In Inspirasi,Peluang Usaha,Saran Ahli,Tips & Trick,Tips Bisnis

Menyiasati Harga Jual Produk di Tengah Tren Kenaikan Harga

priceDalam upaya mencari penghasilan karena semua harga kebutuhan naik dan malu menyandang predikat pengangguran. Pada suatu hari saya berkunjung kepada salah seorang pengrajin tasbackpack di Kota Bandung untuk melihat-lihat apakah ada produk baru. Oleh karena sudah 6 bulan saya tidak bertansaksi dan menyadari bahwa kenaikan bahan bakar minyak, kenaikan upah dan penurunan kurs rupiah sangat berpengaruh pada biaya produksi, maka saya menyapa sang pemilik dengan pertanyaan “Sekarang naik berapa % ?“ Bos Lie dengan tenang menjawab dengan santai “Masih sama.” “Berapa diskon untuk Aku?”. Bos Lie kembali menjawab “Sama.”

Saya sangat heran, sebab tarif bus kecil bewarna kuning jurusan Kampung Melayu Tanah Abang yang biasa saya pergunakan sudah naik Rp. 1.000 menjadi Rp. 3000. Kenaikan bahan bakar berarti menaikan harga barang-barang produksi lokal seperti risleting, busa, benang jahit adalah produksi lokal. Kain polyester dan nylon yang diperjualbelikan di Indonesia bisa dikatakan 100% produk impor, kalaupun ada produksi lokal bahan bakunya benangnya juga impor. Melemahnya kurs rupiah akan sangat berpengaruh pada kenaikan harga kain polyester dan nylon.

Saya lanjut bertanya mengapa harga tidak naik? Beliau berkata dengan santai “Emang harga bisa naik ? Kalo naik kita tidak bisa jual. Jika para pemimpin bangsa menganjurkan untuk mengencangkan ikat pinggang, maka saya melepasnya dan tidak lagi mengunakan ikat pinggang. Dengan demikian Saya masih bisa makan sampai kenyang, juga memberi makan anak dan istri para tukang jahit.” Kalimat yang sederhana namun mengingatkan saya akan sebuah buku tentang biografi Donald Trump yang pernah saya baca di Gramedia Semanggi.

Maksud ucapan Bos Lie sama dengan trik Donald Trump dalam menekan biaya pembangunan properti di Amerika ialah dengan mengurangi aksesoris atau spesifikasi yang tidak perlu, hindari ketergatungan akan suatu bahan baku, terus mencari bahan baku substitusi yang lebih murah dan ketersediaannya berlimpah.

Para pelajar yang ingin menanamkan rasa cinta dan perduli terhadap lingkungan dalam penyelenggaraan fashion show dengan bahan dasar koran dan barang bekas, maka pada proses produksi hindari memesan bahan baku kepada suplier tetapi selalu bertanya kepada suplier “Bos, saat ini Anda punya kain apa yang masih bisa Rp. 10000,- ”

Selain itu kiat Beliau untuk menekan harga ialah meminimalisasi sampah, dalam hal ini sampah adalah sisa bahan baku, produk cacat, produk retur. Masih segar ingatan saya ketika sedang membuat grafik pada laporan praktikum menggunakan kertas milimeter blok, karena kertas milimeter blok saya habis dan kebetulan grafiknya tidak terlalu besar, maka saya meminta sisa kertas milimeter blok dari teman saya. Namun ketika benar-benar tidak ada kertas milimeter blok yang tersisa, saya dengan panik membuat grafik dengan memanfaatkan ruang kosong di dalam kurva pada suatu grafik yang lain, dan itu sebabnya laporan saya disobek-sobek bukan oleh Om Tukul Arwana, tapi oleh Pak Dosen dan saya dimarahi dengan kata “Pelit”.

Pada proses produksi jangan sampai Anda membuang kain, bahkan sisa potongan kain yang kecil masih bernilai ekonomis. Istilah yang sering saya baca pada catatan kaki email atau tulisan pada kawasan industri “Reduce, Reuse, Recycle”. Sisa potongan kain ternyata masih bisa dimanfaatkan oleh industri lain. Dan sisa potongan kain yang besar akibat kesalahan pada proses cutting masih bisa dimanfaatkan untuk membuat produk yang lain.

Untuk meminimalkan produk cacat, buatlah perencanaan produksi yang matang meliputi tahapan produksi, tahapan inspeksi, prosedur penanggulangan pada setiap tahapan produksi. Jangan mengandalkan pemeriksaan akhir, karena nasi kalau sudah menjadi bubur, tidak dapat dijual sebagai Nasi Goreng, Nasi Liwet, Nasi Uduk dst.

Terapkanlah konsep Zero Accident seperti pada industri manufaktur/tambang atau “No Error No Mistake” pada kontes Top Chef Indonesia. Sungguh luar biasa seorang pengrajin tas backpack yang hampir berusia 60 tahun telah jauh melampaui standar pada ISO, atau buku panduan sertifikasi lainnya. Tidak heran pada saat itu saya menemukan ratusan tas backpack dengan logo bordir 3 Years Zero Accident pesanan salah satu perusahaan tambang asing. Tentu saja tasbackpack tersebut adalah bentuk penghargaan manajemen perusahaan tambang terhadap prestasi para pekerja tambang mereka.

Dewasa ini sistem titip jual masih banyak digunakan para pengrajin untuk memasarkan hasil produksi mereka kepada para pedagang baik grosir ataupun eceran. Salah satu akibat sistem titip jual adalah munculnya istilah”retur”. Retur disukai oleh pedagang namun tidak disukai oleh para pengrajin. Mengurangi sampah (barang retur) bukanlah aksi penolakan terhadap konsep titip jual, namun lebih pada membina komunikasi dan relasi dengan para pedagang. Contoh sederhana dengan komunikasi dan relasi dengan pedagang yang baik kita dapat menemukan fakta bahwa barang yang akan diretur oleh pedagang A ternyata merupakan primadona bagi pedagang B.

Intinya pada era krisis, ketika semua harga naik jika kita mampu melepaskan ikat pinggang dan mengurangi sampah maka kita tidak perlu terbangun sendiri dan lumpuhkan ingatan.

 

 

Denny (Backpaker dan Socialpreneur)

Whatsapp: 087888595888