Sebarkan berita baik ini

Grab Taxi vs GojekIni adalah perbandingan GrabTaxi dengan Gojek. Mengapa bukan GrabBike? Silakan lihat ulasan di bawah.

GrabBike muncul di Malaysia hasil rebranding MyTeksi yang sukses. Aplikasi-aplkasi menawarkan cara memesan taksi yang nyaman buat konsumen di Malaysia. Untuk diketahui, taksi di Malaysia tidak ada label atau brand seperti disini. Taksi di sana adalah berdasarkan perorangan. Karena tidak ada brand dan label akhirnya pelayanan menjadi terabaikan. Sudah sering ada hasil survey bahwa taksi Malaysia termasuk pelayanan taksi terburuk di seluruh dunia.

Aplikasi MyTeksi yang kemudian (disusul) di-rebrand menjadi GrabTaxi membuat konsumen bisa memperingkat dan memberikan feedback sekaligus membuat kenyamanan. Ojek di Indonesia mrip dengan taksi Malaysia dalam hal tidak adanya label, brand atau armada yang membawahi. Semuanya atas nama pribadi. Jikapun ada investor yang membelikan motor, tetapi tidak kordinasi rapi. Gojek menawarkan ini dan membuat pasar ojek terganggu. Mengapa masih banyak ojek yang menolak masuk Gojek? Karena tarif tawar-menawar bisa melambung melihat supply-demand, cuaca, situasi. Sementara GoJek punya tarif yang tetap berdasarkan km.

GrabTaxi tidak terlalu sukses di Indonesia, karena pelayanan taksi disini jauh lebih bagus. Beberapa armada taksi malah dapat merunut lokasi taksi yang menjemput. Armada mempunyai kordinasi dan customer service terpusat.

Gojek jika masuk Malaysia juga tidak akan sukses. Ini karena mode ojek motor tidak ada atau terbatas di sana. Lain halnya kalau masuk Thailand. Di sana perlu Gojek Motor dan…. Tuktuk (semacam bajaj).

Aplikasi yang disruptif tidak serta merta dapat diaplikasi ke tempat lain. Kesuksesan akan tergantung situasi sosial dan kulturalnya.

 

Yudanto Hendratmoko

kolom/member/juli2105


Sebarkan berita baik ini