dalam buku The Richest Man in Town karya W. Randall Jones.

Uang hanya akan datang ketika Anda melakukan pekerjaan yang tepat dengan cara yang tepat, begitulah yang disampaikan Randal J. Kirk, pengusaha biotek, seorang milyarder yang juga adalah orang terkaya dari kota Belspring, Virginia.

Wow ternyata mimpi menjadi orang kaya dengan fokus mengejar uang ternyata bukan cara yang tepat dilakukan melalui jalur pengusaha. Karena ketika kita berbisnis dengan fokus untuk membuat kita kaya alias demi uang, maka, orang-orang bijak justru mengingatkan, hati-hati… karena hampir dipastikan Anda justru tidak akan mendapatkan sepeserpun!

Lantas di mana dong, posisi uang itu?

Secara jujur orang-orang paling kaya di kota mengakui bahwa saat mereka tumbuh dewasa, mereka ingin menjadi kaya, dan sering berangan-angan memiliki kelimpahan dalam hidup mereka. Sederhananya, mereka ingin merasakan kehidupan yang lebih baik daripada yang mereka nikmati saat muda dulu.

Akan tetapi dalam perjalanannya mereka yang sudah menempuh perjalanan panjang dan menghasilkan kekayaan berlimpah, justru mengingatkan bahwa jika kita semata-mata mencari uang dan berbisnis hanya untuk menjadi kaya, maka kita tidak akan merasakan kebebasan finansial sejati.

Kekayaan yang berlimpah lebih sering menghampiri mereka yang berfokus pada bagaimana menciptakan nilai substansial-produk atau layanan yang meningkatkan taraf hidup orang-orang, baru kemudian uang mengalir menuju mereka yang mampu melakukannya. Hanya dengan menciptakan nilai, maka mereka mampu menciptakan kekayaan yang signifikan.

Beberapa hari lalu saya membaca artikel dengan judul 11 kebijaksanaan yang mengilustrasikan bagaimana kekuatan, keteguhan dan kejeniusan Jack Ma, sang founder Alibaba. Salah satu kalimat penting yang Jack Ma sampaikan adalah “Jika perusahaan ingin berkembang, temukanlah peluang yang baik. Dan  saat ini, jika Anda ingin menjadi perusahaan yang hebat, berpikirlah tentang masalah sosial yang harus dipecahkan”.

Waktu itu kami meluncurkan PolyRub® yang akhirnya sukses, untuk menjawab persoalan, bagaimana membuat material selang gas elpiji yang murah, mampu diproduksi dengan mudah dan dalam waktu singkat dengan hasil banyak, berkualitas tinggi serta aman sesuai standar SNI. Untuk mendukung para peserta tender program konversi minyak tanah ke elpiji yang masih kebingungan, karena belum adanya material dengan spesifikasi tersebut. Dan Alhamdulillah, sejak kami luncurkan, antara 15-20 juta selang gas elpiji telah diproduksi menggunakan PolyRub® dan di distribusikan di Indonesia dan ekspor dengan berbagai merek.

Jika perusahaan kita belum berkembang dan menjadi hebat, ada baiknya kita renungkan nasehat Jack Ma di atas. Mungkin kita masih berfokus mengejar kekayaan sendiri, dan belum berusaha melayani lebih banyak pelanggan dengan memberi jawaban bagi masalah atau kebutuhan yang dihadapi oleh banyak orang. “Jika perusahaan ingin berkembang, temukanlah peluang yang baik. Dan  saat ini, jika Anda ingin menjadi perusahaan yang hebat, berpikirlah tentang masalah sosial yang harus dipecahkan”.

Mustofa Romdloni
MR Corporation
@tofazenith


Sebarkan berita baik ini