Sebarkan berita baik ini

foto bersamaSeru, akrab, inspiratif. Itulah sebagian kesan member TDA Jaksel yang ikut acara ‘Halan-halan ke Bandung’ (jalan jalan. red). Ide wisata bisnis ini muncul spontan dari percakapan grup whatsapp TDA Jaksel dan langsung dieksekusi sekitar dua minggu sejak tercetusnya ide. Berkat solidnya komunitas kita, rencana itu bisa terwujud dengan dukungan kawan-kawan TDA Bandung.

Mengingat rencananya kami akan berkunjung ke tiga lokasi bisnis plus silaturahim dengan teman-teman TDA Bandung, maka kami berusaha berangkat sepagi mungkin dari Jakarta. Namun ternyata lalu lintas sepanjang perjalanan cukup padat, sehingga kami baru sampai di lokasi kunjungan pertama pukul 11, yaitu Paprika Lestari. Charlie Tjendapati, sang owner usaha pertanian organik itu sumringah menyambut kehadiran kami. Beliau langsung mempersilakan kami untuk beristirahat sambil menikmati kudapan khas hasil bumi di sana, yaitu rebusan singkong, ubi dan labu. Acara dilanjutkan dengan obrolan santai namun berisi.

Pertanian hidroponik

Kabocha & cabe

Paprika Lestari adalah sebuah usaha pertanian yang awalnya dibeli Kang Charlie dari seorang pebisnis agro yang nyaris pailit. Charlie sendiri mulai tertarik menjadi petani pada tahun 2012, ketika sudah merasa jenuh sebagai karyawan pemadam kebakaran dari sebuah perusahaan minyak terkemuka. Ia merasa, jika menjadi pemadam kebakaran, ia hanya mampu menyelamatkan orang setelah ditimpa kemalangan. Tetapi dengan menjadi petani, ia bisa menghasilkan sayuran yang bermanfaat bagi banyak orang supaya selalu sehat.

Memulai bisnis pertanian bukan perkara mudah bagi Charlie yang tak pernah punya pengalaman sebelumnya. Bermodalkan 50juta tabungan selama bekerja, ia menyewa lahan di daerah Ciamis dan ditanaminya kol ungu yang saat itu ia rasa menarik. Malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih, tanamannya busuk sebelum dipanen. Tetapi Charlie masih semangat. Didampingi Tessa sang istri tercinta, ia pun ganti menanami lahan itu dengan sawi hingga menghasilkan panen 200kg.

Hasil panennya dilirik oleh tengkulak. Dengan polosnya, Charlie dan Tessa menyambut penawaran tengkulak yang menawar sawinya Rp. 4.000/kg. Terbayang sudah 800.000 rupiah masuk kantong. Setelah deal, mereka pun membawa sawi ke tempat penimbangan yang jauh dari lokasi panen. Ternyata sampai di sana sang tengkulak mengatakan bahwa harga sawi anjlok jadi Rp. 1.000/kg! Sedih dan kecewa dirasa pasangan muda itu, tapi apa daya mereka hanya bisa pasrah menerima uang 200.000 dan harus jalan kaki pulang. Sejak saat itu, Charlie bertekad tidak akan menjual hasil panen ke tengkulak.

Dengan semangat baja, Charlie terus mencari cara agar sukses bercocok tanam. Ayah dua anak ini pun kemudian mulai mengembangkan pertanian hidroponik dan organik. Meskipun belum 100% organik, ia berusaha untuk membuat pupuk dan insektisida dari bahan-bahan alam, seperti kacang babi untuk mengatasi hama ulat dan bawang putih untuk mengusir jamur pada daun. Charlie juga menanam tanaman Kipahit atau Rondo Semoyo (Tithonia diversifolia) yang sebelumnya dibiarkan tumbuh liar sepanjang jalan. Bunga matahari mexico yang cantik berwarna kuning ini selain daunnya dikenal sebagai obat diabetes, ternyata juga ampuh sebagai pestisida dan penyubur tanaman.

Berkat fokus, ulet dan idealisme tinggi, Charlie Tjendapati kini sukses menjadi petani keren. Yang di masa sulit sempat menukar sayuran hasil panen dengan nasi dari tetangganya, sekarang ia malah mempekerjakan tujuh orang tetangga untuk membantunya mengelola lahan pertanian seluas 10 hektar. Omzet per bulan mencapai puluhan juta. Tak lagi harus jual ke tengkulak, Pizza Hut dan Carrefour justru menjadi langganan tetapnya dengan pembayaran cash.

Charlie membuka pintunya lebar-lebar jika ada yang ingin belajar pertanian hidroponik. Tak segan ia persilakan orang yang ingin belajar untuk mondok minimal sebulan di rumahnya agar bisa tuntas belajar sejak menanam hingga memasarkan hasil pertaniannya. Tak perlu risau soal biaya. Jika ada yang sungguh-sungguh ingin belajar, Kang Charlie tetap menerima dan mengajar dengan tulus.

Saat ini Charlie banyak diundang berkeliling ke penjuru nusantara untuk memberikan inspirasi dan pelatihan tentang agrobisnis hidroponik, mulai dari sekolah-sekolah, sampai ke berbagai institusi swasta dan pemerintah. Cita-citanya tak muluk. Ia hanya ingin agar pertanian di negri agraris ini kembali bangkit. Ia ingin agar petani Indonesia menjadi cerdas dan kompak. Menjadi petani bukan pekerjaan yang hina, bahkan sebaliknya menjadi berkah bagi banyak orang.

