In Kolom Opini

To Sing the Same Song

corporate-cultureBeberapa bulan terakhir ini perusahaan saya dipercaya memasok bahan baku perusahaan-perusahaan dari dua grup besar di Indonesia.

Yang menarik adalah, para manajer perusahaan ini dengan jelas menginformasikan bahwa tidak diperbolehkan memberikan komisi, ataupun hadiah kepada siapapun dalam perusahaan tersebut. Mereka menjamin tidak ada biaya tambahan di luar biaya resmi yang telah ada, sehingga pemasok seperti perusahaan saya bisa memberikan harga terbaik.

Sayapun berpikir, ini dia salah satu budaya yang membuat perusahaan-perusahaan itu tumbuh besar, dan terus bertahan di posisi atas.

Seperti yang disampaikan oleh Arie de Geus, dalam buku The Living Company, yang menyimpulkan bahwa salah satu faktor yang menentukan kelangsungan hidup sebuah perusahaan adalah budaya perusahaan.

Pada akhirnya, budaya bukan hanya menjadi ciri sebuah perusahaan, bahkan mampu menjadi nilai-nilai kompetitif perusahaan, yang membuat usaha memiliki keunggulan dan mampu memenangkan hati pelanggan.

Dan “Sederhana tapi Dahsyat” ternyata telah menjadi salah satu budaya di perusahaan yang saya kelola, sehingga tim di perusahaan kami, terbiasa berpikir, bagaimana menemukan solusi dari beragam tantangan dalam perusahaan, dengan cara yang sederhana, paling sedikit mengeluarkan biaya dan energi. Tetapi menghasilkan solusi yang dahsyat alias yang terbaik untuk menjawab tantangan-tantangan perusahaan.

Dari budaya sederhana tapi dahsyat, akhirnya memunculkan produk yang diterima pelanggan dengan kualitas bagus, tapi memiliki nilai yang ekonomis. Di mana syarat kualitas bagus dan murah menjadi hal yang tidak bisa dihindari di jaman super kompetitif saat ini.

Keramahan pelayanan para pramugari di Singapore Airlines (SIA) adalah budaya, yang telah menjadi ciri untuk selalu di ingat para penumpangnya. Termasuk anak-anak saya yang sangat terkesan, ketika mereka diberi hadiah mainan oleh pramugari SIA.

Tidak mudah menemukan dan membangun budaya organisasi bisnis kita, dan saya pribadi, dalam lingkup organisasi usaha yang belum besar saja, masih harus terus berupaya untuk mencari, menerapkan dan memperbaiki. Karena budaya tidak bisa dibeli, tapi harus dibangun.

Bahkan Lee Kuan Yeuw, founding father Singapura pernah berkata “It took thirty years for the Singaporeans to sing the same song.”

Akhirnya, apakah kita sudah menemukan lagu yang tepat untuk organisasi usaha kita ? Lalu, mengajak semua tim kita untuk menyanyikan lagu yang sama, alias “to sing the same song” ?

 

Mustofa Romdloni
Presiden TDA 4.0
www.boschemindo.com