Sebarkan berita baik ini

Ada satu kesamaan dari mereka yang menyebut dirinya Pemimpin belakangan ini: mereka senang bicara. Dalam setiap kesempatan, mereka akan berbicara. Mereka berbicara di atas panggung, berbicara di depan televisi, berbicara melalui media cetak, berbicara melalui media sosial, bahkan berbicara melalui poster dan spanduk. Mereka berbicara tentang pengalaman hidupnya, berbicara tentang impian masa depannya, berbicara tentang prestasi yang sudah diraihnya. Intinya: berbicara tentang dirinya.

Benarkah kita membutuhkan Pemimpin yang banyak bicara? Atau justru kita lebih membutuhkan mereka yang mau mendengarkan?

Seorang Pemimpin dapat diibaratkan seperti seorang Konduktor dalam sebuah Orkestra. Konduktor bertanggung jawab atas mengalunnya komposisi musik yang dikumandangkan sebuah Orkestra. Tentunya, sebagai Konduktor, tidak dengan jalan memainkan sebuah alat musik. Sang Konduktor tidak perlu sibuk mengeluarkan bunyi apapun. Sang Konduktor bertugas memastikan bahwa pemain-pemain Orkestra yang lain mengalunkan alat musiknya dengan kemampuan terbaiknya, sesuai aransemen yang sudah dibuat sebelumnya.

Maka melalui gerak dan ekspresi nya seorang Konduktor memberikan isyarat, kapan para pemain membunyikan alat musiknya, bagaimana emosinya, seberapa kuat bunyinya, ataupun seberapa cepat temponya. Dan untuk bisa memberikan aba-aba tersebut secara akurat dan sesuai dengan jiwa dari komposisi yang dibawakan, maka yang dilakukan Konduktor adalah: mendengarkan. Bayangkan jika dalam bertugas Sang Konduktor tidak mau mendengarkan alunan musik yang tengah berjalan, maka aba-aba yang diberikan bisa berantakan.

Pemimpin yang hanya ingin berbicara dan berbicara saja, ibaratnya seperti Konduktor sebuah Orkestra yang ingin ikut membunyikan alat musiknya sendiri, dan tidak mau mendengar alunan musik yang dikumandangkan pemain yang lain. Mereka lupa bahwa peran sesungguhnya yang dibutuhkan oleh keseluruhan organisasi adalah, bagaimana Pemimpin tersebut “mendengarkan” dan kemudian memastikan bahwa semua anggota tim memberikan kemampuan terbaiknya dalam kerjasama tim yang harmonis. Seperti dalam sebuah Orkestra.

Dalam sebuah kesempatan Coaching yang pernah saya lakukan, ada seorang Pemimpin bisnis yang mengeluh pada saya, bahwa dia meragukan kemampuannya sebagai Pemimpin karena tidak punya kemampuan berbicara yang hebat. Dia tidak pandai bicara dan tidak terlalu banyak bicara. Namun, kinerja tim yang dipimpinnya sangat mengesankan. Saya mengamati bahwa rupanya justru sang Pemimpin ini punya kelebihan yang jarang dimiliki pemimpin yang lain, yaitu dia mampu menjadi pendengar yang baik, dan pandai mengajukan pertanyaan kritis yang membuat tim nya yang lebih banyak berpikir dan berani menyampaikan pendapatnya.

Pemimpin yang banyak mendengarkan di masa sekarang terbukti mampu menempa tim untuk tumbuh optimal. Karena tahu bahwa mereka didengarkan, maka tim yang dipimpin akan tumbuh menjadi tim yang mudah menyampaikan pendapat dan berani berinisiatif. Dan karena sang Pemimpin tidak terlalu banyak berbicara tentang dirinya, tidak banyak bercerita tentang “aku”, maka diskusi tim lebih hidup dan banyak bicara tentang “kita”.

Pemimpin yang demikian telah menjadi Sang Konduktor bagi tim nya. Tidak “bersuara”, namun membuat seluruh anggota menampilkan kemampuan terbaik, dan secara bersama-sama mengalunkan komposisi yang indah.


Sebarkan berita baik ini