Sebelum mengajak berkeliling kebunnya, kang Charlie mempersilakan kami menikmati hidangan hasil panen olahan sang istri tercinta dan para tetangganya. Nikmat sekali, apalagi ditambah sensasi lalap selada merah yang kami petik langsung dari pot hidroponik organik. Di akhir kunjungan, kami berkeliling di lahan hidroponik. Masing-masing dari kami diberi oleh-oleh labu dan batang tanaman Kipahit yang siap ditanam. Terima kasih Kang Charlie, semoga usahanya terus membawa berkah.

oleh2

Dari Paprika Lestari, kami meluncur ke Cafe Vandel di kota Bandung. Cafe yang terkenal dengan sajian Bubur Mang Oyo ini menjadi tempat mangkal TDA Bandung. Sedianya kami ingin makan siang di sini sekaligus silaturahim dengan kawan-kawan TDA Bandung. Sayangnya karena kami kesorean sampai di sana, hanya sempat bertemu dengan kang Arif, kang Budiman dan mas Aris.

TDA Jaksel & TDA Bandung

Setelah istirahat sholat Ashar dan makan brownies es krim di Cafe Vandel, kami menuju EAP.co. Kang Eddy sang owner bisnis pakaian anak itu sudah menanti di depan rumah sekaligus outletnya di daerah Cimahi. Beliau langsung mengajak kami masuk dan berbagi cerita di ruang tamu rumah yang penuh sesak dengan berkarung-karung stok pakaian dagangannya.

EAP adalah brand yang diciptakan oleh Eddy Aji Purwanto, dengan inisial namanya. Menurutnya, kalau merek-merek luar bisa keren dengan nama foundernya, seperti Giorgio Armani, Christian Dior, dan lain-lain, kenapa lokal tidak bisa?

EAP co

Sebelum menekuni bisnis pakaian anak, Eddy bekerja di Telkom dan menciptakan bisnis MLM pulsa. Bisnisnya sempat berkembang menjadi holding company dengan berbagai bidang usaha. Usahanya membesar hingga memasukkan trilyunan rupiah ke kantongnya. Tapi tiba-tiba runtuh, 14 aset rumahnya terjual dan hanya menyisakan 1 rumah plus hutang 3 milyar.

Eddy pun galau dan mulai menarik diri dari bisnisnya. Ia memperbanyak ibadah di masjid sambil merenung dan mencari pencerahan dari beberapa mentor bisnis. Perlahan-lahan ia bangkit kembali dan dengan modal awal 6 juta rupiah, ia mendukung istrinya untuk berjualan pakaian impor bermerek terkenal dan fokus di baju anak. Menurutnya, bisnis baju anak tidak mengenal musim sehingga cashflow bisa lancar.

Berbekal pengetahuan di bidang informatika, Eddy mengoptimasi bisnisnya secara online. Ia membeli beberapa akun facebook dan instagram untuk meningkatkan penjualan, serta melakukan riset pasar. Seiring perkembangan bisnisnya, Eddy melakukan berbagai strategi. Untuk menekan biaya, Eddy berusaha mengalihdaya (outsourcing) beberapa mata rantai bisnisnya. Ia tidak punya pabrik, tapi bekerjasama dengan konveksi produsen baju anak bermerek terkenal untuk membuat pakaian dengan bahan dan desain yang sekelas dengan pakaian branded tetapi diberi nama brandnya sendiri, EAP.co.

Agar produknya cepat diserap pasar, Eddy tidak sekedar memproduksi apa yang ia mau, melainkan fokus pada apa yang diminta oleh pasar. Semua didistribusikan melalui website www.StokBaju.com. Tak ada reseller, distributor atau agen resmi.

Berfokus pada penjualan curah, Eddy memegang prinsip “Cashflow Tornado”. Tak mengapa untung hanya 1000-2000 per potong pakaian, asalkan volume penjualannya besar. Sekali transaksi, pembelinya bisa pesan minimal 2 lusin pakaian, dibayar tunai. Tidak ada sistem konsinyasi. Sehari ia mampu meraup omzet rata-rata 50 juta rupiah.

transaksi stok baju

Untuk mendukung kelancaran bisnis distributornya, Kang Eddy membuka kelas pelatihan penjualan dan online marketing di lantai dua rumahnya. Selain itu ia pun kerap diundang untuk berbagi inspirasi dan pengalaman di berbagai kota.

Hari mulai gelap, magrib pun menjelang. Kami sholat di Masjid Pondok Mas yang terletak tepat di seberang rumah EAP. Setelah sholat, diskusi dilanjutkan sambil makan nasi kotak di teras masjid. Kang Eddy masih bersemangat membagikan pengalamannya. Ia berpesan agar fokus dalam bisnis dan menjaga integritas serta kepercayaan partner bisnis dan konsumen.

penyerahan plakat

Rasanya waktu berjalan terlalu cepat saat itu. Kami belum sempat mengunjungi Evazonia.com yang seharusnya jadi target kunjungan ketiga. Sayang hari sudah malam dan kunjungan pun harus dibatalkan.

Meskipun sedikit kecewa, para peserta merasa senang dengan wisata penuh makna ini. Para pengusaha luar biasa yang kami kunjungi tak segan-segan membeberkan rahasia suksesnya. Semoga perjalanan ini tidak hanya menjadi kesenangan sesaat, tetapi bisa menginspirasi dan menularkan kesuksesan bagi bisnis para peserta wisata. Sampai jumpa di acara halan-halan TDA Jaksel selanjutnya.


Sebarkan berita baik ini