Sebarkan berita baik ini

mustofa-romdloni

Pagi kemarin saya menyempatkan mengunjungi kantor pemasaran dan lokasi proyek perumahan yang perusahaan saya sedang bangun, yakni Margasari Regency di bilangan Karawang Timur. Saya pergi ke lokasi tersebut, karena beberapa hari sebelumnya mendapat laporan dari tim yang sedang galau, bahwa telah terjadi perubahan peraturan dari pemerintah, terkait harga rumah subsidi yang membuat para pengembang kelimpungan dan berimbas ke konsumen yang ikut kebingungan.

Bahwa per 1 Juli 2015, standar harga penjualan rumah kategori Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) diturunkan sekitar 15 juta rupiah per unit, alias didiskon belasan persen, dari harga awal. Pada kondisi unit yang sudah dipasarkan dengan kalkulasi harga lama, tentu kondisi ini cukup membuat kami harus memutar otak untuk memperoleh solusi bagaimana perusahaan bisa mengikuti aturan baru, tetap menghasilkan keuntungan yang cukup, dan konsumen bisa menerima dengan konsekuensi dari peraturan baru ini. Karena semua konsumen sudah membayar tanda jadi atau pembayaran di muka dan selanjutnya masuk ke tahap akad kredit dengan BTN.

Maklum, rumah program FLPP ini memang didesain sangat minimalis, dengan pembeli yang super sensitif juga terhadap harga. Pemotongan harga yang lumayan tersebut, tentu membuat margin pengembang tergerus, jika jumlahnya lebih dari seratus, maka kerugian bisa milyaran rupiah. Dari pada mengutuk pemerintah yang juga lagi susah. Kami memilih segera bertindak dan merumuskan beberapa strategi untuk mengatasi tantangan ini, seperti pengurangan ukuran bangunan, pembayaran tanda jadi yang bisa dicicil dan beberapa alternatif lain, yang harus dikomunikasikan dan dinegosiasikan kepada semua konsumen. Pekerjaan yang bakal lumayan seru memang, karena proses ini berpengaruh terhadap rencana proyek secara keseluruhan.

Dalam posisi ini, saya masih bersyukur, dibandingkan banyak pengembang yang berada pada posisi rumah sudah dibangun semua dan siap akad kredit di tanggal 1 Juli 2015 dan diserahkan ke konsumen, tiba-tiba diharuskan memotong harga jualnya.

Yang menarik dari kejadian ini adalah, bahwa dalam menjalankan bisnis, sudah jamak terjadi kondisi yang melenceng tidak sesuai rencana dan tidak seindah impian dan hitungan di atas kertas, apalagi kalau dibandingkan dengan kata kebanyakan motivator. Faktor eksternal seringkali tidak bisa di hindari.

Tetapi saya ingat ada juga motivator dunia yang keren seperti Zig Ziglar pernah menasihati ?Berharaplah hal terbaik, bersiaplah terhadap hal terburuk. Manfaatkanlah apa yang ada.? Dan hal ini senada ucapan seorang teman mas Witjaksono, yang cukup berani berekspansi ke banyak bisnis, lebih dari dua puluh usaha dan beberapa diantaranya sudah go public, dia punya prinsip ?Saya gak takut rugi atau gagal, soalnya dulu saya mulai juga dengan tidak punya apa-apa.?

Akhirnya, bisa kita pahami, bahwa menjadi pengusaha sudah harus siap dengan segala risiko, bahkan yang terburuk sekalipun. Meski resiko bukan untuk kita takuti, tetapi untuk kita kelola, sehingga dampak negatif bisa di tekan, dan dampak positif yang lebih kita peroleh. Kalau menurut T.P Rachmat, ?Perbedaan terbesar antar pegawai dan pengusaha terletak pada bagaimana ia mengelola ketakutan.?

Walhasil harus kita ingatkan kepada diri kita semua, bahwa kapanpun kita dihimpit problematika dan tantangan, tetap semangat untuk menyelesaikanya, dan apapun hasilnya tetap berpikir positif, karena dalam AlQuran, Yang Maha Kuasa telah mengatakan bahwa ?Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.?

MUSTOFA ROMDLONI
Presiden TDA 4.0
@tofazenith
mrcorp.co.id

kolom/presiden/juli2015


Sebarkan berita baik ini